Waktu terus berputar, yang lewat tidak akan pernah kembali. Usia pun terus bertambah. Kesempatan hidup untuk berbakti dan berbuat amal kebaikan semakin berkurang. Tidak seperti perjalanan jarum jam yang bisa disaksikan perputarannya, perjalanan umur seseorang tidak terasa dan terlihat. Tetapi tiba-tiba usia sudah menginjak angka 4 atau 5, bahkan 6 dan 7. Hanya beberapa orang saja yang bisa mencapai usia di atas angka 8, apalagi 9, sehingga untuk zaman sekarang masuk kategori langka. Angka-angka itu tidak hadir sendirian, tetapi diikuti dengan tanda-tanda alamiah pada organ tubuh, seperti rambut yang sebelumnya hitam kelam dan lebat sudah mulai tumbuh uban dan rontok satu demi satu, gigi yang sebelumnya kokoh mulai retak dan tanggal, penglihatan mulai kabur sehingga untuk membaca perlu bantuan kacamata, kaki mulai sering kram, pendengaran mulai berkurang sehingga sering salah paham, dulu bisa berjalan tegak sekarang mulai membungkuk. Dulu sering mengajak anak kecil bermain, sebaliknya sekarang menjadi mainan anak-anak kecil. Sesungguhnya semuanya adalah tanda-tanda yang sangat nyata bahwa perputaran dan pertambahan waktu disertai dengan semakin berkurangnya kekuatan fisik dan kesempatan untuk menghamba kepada Allah niscaya selalu terjadi pada siapa pun.
Satu bulan ke bulan berikutnya, satu tahun ke tahun berikutnya merupakan ruas waktu yang di dalamnya penuh nilai. Begitu juga satu Jum’at ke Jum’at berikutnya bukan saja sekadar perputaran waktu untuk memenuhi hitungan satu minggu, tetapi juga ruas waktu yang di dalamnya ada misteri. Jika satu hari ke hari berikutnya juga merupakan ruas waktu penuh makna, maka dari satu sholat ke sholat berikutnya juga rentangan waktu yang penting untuk diperhatikan. Saya teringat guru ngaji saya dulu waktu masih di kampung untuk secara khusus memperhatikan ruas di antara dua waktu sholat, yaitu sholat subuh dan sholat ashar. Tetapi tidak berarti sholat-sholat yang lain boleh diabaikan. Tetapi memang ada dua sholat yang memiliki nilai khusus, yaitu sholat subuh dan ashar. Dengan mengutip sebuah hadits, beliau mengingatkan bahwa ada malaikat yang ditugaskan secara khusus oleh Allah terkait dengan perpindahan waktu tersebut. Menurutnya, sebagian malaikat melakukan pergantian tugas pada waktu sholat subuh dan sholat ashar. Maka Rasulullah mengatakan bahwa “Barang siapa yang memelihara shalat subuh dan ashar, ia akan masuk surga”. (HR. Bukhari dan Muslim). Begitu hadits yang sering disampaikan oleh guru ngaji saya tersebut kepada para santrinya. Begitu pentingya waktu, hingga Umar bin Khattab dalam sebuah khotbahnya di musim haji pernah menyampaikan bahwa “Wahai manusia, ingatlah bahwa Rasulullah SAW terbiasa meminta perlindungan kepada Allah dari lima perkara, yaitu kebakhilan dan kelemahan hati, usia yang buruk, fitnah isi hati, dan siksa kubur”. Sebab, katanya, kebakhilan, kelemahan hati dan fitnah adalah penyakit yang sangat membahayakan masyarakat. Sedangkan usia buruk terkait dengan ketidakmampuan orang untuk menggunakan waktu yang diberikan Allah berupa usia dengan sebaik-baiknya. Atau dengan kata lain, usia buruk adalah usia yang di dalamnya tidak bernilai, tidak ada amal sholeh, dan membiarkannya berlalu begitu saja tanpa mampu menangkap pesan di dalam setiap ruas perputarannya. Sebaliknya, usia yang baik adalah yang di dalamnya penuh amal sholeh, berbuat baik kepada sesama dan mengabdi kepada sang Pencipta dengan setulus-tulusnya pengabdian. Usia yang baik bukan diukur dari panjang atau pendeknya, tetapi pemanfaatannya. Bisa saja seseorang berusia sangat panjang hingga mencapai sembilan puluh atau bahkan seratus tahun atau lebih. Tetapi dalam kurun waktu sepanjang itu tidak banyak kebajikan, malah sebaliknya diisi dengan amal perbuatan yang buruk. Itulah seburuk-buruknya usia. Sebaliknya, bisa saja seseorang berusia pendek, tetapi di dalam kependekan