Bahan ini cocok untuk Perguruan Tinggi bagian PENELITIAN / RESEARCH.
Nama & E-mail (Penulis): H.Sri Sulistyanto/Haris Wibisono
Saya Dosen di Semarang
Tanggal: 20 Oktober 2003
Judul Artikel: Rekayasa Keuangan:Refleksi Sikap Oportunis Manajer?
Topik: Behavior Accounting
REKAYASA KEUANGAN: Refleksi Sikap Oportunis Manajer?
(Dimuat di Seri Kajian Ilmiah, Vol.12/No.1/Januari 2003, ISSN: 0853-0707)
H. Sri Sulistyanto (sulis@unika.ac.id)
H. Hudi Prawoto (hudiprawoto@yahoo.com)
ABSTRACT
Asymmetric information between manajer and investor is motivator of earnings management. Manager is trying to fix his performace by income increasing with discretionary accruals, but it is impossible to be continued in post initial public offerings, so in that period company is underperformace. This study is proposed to find empirical evidence that company managers is opportunistic using discretionay accruals to report the perfoemance. This study uses the companies data doing initial public offerings in Jakarta Stock Exchange in the 1993-1995 periods. Besides issuer companies there are also non issuer companies to support additional evidence that issuers are also more aggressive in doing earnings management than non issuers. The result is managers are oportunistic by doing earnings management to fix their performance. This is proved the positive discretionary accruals value in the offerings period. The positive value is an indication that earnings management conducted by managers is income increasing. Another evidence indicated the issuer companies did earnings management more aggressively compared to the non issuer companies. Other evidence also supports the hypothesis that earnings management conducted by managers in long term cannot be continued and componies will underperfoemance.
Keywords: earnings management, opportunistic behavior,issuer and non issuer, underperformance
A. Pendahuluan
Asimetri informasi (asymmetric information) dan ketidakpastian pada saat initial public offerings (IPO) terbukti mendorong sikap oportunis manajer (opportunistic behavior) (Teoh et al., 1997; 1998; Chambers, 1999; DuCharme et al., 2000; Beneish, 2001). Kondisi tersebut disebabkan minimnya informasi yang dikuasai investor dibandingkan manajer perusahaan. Kesuperioran manajer dalam menguasai informasi tersebut memang memberi kesempatan dan memotivasi ;manajer untuk melakukan rekayasa keuangan (earnings management) dengan tujuan untuk menaikkan kesempatan mempunyai issue fully subscribed. Secara konseptual rekayasa keuangan dapat dilakukan karena sistem akuntansi akrual (accrual accounting) memungkinkan kebijakan manajerial dalam pengakuan waktu dan jumlah pendapatan serta biaya (Teoh et al., 1997; DuCharme et al., 2000). Chambers (1999) mencatat bahwa sikap oportunis tersebut merupakan sikap curang (fraud) manajer yang dilakukan dalam melaporkan kinerja dengan tujuan untuk menyesatkan investor dalam menilai saham yang ditawarkan. Bukti empiris yang ada menunjukkan bahwa rekayasa keuangan mempunyai pengaruh positif terhadap harga saham yang ditawarkan (Healy & Wahlen, 1998). Pada prinsipnya, rekayasa keuangan dilakukan dengan memilih prosedur akuntansi tertentu atau mengendalikan berbagai transaksi akrual, yaitu transaksi yang tidak mempengaruhi aliran masuk (cash flow) (DuCharme et al., 2000). Secara konseptual., transaksi akrual bisa berwujud transaksi nondiscretionary accruals dan discretionary accruals. Teoh et al. (1997; 1998) menggunakan discretionary accruals ini sebagai ukuran rekayasa keuangan sebagai proksi sikap oportunis manajer ketika melakukan penawaran perdana yang dilakukan dengan pola penaikan laba (income increasing). Penggunaan accrual ini dilakukan dengan menggeser pendapatan masa depan (future earnings) menjadi pendapatan sekarang (current earnigs) dan biaya sekarang (current cost) menjadi biaya masa depan (future cost), sehingga laba pada periode penawaran dilaporkan lebih tinggi dari yang seharusnya. Akibatnya, akan terjadi penurunan kinerja laba (underperformance) pasca penawaran, meskipun ada pertumbuhan penjualan dan pengeluaran modal yang tinggi (Jain & Kini, 1994).
