Saturday, 9 May 2026
above article banner area

Aliran Pendidikan Behavioristik dan konstruktivisme

Hak cipta Indah Fitriani desainwebsite.net

Pada pembelajaran tradisional terjadi transfer pengetahuan “jadi” dari guru dan buku ke siswa sehingga guru yang aktif mengajar melalaui ceramah sehingga Tanya jawab diluar materi kurang berkembang, sedangkan pada konstruktivisme guru menyediakan pengalaman belajar untuk siswa yang aktif belajar membangun konsep secara bertahap berdasarkan “informasi” yang belum jadi bisa bersumber dari alam, internet, guru, buku, dll untuk kemudian siswa yang menyimpulkan konsepnya.

Teori belajar lebih luas dari aliran pendidikan, beberapa ahli yang medukung teor belajar konstruktivisme membentuk aliran pendidikan konstruktivisme, jadi aliran pendidikan merupakan teori yang diyakini kelompok-kelompok pendukung teori belajar tertentu.

Dalam pembelajaran konstruktivisme (yang sebenarnya sudah lama pengenalannya) terjadi pembelajaran interaktif dua arah antara guru dan siswa, dan antara siswa dengan siswa. Sedangkan pada pembelajaran tradisional terjadi interaksi satu arah dari guru ke siswa, yaitu guru sebagai sumber utama pembelajaran (uru sebagai instruktur mengacu pada behaviorisme) yang dapat dilangsungkan pengajaran (teaching instruction), menganggap bahwa anak seperti kertas puth yang siap ditulisi apapun (tabula rasa) oleh guru dimana transfer informasi kurang bermanfaat dan siswa tidak memiliki skill untuk menjalani tantangan kehidupan masa mendatang.

Sekitar tahun 1990-an telah dicanangkan oleh pemerintah CBSA (cara belajar siswa aktif), tetapi pelaksanaannya sering tidak tepat/tidak sesuai hakikatnya, kenyataan dilapangan siswa tidak aktif, sehingga kembali lagi ke pengajaran tradisional/ceramah. Sejak Ki Hajar Dewantoro menggulirkan tut wuri handayani, ing ngarso sung tulodo, ing madyo mangun karso, telah sesuai dengan pembelajaran kostruktivisme dimana guru memberi inisiasi materi, lalu guru sebagai fasilitator dan kemudian guru mempermudah siswa belajar. Elite pendidikan masih cenderung behaviorisme, walaupun pelaku pendidikan telah mengarah pada konstruktivisme/student centered. Sebenarnya sekolah berasrama sangat efektif, dimana proses belajar siswa sepanjang hari dikontrol. Kenyataannnya,, tidak mudah menguah pengajaran tradisional menjadi pembelajaran kondtruktivisme, jika belum terampil dan terbiasa cenderung memerlukan banyak waktu untuk penyelenggaraan  pembelajaran kostruktivisme, tetapi jika telah dibiasakan maka siswa akan terbiasa mengkonstruk konsep, misal Group Investigation. Konstruktivisme dapat diterapkan yang berdampak pada proses belajar siswa aktif dan hasil belajar berupa konsep dibangun sendiri oleh siswa dan siswa merasa dihargai karena idenya dikembangkan/tidak disalahkan. Respn output hendaknya sesuai aturan membangun kebiasaan berpikir kritis, sehingga orang setelah belajar menahsilkan produk belajar.

Behavioristik punya nilai positif  yaitu reward dan punishment dan bagus diterapkan sampai saat ini termasuk pada pembelajaran konstruktivisme. Hukuman harus segera diimbangi dengan reward sehingga kepercayaan diri anak terbangun, jika terus disalahkan siswa minder, tepatnya siswa diluruskan guru, misalnya jawaban  yang dihasilkan siswa kurang tepat bukan jelek, lalu dibimbing ke arah yang benar.

