Judul: BERLINDUNG DIBALIK INTELEKTUALITAS
Bahan ini cocok untuk Informasi / Pendidikan Umum bagian PENDIDIKAN / EDUCATION.
Nama & E-mail (Penulis): zulkarnain patunrangi
Saya Mahasiswa di palu sulteng
Topik: senat untad buntu
Tanggal: 10 Juli 2007
BERLINDUNG DIBALIK INTELEKTUALITAS
Sungguh membelalakkan mata siapa pun yang masih menaruh peduli pada dunia Pendidikan. Betapa amat kronis penyakit yang diderita dunia pendidikan. Penyakit itu bukan hanya pada ketiadaan kebijakan yang konsisten, yang selalu ingin mengganti baju tanpa membersihkan diri lebih dahulu, namun juga makin tumbuh suburnya praktik korupsi di dunia pendidikan.
Ketidakberesan pengelolaan keuangan di Universitas Tadulako yang memicu demo mahasiswa adalah fenomena yang hampir setiap tahun terjadi. Mereka menuntut pendidikan murah, tranparansi anggaran, akuntabilitas, dan tanggung jawab moral para pendidik. Yang tampak di permukaan hanyalah sebagian kecil dari kenyataan yang sesungguhnya dan ini terjadi di lembaga yang semestinya bertugas secara sadar dan terencana “memanusiakan manusia”. Membayangkan korupsi tumbuh subur di dunia pendidikan Tinggi adalah mustahil. Tapi itulah kenyataannya. Dan sekarang dalam proses pengadilan Negeri Palu.
Tak hanya Dewan Perwakilan Rakyat Daerah yang terhormat yang bisa membuat anggaran dobel. Di Perguruan tinggi, di samping mark up, kebijakan sepihak, pemasukan dan penggunaan dana yang tidak jelas, modus ini tak bisa dikatakan baru lagi, tapi sudah lazim terjadi, apakah akan berlanjut secara terus menerus?. Siapa lagi aktor utamanya kalau bukan Rektor. Uang yang semestinya dimanfaatkan untuk pencerdasan mahasiswa, pensejateraan dosen dan karyawan, justru mereka gunakan untuk memperkaya diri sendiri serta orang-orang terdekatnya.
Memang kalau kita melihat Anggaran pendapatan dan belanja perguruan tinggi sangat banyak, pendapatan bisa berupa sumbangan pendidikan (SPP), Biaya Operasional Pendidikan (BOP), APBD, APBN, Uang gedung/uang pangkal, hibah dari luar Negeri, Bantuan Alumni, kerjasama antar perguruan tinggi, kerjasama antara perusahaan dan dana sukarela yang berasal dari orang tua mahasiswa dan anggaran lain sebagainya. Memang dana-dana itu bisa masuk kapan saja. Karena dianggap sebagai dana yang berasal dari sumbangan “sukarela” sehingga bisa digunakan secara mana suka. Akibatnya, tak ada pertanggung jawaban pimpinan kepada pihak publik dan negara.
Dimana Peran Senat?
Pada hakikatnya perguruan tinggi mempunyai “senat” sebagai badan normatif yang ada, senat inilah yang seharusnya menjadi pengontrol akan kebijakan penggunaan yang terjadi sesuai dengan tugasnya. Dalam aturan PP 60 tahun 1999, pasal 41 poin d; memberikan pertimbangan dan persetujuan atas Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja universitas/institut yang diajukan oleh pimpinan universitas/institut; dan pada poin e; menilai pertanggung jawaban pimpinan universitas/institut atas pelaksanaan kebijakan yang telah ditetapkan. Lantas dimana suara mereka?