Bukti yang ada menunjukkan bahwa penurunan kinerja sebagai akibat penggunaan discretionary accruals terjadi selama tiga tahun setelah penawaran (Teoh, et al., 1997). Bahkan untuk perusahaan yang menggunakan discretionary accruals secara agresif penurunannya lebih besar 20% dibandingkan perusahaan yang menggunakannya secara konservatif. Walaupun penggunaan discretionary accruals tidak saja dilakukan oleh perusahaan yang akan go public, namun perusahaan issuer (melakukan penawaran perdana atau go public) menggunakan discretionary accruals lebih tinggi dibandingkan perusahaan non issuer (tidak melakukan penawaran perdana) (Teoh et al., 1997).
Di Indonesia penelitian mengenai rekayasa keuangan telah beberapa kali dilakukan (Kiswara, 1999; Sutanto, 2000; Gumanti, 2000; Surifah, 2001; Nugraheni & Sulistyanto, 2002; Sulistyanto & Prapti, 2003). Kiswara (1999) berhasil mengidentifikasikan bahwa perusahaan publik melakukan rekayasa keuangan ketika mempublikasikan laporan keuangannya. Surifah (2001) membuktikan bahwa perusahaan yang menderita kerugian melakukan rekayasa keuangan lebih besar dibandingkan perusahaan yang memperolah keuntungan. Sedangkan Sutanto (2000), Gumanti (2000), dan Nugraheni & Sulistyanto (2002) menggunakan sampel perusahaan yang melakukan penawaran perdana untuk membuktikan bahwa perusahaan yang go public di Bursa Efek Jakarta (BEJ) melakukan rekayasa keuangan. Sedangkan Sulistyanto dan Prapti (2003) menggunakan perusahaan yang melakukan stock options untuk mengindentifikasi rekayasa keuangan tersebut. Maka atas dasar uraian diatas dan sejalan dengan penelitian Teoh et al. (1997) penelitian ini ingin menguji kembali bahwa manajer perusahaan bersikap oportunis melakukan rekayasa keuangan pada saat IPO dengan modifikasi sebagai berikut: (1) menggunakan periode yang lebih lama (lima tahun) dan (2) melakukan pengujian cross sectional untuk membuktikan bahwa perusahaan issuer melakukan rekayasa keuangan lebih tinggi dibandingkan perusahaan non issuer.
B. Perumusan Masalah
Teoh et al. (1997) menyimpulkan bahwa manajer perusahaan issuer bersikap oportunis melakukan rekayasa keuangan agar penawarannya direspon secara positif oleh pasar. Sikap oportunis ini “logis” dilakukan karena kesuperioran manajer dalam menguasai informasi dibandingkan pihak lain. Kesuperioran tersebut mendorong dan memotivasi manajer untuk bersikap oportunis dalam melaporkan kinerja yang dipublikasikannya. Namun sikap oportunis ini tidak dapat dilanjutkan pada periode-periode berikutnya, sehingga pasca penawaran perusahaan akan mengalami penurunan kinerja. Selain itu, secara teoritis, perusahaan issuer lebih agresif dalam melakukan rekayasa keuangan dibandingkan perusahaan non issuer, sehingga penurunan kinerja yang dialami perusahaan issuer pun cenderung lebih besar dibandingkan perusahaan non issuer. Maka atas dasar uraian di atas, permasalahan dalam penelitian ini dirumuskan sebagai berikut: Apakah manajer bersikap oportunis ketika melakukan penawaran perdana dan benarkah manajer perusahaan issuer lebih oportunis dibanding manajer perusahaan non issuer?
C. Tujuan Penelitian
Rekayasa keuangan (earnings management) pada saat penawaran perdana (IPO) dengan penaikkan laba (income increasing) merupakan fenomena yang “logis” sebab manajer lebih superior dalam menguasai informasi dibandingkan pihak lain. Kesuperioran tersebut mendorong dan memotivasi manajer untuk bersikap oportunis dalam melaporkan kinerja perusahaannya yang diwujudkan dengan melakukan rekayasa keuangan, yaitu dengan mengakui pendapatan masa depan sebagai pendapatan sekarang dan biaya sekarang sebagai biaya masa depan. Rekayasa ini walaupun sulit terdeteksi, namun akan terbukti pada periode pasca penawaran, yaitu terjadi penurunan yang cukup signifikan bahkan jika dibandingkan dengan perusahaan non issuer. Sehingga dari uraian tersebut penelitian ini bertujuan untuk mencari bukti empiris bahwa jika manajer perusahaan yang akan go public bersikap oportunis, maka akan terjadi penurunan penurunan kinerja pasca penawaran yang lebih tinggi dibandingkan perusahaan non issueryang tidak melak ukan penawaran perdana.