Aliran behaviorisme hanya menghargai produk besar sebagai hasil belajar, tidak menghargai proses belajar siswa, maka behaviorisme biasanya mengakses siswa dengan paper and pencil test, tidak menggunakan cheklist lembar observasi pengamatan dan perlu dipertanyakan apakah sudah mengukur kemampuan siswa memahami materi pelajaran. Dalam aliran behaviorisme sering dibahas tentang pujian dan hukuman, sebenarnya pujian tidak selalu berdampak positif tetapi perlu diperhatikan guru memuji siswa utuk tujuan apa dan frekuensi pujian jangan terlalu sering sehingga siswa merasa guru berlebihan. Aliran pendidikan behaviorisme merupakan kombinasi berbagai teori belajar antara lain teori Skinner yaitu pembeian stimulus terhadap siswa yang adaptable terhadap tuntutan lingkungan hidup dan kebutuhan biologis secara tepat.

Aliran behaviorisme tidak dapat mengukur konseptual, hanya mengukur pproduk yang baku misal 2×4=8, jika jawaban siswa tidak 8 maka siswa dikatakan belum belajar, artinya jawaban siswa harus sesuai dengan konsep guru/buku. Sesungguhnya bukti siswa sudah belajar ada peruahan kognitif, afektif (misal menghargai orang lain), psikomotorik.

Hukuman harus tepat sasaran misal siswa tidak menghapal teori tertentu, maka siswa diminta menuliskan teori tersebut dalam jumlah banyak. Supaya tidak melanggar HAM, sebelum siswa dihukum, perlu ditanya alasan mengapa siswa melakukan kesalahan tersebut lalu dipertimbangkan sangsi apa yang tepat bagi siswa.

Sebenarnya aliran pendidikan konstruktivisme diilhami oleh teori perkembangan kognitif (Vigotsky, Piaget, dan Bruner). Hasil dari penerapan aliran pendidikan konstruktivisme yaitu siswa memperoleh skill yang menjadikan siswa kritis dan kreatif serta profesional di masa depan, salah satu cara mewujudkannya dengan penerapan PBM (pembelajaran berbasis masalah) beraliran konstruktivisme.

Proses pembangunan konsep siswa dengan mengkonstruk konsep selama siswa mengalami pembelajaran beraliran konstruktivisme. Penekanan konstruk dengan pembentukan gagasan berdasarkan informasi yang diterima, keefektifan siswa, serta pembelajaran bermakna. Setelah pembelajaran mengkaitka dunia nyata dengan materi yang dpelajari yaitu muncul konsep baru, akomodasi, memahami konsepyang dipelajari saat itu (asimiasi dan akomodasi).

Pembelajaran beraliran konstruktivisme dapat diterapkan melalui pembelajaran kooperatif yang meningkatkan kemampuan sosial siswa. Dalam pembelajaran konstruktivisme tidak bisa sepenuhnya lepas dari materi, tapi perlu inisiasi berupa ceramah materi 15 menit di awal pelajaran, kemudian tahap inti siswa melakukan pembelajaran beraliran konstuktivisme

 

Pada pembelajaran konstruktivisme, alat evaluasi bisa berupa asesmen alternatif, asesmen kinerja, asesmen psikomotorik, asesmen autentik (semua indera siswa diakses); sedangkan pembelajaran tradisional biasanya dievaluasi melalui paper and pencil test.Perlu kreativitas guru dalam menyediakan pengalaman belajar, misalnya melalui pembelajaran kooperatif tipe jigsaw yaitu siswa dibagi kelompok ahli pada topic-topik subbab kompetensi dasar dan akhirnya semua siswa memahami materi pelajaran setelah presentasi tim ahli sehingga efektif untuksiswa membangun knsep. Teknisnya guru membatasi waktu diskusi, kemudian guru menyampaikan harapan supaya murid yang unggul mengajari siswa yang kemampuan rendah (tutor sebaya), selain itu perlu rambu-rambu diskusi sehingga terfokus dan tidak meluas, bisa dengan bantam worksheet dan hand out sebagai salah satu penunjang diskusi siswa.

Beberapa ahli teori belajar konstrktivisme yang pemikirannya sama bergabung membentuk aliran pendidikan konstruktivisme. Mata kuliah prasyarat hanya salah satu penerapan siswa membangn konsep bertahap dari yang paling dasar sampai mata  kuliah tingkat lanjut, dan dapat pula diartikan siswa secara bertahap membangun konsep berdasarkan pengalaman belajar, tidak langsung membentuk informasi “jadi”.

Share
below article banner

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *