Pemberlakuan muatan lokal lingkungan hidup di Jawa Barat belum efektif menggugah kesadaran siswa akan persoalan ekologis, khususnya terkait bencana yang disebabkan kerusakan lingkungan. Ketidaksiapan pemerintah menyusun kurikulum dan perangkat ajar macam buku dan guru.
Penilaian itu disampaikan Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Jawa Barat Denny Jasmara di sela-sela acara Bedah Buku Bersahabat dengan Ancaman, kemarin. Buku terbitan Grasindo, Kelompok Kompas-Gramedia, ini disusun oleh aktivis Walhi dan melibatkan sejumlah guru di Indonesia.
Denny mengungkapkan, meski dianggap terobosan, pencanangan mulok LH oleh Pemerintah Provinsi Jabar pada awal tahun 2007 lalu dianggap terburu-buru. ”Hasilnya, banyak guru-guru yang tidak mengerti apa yang harus diajar. Mulok ini diterjemahkan hanya sebagai kegiatan kebersihan. Padahal, kan tidak demikian,” ujarnya.
Untuk itu, peningkatan kompetensi guru dan pembuatan modul pelajaran menjadi kebutuhan yang tidak terelakkan ke depan. Ia berharap, upaya itu melibatkan organisasi atau pihak berpengalaman. ”Jika kebijakan dibarengi dengan pengalaman, itu akan sangat baik,” ucapnya. Walhi, ungkapnya, tidak jarang diundang beberapa sekolah guna dimintai masukan atau bimbingan tentang pengembangan mulok LH.
Pemberlakuan mulok LH hendaknya pula menjadi momentum upaya peningkatan kewaspadaan masyarakat terhadap bencana alam. Alangkah baiknya jika materi mitigasi bencana dapat diintegrasikan dengan mulok LH. ”Walhi menjawab kebutuhan itu dengan membuat buku ini,” ucapnya. Apalagi, modul lingkungan hidup dan bencana yang khusus dibuat untuk anak usia sekolah dasar masih jarang dijumpai di pasaran.
Buku Bersahabat dengan Ancaman dibuat dalam tiga versi. Yaitu, buku bacaan, buku bantu, dan modul pengajaran untuk pegangan guru. Buku ini membeberkan materi seputar bencana alam maupun wabah kesehatan lengkap dengan deskripsi singkat pemicu dan tindakan pencegahannya. Buku itu ditulis dalam ragam gaya bahasa anak-anak dan dilengkapi ilustrasi grafis yang menarik.
”Ancaman bencana adalah teror. Sebanyak 83 persen wilayah Indonesia masuk ke kawasan bencana. Dari banyak kejadian, korban paling banyak anak-anak kecil. Maka, bencana itu perlu disahabati, dikenali. Sehingga, sejak dini, tidak ada lagi ketergantungan sosial manakala suatu waktu terjadi bencana,” papar Sofyan, anggota tim penyunting buku buatan Walhi itu.
Ningsih, pemerhati pendidikan dari Karawang, menilai, buku merupakan bahan diskusi. Keberadaannya sangat bermanfaat untuk memperluas wawasan guru. Meskipun demikian, peranan guru dan keluarga tetap yang paling penting. Misalnya, dalam hal menerjemahkan kearifan lokal.
Arabiyatuna Arabiyatuna
