Penilaian dilakukan secara menyeluruh yaitu mencakup semua aspek kompetensi yang meliputi kemampuan kognitif, psikomotorik, dan afektif. Kemampuan kognitif adalah kemampuan berpikir yang menurut taksonomi Bloom secara hierarkis terdiri atas pengetahuan, pemahaman, aplikasi, analisis, sintesis, dan evaluasi. Pada tingkat pengetahuan, peserta didik menjawab pertanyaan berdasarkan hapalan saja. Pada tingkat pemahaman, peserta didik dituntut untuk menyatakan jawaban atas pertanyaan dengan kata-katanya sendiri. Misalnya, menjelaskan suatu prinsip atau konsep. Pada tingkat aplikasi, peserta didik dituntut untuk menerapkan prinsip dan konsep dalam suatu situasi yang baru. Pada tingkat analisis, peserta didik diminta untuk menguraikan informasi ke dalam beberapa bagian, menemukan asumsi, membedakan fakta dan pendapat, dan menemukan hubungan sebab akibat. Pada tingkat sintesis, peserta didik dituntut merangkum suatu cerita, komposisi, hipotesis, atau teorinya sendiri, dan mensintesiskan pengetahuan. Pada tingkat evaluasi, peserta didik mengevaluasi informasi, seperti bukti sejarah, editorial, teori-teori, dan termasuk di dalamnya melakukan judgement (pertimbangan) terhadap hasil analisis untuk membuat keputusan.
Kemampuan psikomotor melibatkan gerak adaptif (adaptive moveÂment) atau gerak terlatih dan keterampilan komunikasi berkesinambungan (non-discursive communication) – (Harrow, 1972). Gerak adaptif  terdiri atas keterampilan adaptif sederhana (simple adaptive skill), keterampilan adaptif gabungan (compound adaptive skill), dan keterampilan adaptif komplek (complex adaptive skill). Keterampilan komunikasi berkesinambungan mencakup gerak ekspresif (expressive movement) dan gerak interpretatif (interÂpretative movement). Keterampilan adaptif sederhana dapat dilatihkan dalam berbagai mata pelajaran, seperti bentuk keteramÂpilan menggunakan peralatan laboratorium IPA. Keterampilan adaptif gabungan, keterampilan adaptif komplek, dan keterampilan komunikasi berkeÂsinambungan baik gerak ekspresif maupun gerak interpretatif dapat dilatihkan dalam mata pelajaran Seni Budaya dan Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan.
Â
Kondisi afektif peserta didik berhubungan dengan sikap, minat, dan/atau nilai-nilai. Kondisi ini tidak dapat dideteksi dengan tes, tetapi dapat diperoleh melalui angket, inventori, atau pengamatan yang sistematik dan berkelanjutan. Sistematik berarti pengamatan mengikuti suatu prosedur tertentu, sedangkan berkelanjutan memiliki arti pengukuran dan penilaian yang dilakukan secara terus menerus.
Â
Dalam laporan hasil belajar peserta didik, terdapat komponen pengetahuan yang umumnya merupakan representasi aspek kognitif, komponen praktik yang melibatkan aspek psikomotorik, dan komponen sikap yang berkaitan dengan kondisi afektif peserta didik terhadap mata pelajaran tertentu. Tabel berikut menyajikan berbagai aspek yang dinilai untuk lima kelompok mata pelajaran (sesuai PP no. 19 tahun 2005 pasal 64).
Â
Tabel 2 Aspek yang dinilai dalam berbagai mata pelajaran
Â
|
No |
Kelompok mata pelajaran |
Contoh Mata pelajaran |
Aspek yang dinilai |
|
1 |
Agama dan akhlak mulia |
Pendidikan Agama |
Pengetahuan dan sikap |
|
2 |
Kewarganegaraan dan kepribadian |
Pendidikan Kewarganegaraan |
Pengetahuan dan sikap |
|
3 |
Ilmu Pengetahuan dan |
Matematika |
Pengetahuan dan sikap |
|
 |
Tenologi |
Fisika, Kimia, Biologi  |
Pengetahuan, praktik, dan sikap |
|
 |
 |
Ekonomi, Sejarah, Geografi, Sosiologi, Antropologi |
Pengetahuan dan sikap |
|
 |
 |
Bhs Indonesia, bhs Inggris, bhs Asing lain |
Pengetahuan, praktik, dan sikap |
|
 |
 |
Teknologi Informasi dan Komunikasi |
Pengetahuan, praktik, dan sikap |
|
4 |
Estetika |
Seni Budaya |
Praktik dan sikap |
|
5 |
Jasmani, olahraga, dan kesehatan |
Pendidikan jasmani, olahraga, dan kesehatan |
Pengetahuan, praktik, dan sikap |