D. Telaah Literatur dan Pengembangan Hipotesis
Initial public offerings (IPO) merupakan penawaran saham suatu perusahaan private yang pertama kali kepada publik. Penawaran ini bertujuan memperoleh tambahan dana untuk membiayai dan mengembangkan usahanya (DuCharme et al., 2000). Pada saat melakukan penawaran perusahaan harus menyediakan prospektus yang berisi informasi keuangan dan non keuangan. Informasi keuangan terdiri dari neraca (balance sheet), laporan laba rugi (income statement), laporan arus kas (cash flow statement), dan penjelasan atas laporan keuangan (notes of financial statement). Sedangkan informasi non keuangan berisi informasi mengenai underwriter, auditor independen, konsultan hukum, nilai penawaran saham, prosentase saham yang ditawarkan, umur perusahaan, dan informasi lain yang mendukung (Broude, 1997; DuCharme et al., 2000). Informasi dalam prospektus tersebut dibutuhkan investor dalam proses pembuatan keputusan di bursa (Kim & Ritter, 1999). Informasi dalam prospektus tersebut akan memberikan gambara n mengenai kondisi, prospek ekonomi, rencana investasi, serta ramalan laba dan dividen yang akan dijadikan dasar dalam pembuatan keputusan rasional mengenai resiko dan nilai saham yang ditawarkan perusahaan (Firth & Liau-Tan, 1998).
Selama ini jarang ada media yang meliput kondisi suatu perusahaan selama tiga tahun terakhir sebelum perusahaan tersebut go public (Teoh et al., 1997, 1998; DuCharme et al., 2000). Sehingga investor cenderung menyandarkan diri kepada prospektus untuk mengetahui informasi dan menilai perusahaan yang go public tersebut. Sedikitnya informasi yang tersedia menyebabkan investor cenderung menyandarkan diri pada informasi yang dicantumkan dalam prospektus. Minimnya informasi yang tersedia di pasar tersebut mendorong dan memotivasi manajer melaporkan informasi yang menguntungkan dengan mempercantik laporan keuangannya (fashioning accounting reports) melalui permainan akrual untuk mengatur tingkat laba yang dilaporkan (DuCharme et al., 2000). Upaya ini sebenarnya logis mengingat manajer berkeinginan menaikkan kesempatan untuk memperoleh issue fully subscribed. Kenyataan adanya hubungan antara informasi akuntansi dan harga ekuitas pada saat penawaran mengarahkan pada anggapan bahwa perusahaan memiliki dorongan untuk melakukan manipulasi kinerja yang dapat meningkatkan penerimaan melalui pengaturan tingkat laba yang dilaporkan (earnings management) (Teoh et al., 1997; 1998).
Current accounting regulation memang memungkinkan perusahaan yang melakukan penawaran perdana mengubah beberapa prinsip akuntansi melalui restatement yang berlaku surut dalam laporan keuangan yang ditunjukkan dalam prospektus penawaran (Richardson, 1998; Chambers, 1999; DuCharme, 2000). Hal ini memberi kesempatan kepada manajer untuk bersikap oportunis, yaitu memperbaiki profil laba akuntansi pada tahun fiskal sebelum dan pada saat penawaran (Teoh et al., 1997; 1998). Sikap oportunis ini direfleksikan dengan melakukan rekayasa keuangan dengan menerapkan income increasing discretionary accruals. Rekayasa keuangan ini dapat dilakukan dengan tiga cara, yaitu: (1) pemilihan metode akuntansi tertentu, (2) merevisi perkiraan (estimation) tertentu, dan (3) mempercepat atau memperlambat pendapatan dan biaya. Apabila manajer menggunakan pemilihan metode akuntansi, maka kebijakan ini dengan mudah diketahui oleh pemakai laporan keuangan dalam prospektus. Sedangkan apabila dengan mengendalikan akrual, maka kebijakan ini sulit terdeteksi oleh pemakai prospektus tersebut. Sehingga manajer cenderung lebih memilih kebijakan rekayasa keuangan dengan mengendalikan transaksi akrual, yaitu transaksi yang tidak mempengaruhi arus kas (cah flows) (Friedlan, 1994).
