Judul: JANGAN SEKALI-KALI TERLIBAT GENG MOTOR
Bahan ini cocok untuk Informasi / Pendidikan Umum bagian PENDIDIKAN / EDUCATION.
Nama & E-mail (Penulis): Arief Achmad
Saya Guru di Bandung
Topik: Geng Motor
Tanggal: 25-10-2007
JANGAN SEKALI-KALI TERLIBAT GENG MOTOR
Oleh: Arief Achmad*)
KEMATIAN, itulah salah satu resiko yang mesti diterima mereka yang terlibat geng motor, sebagaimana menimpa Asep Surasep, warga Manjahlega Kel. Margacinta, Kec. Rancasari (PR, 13/08/2007). Resiko lainnya adalah cedera berat, cacat permanen, menjadi orang buruan, dihantui ketakutan terus-menerus, dan hidup dalam perasaan ketidaknyamanan.
Kebetulan lingkungan sekolah tempat saya bertugas berada di wilayah yang merupakan basis geng motor sebagaimana diberitakan media tersebut. Dalam lima tahun terakhir saya menjadi wali kelas di mana ada anak murid saya yang pernah menjadi anggota geng motor. Saya tahu itu setelah ia tidak pernah masuk sekolah atau kalaupun sekolah selalu “belang-beton”, sehari masuk sehari tidak. Setelah saya lakukan homevisit (mengunjungi rumah orang tuanya) dan bersama-sama guru BK memanggil anak yang bersangkutan, mulanya mereka (orang tua dan terutama anaknya) tidak mau berterus terang mengakui bahwa anaknya terlibat geng motor, namun setelah saya desak, keterusterangan mereka atau informasi yang mereka berikan sangat berguna bagi pihak sekolah dalam mengambil tindakan terhadap keberlangsungan sekolah anaknya, barulah mereka mau jujur bercerita, memang anaknya “pernah” menjadi anggota salah satu geng motor di kota Bandung, tetapi sekarang sudah keluar. Meskipun sudah keluar, anaknya itu masih juga dicari-cari dan dikejar-kejar anggota geng motor lainnya, paling tidak ia harus menyetorkan sejumlah uang kepada geng motor (dipalak). Dan itu harus rutin dilakukannya setiap hari, sehingga terkadang anak tersebut pulang jalan kaki atau ikut temannya karena sudah tidak punya lagi uang untuk ongkos angkot, naik becak atau ojeg.
Pernah suatu hari anak tersebut naik sepeda motor, anggota geng motor ramai-ramai mengejarnya dan dengan sadis selain merusak sepeda motornya juga mengeroyoknya. Akibatnya, dapat diduga, selain badan bonyok sepeda motor pun ikutan penyok. Para anggota geng motor itu selalu tahu kapan anak itu ke sekolah, dengan siapa, naik kendaraan apa.
Sesudah berkerjasama dengan petugas SATPAM sekolah, ternyata hampir setiap hari ada seorang anak kecil seusia kelas 4-5 SD yang terlihat keluyuran atau nongkrong di warung depan sekolah. Biasanya sesudah bel masuk berbunyi dia ngeloyor pergi, kemudian menjelang bel keluar dia datang lagi, kali ini dengan beberapa orang laki-laki dewasa yang usianya lebih tua daripadanya yang ditenggarai merupakan anggota geng motor. Kalau anak murid saya tidak masuk, begitu kata pak SATPAM, anak kecil yang merupakan mata-mata, spion, atau intel geng motor itu, hanya datang pada saat jam masuk sekolah saja dan tidak pernah datang menjelang jam keluar sekolah.
Ada perasaan ketakutan yang sangat luar biasa dari anak murid saya yang sudah keluar dari geng motor itu. Karena, katanya, para anggota geng motor sudah berikrar, semacam “dibai`at” atau “dibaptis” untuk sehidup-semati selamanya menjadi anggota kelompok itu. Apa-apa yang telah, sedang, dan akan dilakukan geng motor adalah rahasia bersama para anggotanya. Haram hukumnya bagi setiap anggota untuk membocorkannya. Apabila ini dilakukan, maka anggota tersebut akan terkena sanksi kelompok, yakni mirip yang dilakukan praja senior IPDN terhadap yuniornya, yaitu digebuki rame-rame; selain itu, juga harus menyetorkan sejumlah uang, untuk bayar denda atau semacam kafaroh (uang penebus dosa/uang tobat), katanya.
Anak murid saya yang sudah insaf dan keluar dari geng motor itu masih juga diincar oleh anggota-anggota geng motor karena dianggap “murtad” dari kelompok dan oleh karena itu harus menerima hukuman ala geng motor. Pihak sekolah menganjurkan, supaya ia dapat bersekolah dengan aman, maka ia supaya pindah sekolah ke luar kota yang tidak ada geng motornya. Sebab, selama bersekolah di Bandung, ia akan dicari dan dikejar-kejar terus oleh anggota geng motor, yang memang mempunyai jaringan di mana-mana itu.
Alhamdulillah, anak tersebut dan orang tuanya mau mengikuti saran-saran kami, dan pindah ke salah satu sekolah di sebuah kabupaten di provinsi Jawa Tengah (ikut dengan neneknya), dan baru-baru ini kami terima kabar dia sudah lulus SPMB.
Hikmah yang dapat dipetik dari sini, janganlah sekali anak-anak kita terlibat geng motor. Karena sekali ia menjadi anggota geng motor, maka ia tidak dapat lepas sama sekali darinya.
Pihak kepolisian hendaknya pro-aktif memberantas geng motor terutama memproses-verbalkan setiap tindak kriminal yang dilakukannya serta menangkapi aktor-aktor intelektualnya atau para godfathernya, karena para siswa itu hanyalah korban belaka. Sebab di kala mereka di usia remajanya membutuhkan pencarian identitas dan sarana mengekspresikan potensi dirinya, di saat itulah geng motor menyambanginya dan menyeret mereka kepada perilaku menyimpang.
Untuk itu, para orang tua senantiasa mengawasi aktivitas anak-anaknya, terutama pada waktu-waktu di luar jam-jam sekolah. Dan pandai-pandailah anak-anak remaja mencari teman dan sarana bergaul. Salurkanlah kepada hal-hal yang bersifat positif semisal kegiatan ekstra kurikuler di sekolah atau karang taruna, organisasi keagamaan, aktivitas olah raga dan seni, serta kegiatan bermanfaat lainnya.
*) Arief Achmad, Guru SMAN 21 Bandung.
Saya Arief Achmad setuju jika bahan yang dikirim dapat dipasang dan digunakan di Homepage Pendidikan Network dan saya menjamin bahwa bahan ini hasil karya saya sendiri dan sah (tidak ada copyright). .
Arabiyatuna Arabiyatuna