waktu itu diisi dengan amal sholeh. Itulah sebaik-baiknya umur. Rasulullah sendirinya usianya hanya 63 tahun, tetapi dengan usia yang relatif pendek itu beliau telah mengubah kehidupan manusia secara mendasar lewat risalah yang dibawanya, yakni al Qur’an. Tidak berlebihan jika para ahli survei menempatkan Muhammad SAW sebagai salah satu manusia paling berpengaruh di planet bumi ini. Bagi Islam, setiap pergantian atau perputaran waktu dijadikan pintu muhasabah, atau introspeksi diri dengan menghitung apa saja yang telah diperbuat di waktu yang telah lewat. Muhasabah bukan hanya dilakukan setiap ada pergantian waktu, melainkan setiap waktu dengan menghitung atau bertanya pada diri sendiri mengenai apa saja yang telah diperbuat untuk mengisi hidupnya. Dengan bermuhasabah, seseorang akan muncul kesadaran dirinya untuk melakukan perbaikan sehingga hari demi hari perbuatannya menjadi semakin baik. Tandanya semakin baik adalah keinginannya untuk berbuat kebajikan dan kemaslahatan untuk masyarakat banyak. Begitu pentingnya muhasabah, hingga Rasulullah Muhammad SAW menyampaikan orang yang cerdas dalam pandangan beliau adalah orang yang pandai bermuhasabah. Yang beliau sampaikan tentu ada benarnya. Sebab, di samping memiliki kelebihan-kelebihan yang tidak dimiliki oleh makhluk lain ciptaan Allah, manusia sejatinya adalah makhluk yang sangat lemah. Mudah terombang-ambing dan terperosok ke dalam kesalahan. Lebih parahnya lagi, sudah lemah, manusia juga makhluk yang bisa melakukan perusakan di muka bumi, hingga malaikat sempat bertanya untuk apa Allah menciptakan makhluk yang bernama manusia itu. Dialog Malaikat dengan Allah swt mengenai rencana penciptaan manusia diabadikan di dalam Al Qur’an pada surat al Baqarah ayat 30. Tengara malaikat ada benarnya. Sebab, kenyataannya sejarah manusia mencatat berbagai perusakan di bumi, pembunuhan, perang dahsyat seperti perang dunia I dan II, bom nuklir, perusakan lingkungan hidup, penebangan hutan besar-besaran, eksploitasi sumber kekayaan alam semuanya adalah ulah manusia. Karena itu, bisa dibayangkan apa jadinya jika Allah tidak menurunkan pedoman hidup berupa agama. Agama diturunkan Allah lewat rasul dengan tujuan utama memperbaiki moral dan akhlak manusia, sehingga kehidupannya berada dalam petunjuk dan ketentuan Allah. Tetapi kenyataannya tidak selalu demikian. Banyak orang yang ingkar, dan tidak mau mendengar atau menggubris seruan-seruan Allah lewat ketentuan yang telah digariskan. Tetapi manusia memang beragam. Ada yang selalu berbuat salah. Tetapi tidak tahu bahwa itu salah. Ada yang berbuat salah dan tahu kalau itu salah, tetapi tetap dijalankan. Di sisi yang lain ada yang berbuat salah, tetapi mudah dan cepat insyaf dan tidak mengulangi lagi kesalahan itu. Karena itu, muhasabah menjadi penanda kecerdikan seseorang dalam mengarungi kehidupan. Ada ungkapan ‘seringlah belajar dari masa lalu’. Itu ungkapan orangtua kita dan orang-orang bijak yang intinya agar kita tidak berbuat kesalahan yang sama untuk kedua kalinya. Karena itu, tidak saja setiap perputaran tahun, bulan, hari dan jam, setiap perputaran detik kita jadikan momentum untuk bermuhasabah menuju kesempurnaan hidup kita. Dengan sering bermuhasabah, seseorang akan sibuk memperbaiki diri sendiri sehingga tidak sempat melihat atau mengoreksi kelemahan orang lain. Karena itu, orang yang suka mengintip kesalahan atau kelemahan orang lain hakikatnya menumpuk kekurangan dan kesalahannya sendiri karena tidak sempat bermuhasabah. Pertanyaannya adalah apakah kita tergolong orang-orang demikian? Jawabnya berpulang kepada kita masing-masing. Tetapi saya berharap kita semua menjadi orang-orang yang suka bermuhasabah. Semoga! _______________ Batu, 4 Februari 2011
Penulis : Prof DR. H. Mudjia Rahardjo
Pembantu Rektor I Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang
Arabiyatuna Arabiyatuna