Disisi lain, dilihat dari sudut pandang akuntansi, ada dua keterbatasan investor dalam menginterprestasikan laporan keuangan, yaitu, pertama, kriteria penyajian elemen laporan keuangan yang rentan terhadap kebijakan manajer. Sehingga manajer memiliki peluang untuk menetapkan rekayasa kebijakan, sebab akuntansi memang memberikan peluang bagi manajer untuk mencatat fakta tertentu dengan cara tertentu dan melibatkan subjektifitas dalam penyusun estimasi. Kedua, tidak adanya observasi yang sempurna, mengingat tidak semua kebijakan manajer dapat diobservasi oleh investor (Dechow et al., 1995; Richardson, 1998). Kedua keterbatasan investor itulah yang memberi peluang bagi manajer untuk lebih bersikap oportunis dengan mengelola laba demi keuntungannya sendiri (moral hazard). Sikap oportunis tersebut sebenarnya merupakan sikap curang (fraud) manajer yang diimplikasikan dalam laporan keuangan pada saat penawaran perdana, walaupun pasca penawaran manajer tidak mampu lagi melanjutkan sikap curangnya yang tercermin dari penurunan kinerja perusahaannya (Beneish, 2001). Sehingga meski dalam jangka pendek perusahaan mampu mempertahankan kinerja yang dilaporkan dengan lebih tinggi tersebut (overperformance), dalam jangka panjang penurunan kinerja akan tetap terjadi (Espenlaub, 1999). Bahkan penurunan kinerja laba tersebut tetap terjadi meskipun terdapat pertumbuhan penjualan dan pengeluaran modal yang tinggi setelah penawaran tersebut (Jain & Kini, 1994). Maka atas dasar uraian tersebut, hipotesis dalam penelitian ini dirumuskan sebagai berikut:
H1: Jika manajer bersikap oportunis, maka perusahaan akan mengalami penurunan kinerja pasca penawaran.
Namun jika akrual meningkatkan informasi laba akuntansi dalam periode sebelum penawaran dan current earnings menginformasikan tentang laba masa depan (future earnings), maka laba dan discretionay accruals yang tinggi pada saat penawaran diharapkan untuk terus mengikuti penawaran. Sehingga hipotesis alternatif yang diajukan sebagai berikut:
H1A: Jika discretionary accruals pada saat penawaran menginformasikan prospek pertumbuhan sesungguhnya, maka kinerja akan tetap tinggi pasca penawaran.
Walaupun penggunaan rekayasa keuangan tidak saja dilakukan oleh perusahaan yang akan go public, namun perusahaan issuer menggunakan discretionary accruals dan melakukan rekayasa keuangan lebih tinggi dibandingkan perusahaan non issuer yang mengaibatkan penurunan kinerja pasaca penawaran yang dialami perusahaan issuer pun lebih besar dibandingkan perusahaan non issuer (Teoh et al., 1997; 1998). Sehingga hipotesis kedua yang diajukan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
H2: Perusahaan issuer melakukan mengalami penurunan kinerja lebih tinggi dibandingkan perusahaan non issuer.
E. Metode Penelitian
1. Sampel dan Data
Data yang digunakan dalam penelitian ini berupa data sekunder yang diambil dari laporan keuangan (annual report) perusahaan yang melakukan penawaran perdana di Bursa Efek Jakarta (BEJ) dalam kurun waktu 1993-1995. Data yang dibutuhkan adalah prospektus penawaran dan laporan keuangannya yang dipublikasikan selama lima tahun berturut-turut setelah go public. Sampel penelitian yang digunakan harus memenuhi kriteria sebagai berikut:
a. Perusahaan yang masuk sebagai sampel dipilih dari perusahaan non lembaga keuangan. Pembatasan ini bertujuan untuk mengantisipasi kemungkinan pengaruh regulasi tertentu yang dapat mempengaruhi variabel penelitian.
b. Setiap perusahaan yang masuk sebagai sampel penelitian (issuer) disyaratkan mempunyai satu perusahaan pembanding (non issuer), sehingga jumlah issuer dan non issuer sama. Perusahaan dipakai sebagai pembanding jika mean total aktiva perusahaan tersebut tidak berbeda secara signifikan dengan mean total aktiva issuer pada periode penaawaran. Penggunaan perusahaan non issuer sebagai pembanding ini diperlukan jika kondisi ekonomi secara umum mengalami penurunan yang cukup signifikan (Teoh et al., 1997). Dari pengujian yang dilakukan dengan menggunakan one sample t-test diperoleh 41 sampel.
TABEL 1
Sampel Penelitian
Identifikasi Perusahaan Jumlah
Perusahaan yang go public 1993-1995 82
Perusahaan lembaga keuangan (6)
Data laporan keuangan tidak lengkap (27)
Tidak ada perusahaan pembanding (8)
Jumlah Sampel 41
Sumber: data sekunder diolah, 2003.