Dari aturan yang telah ditetapkan maka mutlak anggota senat untuk melihat dan memberi tanggapan atas apa yang menimpa Universitas Tadulako saat ini, keberadaan senat yang jaga sebagian besarnya adalah maha guru (profesor) selayaknya menanggapi secara obyektif dan tidak menilai secara subjektif. Hal inilah menjadi pertanyaan bagi masyarakat kampus pada kususnya dan masyarakat Sulawesi Tengah pada umumnya, dimana suara para guru besar, pimpinan fakultas & wakil dosen yang katanya mewakali civitas akademika? Apakah mereka yang mempunyai banyak title masih mendahulukan kepentingan pribadinya dan membelakangi tanggung jawab moralnya terhadap persoalan yang menimpa di lingkungannya? Semoga saja penulis beranggapan salah, akan tetapi inilah realita yang kita lihat, kondisi universitas memang mangalami penyakit kronis yang luar biasa akan tetapi, para ahlinya lebih memilih diam dan merasa tidak mempunyai tanggung jawab atas apa yang terjadi.
Seharusnya, hal ini tidak boleh terjadi. Mengapa? Karena yang mengawasi pimpinan adalah ahli dari berbagai disiplin ilmu yang mereka kuasai, ada ahli ekonomi, Hukum, sosial, politik, pertanian, rancang bangun dll. Mereka tiap hari, memberi komentar, masukan, saran, dan kritik serta tidak terlepas dari ide-ide cemerlang terhadap perbaikan Sulawesi Tengah pada khususnya dan perbaikan negeri ini pada umumnya. Komentar mereka tiap saat kita dengar dan kita baca pada berbagai media dari mereka yang mempunyai banyak gelar. Tapi, apa yang terjadi pada lingkungannya sendiri mereka menganti baju tanpa memperhatikan bajunya, apakah bersih, tidak robek dan lain sebaginya.
Tonggak reformasi sudah bergaung, nilai-nilai tatanan masyarakat kian hari bertambah maju, namun di satu sisi banyak penyalahgunaan wewenang sebagai makhluk yang lahir di muka bumi, idealis, dinamisasi membuat orang ingin derajatnya di tinggikan, akhirnya jiwa dan nafsunya bertabrakan, timbullah angkara murka baik itu korupsi, kolusi dan nepotisme merebak di mana-mana, sampai merasuki dunia pendidikan yang dianggap suci.
Mereka yang telah banyak memberi konsep-konsep terhadap negeri ini telah melupakan tanggung jawabnya dan asal mereka sebagai pendidik. Apakah intelektualitas, moralitas terhadap lingkungannya masih perlu untuk dipertanyakan? Apakah mereka tertidur ataukah telah di bius dengan janji-janji yang tidak pernah terealisasi? Ataukah mereka telah disirami dengan bumbu-bumbu yang berbunyi rupiah?. Krisis kepercayaan. Suara bisu. Menyalahgunakan kewenangan. Lupa aturan. Apakah hal tersebut yang menimpa para guru besar dan perwakilan masyarakat kampus dan meng-atasnamakan senat itu? semoga saja tidak. Sembari kita menunggu gebrakan dan unjuk gigi para guru besar kita, dalam memperbaiki citra pindidikan dan mengembalikan kepercayaan masyarakat kepada akademisi. Dan bukankah masyarakat akademik memiliki hak untuk menjalankan tugasnya tanpa diskriminasi, intervensi dan tanpa rasa takut akan adanya gangguan, larangan, atau represif dari mana pun. Dengan mendahulukan intelektualitas, moralitas dan kecerdesan yang menjadi patron pada perguruan tinggi, serta mengubur kepentingan politik golongan dan per-orangan, Ataukah kita harus melibatkan para orang-orang di luar kampus? Semoga tidak terjadi hal yang demikian dan kita berharap mereka tidak lagi bersembunyi di balik intelektualitas dalam mewujudkan dan mencerdaskan kehidupan bangsa. Masyarakat masih merindukan suara-suara akademisi yang jujur, cerdas, dan berani. Semoga bermanfaat**** Tulisan ini Dipublikasikan pada hari selasa, 10 Juli 2007 di Radar Sulteng
Saya zulkarnain patunrangi setuju jika bahan yang dikirim dapat dipasang dan digunakan di Homepage Pendidikan Network dan saya menjamin bahwa bahan ini hasil karya saya sendiri dan sah (tidak ada copyright). .
Arabiyatuna Arabiyatuna