2. Definisi dan Pengukuran Variabel
a. Kinerja Operasi
Sesuai dengan penelitian Teoh et al. (1997) maka kinerja operasi dalam penelitian ini akan diukur dengan menggunakan rasio antara net income dan penjualan bersih (sales). Pemakaian dua item ini karena item ini secara langsung terpengaruhi oleh manipulasi manajemen. Penurunan kinerja akan diukur sebagai rata-rata kinerja dari tahun nol sampai dengan tahun ketiga. Sedangkan prospek pertumbuhan merupakan rata-rata perubahan kinerja tahun nol sampai tahun ketiga relatif terhadap tahun nol.
b. Akrual
Penelitian ini menggunakan discretionary accruals sebagai sikap oportunis manajer yang diwujudkan dalam rekayasa keuangan. Discretionary accruals merupakan selisih antara total accruals dan nondiscretionary accruals. Sedangkan total accruals merupakan selisih antara net income dan cash flow from operations. Total akrual dipecah menjadi komponen discretionary accruals dan nondiscretionary accruals dengan menggunakan modified Jones model (Dechow et al.,1995). Model ini dipakai karena merupakan model yang paling baik dalam mendeteksi rekayasa keuangan dan memberikan hasil paling robust (Guay et al., 1996; Teoh et al., 1997; Rajgopal et al., 1999).
AC = Net income – Cash flows from operations
Current accruals (CA) didefinisikan sebagai perubahan dalam noncassh current assets dikurangi perubahan dalam operating current liabilities atau dihitung sebagai berikut:
CA = D (current assets-cash) – D (current liabilities-current maturity of long-term debt)
Nondiscretionary current accruals (NDCA) merupakan accruals yang diekspektasi dengan menggunakan modified Jones model. Expected current accruals sebuah perusahaan ditahun tertentu diestimasi dengan menggunakan cross-sectional ordinary least squere (OLS) regression terhadap current accruals dan perubahan penjualan.
Nondiscretionaty current accruals (NDCA) dihitung sebagai berikut:
Dimana: = Estimated intercept untuk perusahaan i pada tahun t = Slope untuk perusahaan i pada tahun t
TAI,t-1 = Total assets pada periode t-1
DSales = Perubahan penjualan
DTR = Perubahan dalam piutang dagang
Discretionary current accruals (DCA) untuk sebuah perusahaan pada tahun tertentu dihitung sebagai berikut:
Untuk menghitung discretionary dan nondiscretionary long-term accruals (DLTA dan NDLTA) , harus menghitung discretionary dan nondiscretionary total accruals (DTA dan NDTA). Discretionary total accruals (NDTA) sebuah perusahaan ditahun tertentu dihitung meregresi total accruals (AC) sebagai dependen variabel dan gross property, plant, and equipment (PPE) sebagai additional explanatory variable.
Nondiscretionary total accruals (NDTA) dihitung sebagai berikut:
Dimana: = Estimated intercept perusahaan i pada tahun t = Slope untuk perusahaan i pada tahun t
PPE = Gross property, plant, and equipment
TAI,t-1 = Total assets pada periode t-1
3. Metode Analisis Data
§ Analisis Deskripstif. Analisis ini bertujuan untuk membuktikan bahwa pasca penawaran kinerja perusahaan akan mengalami penurunan. § Uji Statistik. Uji statistik dilakukan dengan menggunakan uji regresi dan uji beda. Uji regresi dilakukan untuk menguji apakah variabel independen (DCA, DLTA, NDCA, dan NDLTA) mempunyai hubungan yang signifikan dengan variabel dependen (rata-rata kinerja operasi selama tiga tahun setelah penawaran). Sedangkan uji beda digunakan untuk menguji apakah perusahaan issuers melakukan rekayasa keuangan lebih tinggi dibandingkan perusahaan non issuers.
F. Analisis Data dan Hasil
Seperti dalam penelitian Teoh et al. (1997), maka kinerja issuer dan non issuer dihitung selama enam tahun, yaitu dimulai dari periode penawaran (t) sampai dengan tahun kelima setelah penawaran (t+5). Penghitungan kinerja selama lima tahun setelah penawaran tersebut digunakan untuk melihat dampak penawaran terhadap penurunan kinerja issuer dalam jangka panjang (Jain & Kini, 1994; Teoh et al., 1997; 1998; Espenlaub, 1999). Hasil penghitungan kinerja issuer dan non issuer ditunjukkan dalam Tabel 2.
TABEL 2
Kinerja Issuer dan Non issuer
Tahun t t+1 t+2 t+3 t+4 t+5
Issuer
Mean 0.131 0.121 0.062 -0.094 -0.262 -0.146
Median 0.118 0.110 0.081 0.006 0.025 0.005
Non issuer
Mean 0.086 0.070 0.005 -0.151 -0.117 -0.163
Median 0.105 0.111 0.043 0.025 0.001 0.049
Sumber: data sekunder diolah, 2003.
Tabel 2 menunjukkan adanya penurunan kinerja issuer yang dimulai dari tahun pertama (t+1) sampai dengan tahun empat (t+4). Hal ini sesuai dengan penelitian Jain & Kini (1994), Teoh et al. (1997,1998), Espenlaub (1999), dan Beneish (2001) yang menyimpulkan terjadinya penurunan kinerja perusahaan issuer selama beberapa tahun setelah penawaran. Penurunan kinerja ini karena adanya kemungkinan manajer issuer tidak mampu melanjutkan rekayasa yang dilakukannya. Teoh et al. (1997) dan Beneish (2001) mencatat tingginya kinerja perusahaan issuer merupakan cermin sikap oportunis manajer. Tahun kelima (t+5) terlihat adanya kenaikkan kinerja yang terjadi karena kemungkinan adanya pertumbuhan penjualan atau pengeluaran modal yang tinggi. Kinerja perusahaan non issuer selama periode pengamatan menunjukkan juga menunjukkan pola menurun. Hal ini kemungkinan besar disebabkan dalam periode tersebut terjadi krisis ekonomi yang menyebabkan perekonomian nasional secara umum mengalami penurunan yang cukup signifikan. Namun demikian, mendukung penelitian Teoh et al.
(1997) penurunan kinerja yang dialami perusahaan issuer akan lebih besar dibandingkan perusahaan non issuer, karena secara teoritis rekayasa keuangan yang dilakukan perusahaan issuer pun lebih besar dibandingkan perusahaan non issuer. Teoh et al. (1997) mencatat bahwa discretionary accruals (DTAC) mampu menjelaskan penurunan kinerja issuer, sehingga penurunan kinerja akan diikuti penurunan discretionary accruals. Hasil penghitungan discretionary accruals ditunjukkan dalam Tabel 3.
TABEL 3
Discretionary Accruals Issuer dan Non issuer
Tahun t t+1 t+2 t+3 t+4 t+5
Issuer
Mean 15,339 212 -7,748 -121,589 -179,093 -141,482
Median 10,643 6,134 2,917 -10,310 -106,387 -43,768
Non issuer
Mean -5,797 -5,048 -30,444 -68,827 -176,267 -125,623
Median -3,173 -4,219 -9,353 -14,454 -35,292 -36,619
Sumber: data sekunder diolah, 2003.
Tabel 3 menunjukkan adanya penurunan discretionary accruals pasca penawaran perdana. Penurunan dimulai dari tahun pertama (t+1) sampai tahun keempat setelah penawaran (t+4). Sedangkan tahun kelima (t+5) terjadi kenaikan akrual yang sejalan dengan kenaikan kinerja perusahaan issuer. Hal ini konsisten dengan penelitian Teoh et al. (1997) yang mencatat adanya penurunan akrual selama enam tahun setelah penawaran karena manajer perusahaan issuer tidak mungkin lagi melanjutkan sikap oportunisnya. Untuk memastikan bahwa penurunan kinerja dan discretionary accruals perusahaan issuer dan non issuer akan dilakukan uji beda untuk memberi bukti tambahan bahwa perusahaan issuer melakukan manipulasi lebih tinggi dibandingkan perusahaan non issuer (Teoh et al., 1997; 1998). Bukti ini untuk mendukung pernyataan bahwa perusahaan issuer lebih agresif melakukan rekayasa keuangan terhadap kinerjanya dibandingkan non issuer. Bukti ini diperlukan jika dalam industri terjadi penurunan kinerja yang signifikan (Ritter, 1991; Teoh et al., 1997). Sehingga mempertimbangkan krisis ekonomi yang melanda Indonesia mulai pertengahan tahun 1997 (masuk dalam periode pengamatan) bukti ini sangat diperlukan dalam penelitian ini.
TABEL 4
Hasil Uji Beda
Issuer Non issuer
Kinerja
Mean 0.0555 0.0498
p-value 0.0013
t-value 1.650
DTAC
Mean 31,364.332 23,965.200
p-value 0.0001
t-value 1.5271
Sumber: data sekunder diolah, 2003.
Tabel 4 menunjukkan hasil uji beda rata-rata penurunan kinerja dan discretionary accruals perusahaan issuer dan non issuer yang membuktikan bahwa penurunan kinerja dan discretionary accruals perusahaan issuer lebih besar dibandingkan non issuer (p-value penurunan kinerja=0.0013 dan p-value penurunan discretionary accruals=0.0001). Jain & Kini (1994), Teoh et al. (1997), dan Espenlaub (1999) menyimpulkan penurunan kinerja issuer akibat rekayasa keuangan pada saat penawaran akan terjadi selama tiga tahun pasca penawaran, sehingga sesuai dengan penelitian tersebut penelitian ini akan mengukur penurunan kinerja sebagai mean kinerja tahun nol (t) sampai dengan tahun ketiga (t+3). Sedangkan prospek pertumbuhan merupakan mean perubahan kinerja tahun nol (t) sampai dengan tahun ketiga (t+3) relatif terhadap tahun nol (t). Kedua variabel ini merupakan variabel dependen yang akan diuji apakah dipengaruhi oleh variabel independen akrual.
TABEL 5
Hasil Uji Regresi
Variabel Independen Variabel Dependen
Penurunan kinerja Prospek pertumbuhan
DCA p-value 0.007** 0.430
t-value 2.856 2.099
koefisien 0.209 0.186
DLTA p-value 0.057* 0.913
t-value -1.966 -1.910
koefisien 1.322E-06 -8.983E-08
NDCA p-value 0.469 0.569
t-value -0.732 -0.575
koefisien -0.123 -0.117
NDLTA p-value 0.475 0.518
t-value 0.722 0.653
koefisien 0.170 -0.186
F 4.041 1.653
Sig. F 0.0080** 0.182
R Square 0.310 0.155
Sumber: data sekunder diolah, 2003.
Keterangan: ** : Signifikan pada level 0.05 (2 sisi)
* : Signifikan pada level 0.10 (2 sisi)
Tabel 5 menunjukkan variabel DCA dan DLTA (komponen discretionary accruals) terbukti ada dalam laporan keuangan perusahaan yang melakukan penawaran perdana. Variabel dependen penurunan kinerja memperlihatkan bahwa variabel DCA secara signifikan berpengaruh terhadap variabel dependen dengan tingkat kepercayaan 95% (p-value=0.007), demikian juga dengan variabel DLTA yang berpengaruh terhadap variabel dependen penurunan kinerja, tetapi dengan tingkat kepercayaan 90% (p-value=0.007). Pengujian terhadap model secara keseluruhanpun juga menunjukkan bahwa akrual secara signifikan mempengaruhi penurunan kinerja dengan tingkat kepercayaan 95% ((p-value=0.0080). Nilai koefisen DCA dan DLTA yang positif (0.209 dan 0.000001322) membuktikan bahwa rekayasa keuangan yang dilakukan manajer perusahaan issuer berpola income increasing. Sedangkan hipotesis alternatif secara parsial maupun keseluruhan ditolak.
G. Kesimpulan
Hasil penelitian ini mendukung hipotesis yang diajukan, yaitu jika manajer bersikap oportunis maka perusahaan issuer akan mengalami penurunan kinerja (underperformance) pasca penawaran sebagai akibat manajer melakukan rekayasa keuangan. Hal ini sesuai dengan penelitian sebelumnya yang menyatakan bahwa manajer perusahaan bersikap oportunis dengan menaikkan labanya (income increasing) (Jain & Kini, 1994, Teoh et al., 1997; 1998; Espenlaub, 1999, Beneish, 2001). Sikap oportunis ini muncul karena terjadinya asimetri informasi (information asymmetri) antara manajer perusahaan dengan investor di pasar. Sikap oportunis ini bertujuan untuk menaikkan harapan investor terhadap kinerja perusahaan dimasa depan dan menaikkan harga penawaran. Selain itu, penelitian ini juga berhasil membuktikan bahwa perusahaan issuer melakukan rekayasa keuangan lebih agresif dibandingkan non issuer yang dibuktikan dengan rata-rata penurunan kinerja dan discretionary accruals perusahaan issuer lebih besar dibandingkan non issuer. Perbandingkan kinerja ini juga untuk mengeliminir kemungkinan terjadinya penurunan kinerja karena penurunan kondisi perekonomian yang secara umum terjadi di Indonesia. Sehingga walaupun ada kemungkinan penurunan kinerja perusahaan issuer juga dipengaruhi krisis ekonomi yang terjadi di Indonesia, namun penurunan kinerja perusahaan issuer akan tetap lebih besar dibandingkan perusahaan non issuer.
H. Keterbatasan dan Saran
Ada beberapa keterbatasan dalam penelitian ini: (1) Penelitian mengenai rekayasa keuangan selalu menggunakan data yang cukup besar, baik untuk jumlah sampel maupun jangka waktu pengamatan, namun penelitian ini hanya menggunakan jumlah data sedikit (41 perusahaan dari 82 perusahaan yang go public dalam kurun waktu 1993-1995) dan periode pengamatan yang pendek, yaitu tiga tahun (1993-1995) yang disebabkan data keuangan perusahaan-perusahaan tersebut sulit diperoleh dan (2) Pemilihan perusahaan issuer dan non issuer dilakukan dengan perbandingan total aktiva sejumlah perusahaan issuer dengan sejumlah perusahaan non issuer, padahal dengan membandingan total aktiva satu perusahaan issuer dengan total perusahaan non issuer akan menghasilkan perusahaan pembanding (matched pair) yang lebih baik. Maka atas dasar keterbatasan tersebut, penelitian-penelitian selanjutnya mengenai rekayasa keuangan diharapkan memperbaiki kekurangan-kekurangan tersebut.
I. Daftar Pustaka
Beneish, Messod D., 2001, “Earnings Management: A Perspective”, Working Paper, April.
Broude, Paul D., 1997, “Going Public”, Journal of Management Consulting, 9 (3), Mei.
Chambers, Dennis J., 1999, “Earnings management and Capital Market Misallocation”, Working paper, Desember.
DeFond, Mark L., dan James Jiambalvo, 1994, “Debt Covenant Violation and Manipulation of Accruals”, Journal of Accounting and Economics, 17.
Dechow, Patricia M., Richard G. Sloan dan Amy P. Sweeny, 1995, “Detecting Earnings Management”, The Accounting Review, 7(2), April.
Dechow, Patricia M., 1994, “Accounting Earnings and Cash Flows as Measures of Firm Performance: The Role of Accounting Accruals”, Journal of Accounting and Economics, (18).
Firth, Michael, dan Chee Keng Liaui-Tan, 1998, “Auditor Quality, Signaling, and The Valuation of Initial Public Offerings”, Journal of Business Finance and Accounting, 25 (1 & 2), Jan./Mar.
Friedlan, J., 1994, “Accounting Choices by Issuers of Initial Public Offerings”, Comtemporery Accounting Research, Summer.
Hall, Steven C., dan William W. Stammerjohan, 1997, “Damage Awards and Earnings Management in The Oil Industry”, The Accounting Review, 72 (1), Januari .
Healy, Paul M., dan James M. Wahlen, 1998, “A Review of the Earnings Management Literature and Its Implications for Standard Setting”, Working paper.
Jain, Bharat A., dan Omesh Kini, 1994, “The Post-issue Operating Performance of IPO Firms”, Journal of Finance, Desember.
Kim, Moonchul, dan Jay R. Ritter, 1999, “Valuing IPO”, Journal of Financial Economics, 53.
Kim, Jeong Bong, I. Krisky dan J.Lee, 1993, “Motives for Going Public and Underpricing: New Findings From Korea”, Journal of Business Financial and Accounting, 20(2), Januari.
McCulloch, Brian W., 1998, “Relation Among Component of Accruals Under Earnings Management”, Working paper, September.
Morris, Richard D., 1987, “Signalling, Agency Theory and Accounting Policy Choice”, Accounting and Business Research, Vol.18, No.69.
Nugraheni, Linggar Y. , dan H. Sri Sulistyanto, 2002, “Earnings Management: Benarkah Memprediksi Penurunan Kinerja Pasca Penawaran”, Jurnal Manajemen, Vol.1/No.2/September.
Perry, Susan E, dan Thomas H. William, 1994, “Earning Management Preceding Management Buyout Offers”, Journal of Accounting and Economics, 18.
Richardson, Vernon J., 1998, “Information Asymmetry and Earnings Management: Some Evidence”, Working paper, 30 Maret.
Ritter, Jay R., 1991, “The Long-run Performance of Initial Public Offering”, Journal of Finance, XLVI (1).
Sulistyanto, H. Sri, 2002, “Analisis Manajemen Laba Pada Saat Initial Public Offerings: Indikasi Sikap Oportunistik Manajemen”, Tesis, Program Pasca Sarjana UGM.
Sulistyanto, H. Sri, dan Meniek S. Prapti, 2003, “Stock Options: Benarkah Mendorong Eksekutif Oportunis”, Jurnal Akuntansi & Bisnis, Vol.1/No.1/Maret.
Sweeney, Amy Patricia, 1994, “Debt-covenant Violations and Managers Accounting Responses”, Journal of Accounting and Economics, 17.
Teoh, Siew Hong, T.J. Wong, Gita R. Rao, 1997, “Are Accruals During An Initial Public Offering Opportunististic?”, Working paper, Juli.
Teoh, Siew Hong, Ivo Welch, dan T. J. Wong, 1998, “Earnings Management and The Long-Run Market Performance of Initial Public Offerings”, The Journal of Finance, LIII (6), Desember.
Saya H.Sri Sulistyanto/Haris Wibisono setuju jika bahan yang dikirim dapat dipasang dan digunakan di Homepage Pendidikan Network dan saya menjamin bahwa bahan ini hasil karya saya sendiri dan sah (tidak ada copyright). .
Arabiyatuna Arabiyatuna
