Memasuki tahun 2011 warga dunia dikejutkan oleh tragedi politik di kawasan Timur Tengah, dimulai turunnya Presiden Tunisia, Ben Ali, dan diikuti aksi besar-besaran masyarakat Mesir yang menuntut Presiden Hosni Mubarak yang telah berkuasa sejak 1981 turun. Gejolak di Mesir bukan terjadi tiba-tiba. Masyarakat Mesir sudah lama merasakan ketidakpuasan terhadap kepemimpinan Hosni Mubarak, tetapi setiap gerakan untuk melawan pemerintah selama ini selalu bisa dipatahkan. Tak bisa dipungkiri bahwa gerakan di Tunisia yang berhasil menurunkan Presiden Ben Ali merupakan pemicu yang ampuh. Para penentang Hosni Mubarak yang sudah muak dengan kepemimpinannya sepertinya tidak sabar untuk mengikuti jejak gerakan yang terjadi di Tunisia. Rakyat Mesir ingin segera merasakan hidup dalam alam demokrasi, sebagaimana dialami sebagian besar bangsa-bangsa di dunia saat ini.
Hosni Mubarak sudah sangat lama berkuasa. Dia tampil menggantikan Presiden Anwar Sadat yang tewas tertembak. Masyarakat Mesir mencatat bahwa dulu Hosni Mubarak berjanji hanya mau menjabat selama dua periode. Janji itu diingkari. Alih-alih mengakhiri jabatan setelah periode kedua, dia malah membangun kekuatan politik seantero negeri untuk bisa terus berkuasa. Intel-intel negara di sebar di mana-mana, sehingga, kata seorang teman yang lama studi di sana, Mesir itu bagaikan negeri intel. Orang takut berbicara politik, apalagi mengritik pemerintah pasti ditangkap. Orang yang punya potensi melakukan perlawanan kepada pemerintah dilibas habis. Aspirasi dibungkam. Rakyat takut bersuara. Dalam benak Mubarak, tidak boleh ada matahari kembar. Karena itu, tokoh-tokoh potensial yang dianggap bisa membahayakan kedudukannya, setidaknya bisa menyaingi popuralitasnya disingkirkan. Mantan Menlu Amir Moesa merupakan salah satu korban kebijakan Mubarak. Karena itu, di Mesir tidak ada tokoh oposisi yang kuat, karena setiap ada tokoh yang akan muncul selalu diberangus lebih dulu, atau dibuang ke luar negeri. Tak pelak, Hosni Mubarak sangat kuat dan terus bisa menjabat presiden hingga saat ini. Mubarak hampir tidak memiliki pesaing di dalam negeri. Hosni Mubarak sangat menikmati jabatannya sebagai presiden, sehingga berbagai perangkat hukum dan strategi politik memungkinkannya menjabat begitu lama dan selalu menang di setiap pemilu. Pemilu terakhir yang mengantarkan dia menjabat lagi dituduh pemilu paling kotor dalam sejarah Mesir, karena terjadi manipulasi besar-besaran. Rakyat tidak lagi percaya dengan Mubarak. Mereka merasa dikibuli. Karena itu, aksi demo besar-besaran yang terjadi sepuluh hari terakhir sebenarnya akumulasi kemarahan rakyat Mesir yang sudah sekian lama terpendam dan menunggu momen yang tepat untuk meledak. Saat yang dinantikan itu kini telah tiba. Mesir membara. Pemicunya bukan orang lain, tetapi malah presidennya sendiri. Mubarak sangat dibenci sebagian besar rakyatnya. Apa yang dilakukan Mubarak mengingatkan kita semua terhadap praktik politik Orde Baru. Hingga tahun 1980’an, nama Pak Harto begitu harum di mata rakyat. Sebab, swasembada pangan tercapai, pembangunan dijalankan lewat perencanaan yang matang secara bertahap dan berkesinambungan, dari pelita ke pelita. Kepercayaan masyarakat internasional terhadap Indonesia meningkat, dan sering menjadi contoh bagaimana Indonesia berhasil mengentas kemiskinan, menekan angka pertumbuhan penduduk, mengurangi angka buta huruf, pos-pos pelayanan kesehatan bertebaran seantero negeri. Percik-percik gejolak ketidakpuasan sebenarnya sudah mulai muncul sejak awal 1990’an. Akibat bisikan orang-orang terdekatnya, anak-anaknya yang sudah mulai terjuan ke bisnis, dan syahwatnya untuk berkuasa tumbuh, Pak Harto seolah tidak tahu atau sengaja tidak mau tahu bahwa masyarakat sudah mulai gelisah dan simpati mulai berkurang. Pak Harto terus maju menjadi presiden di setiap pemilu lewat Golkar yang menaunginya. Untuk mempertahankan kekuasaannya, Pak Harto mulai bersikap otoriter kepada orang-orang kritis dan lawan-lawan politiknya yang juga mulai berani berterus terang. Kekuasaannya bertumpu pada tiga pilar: birokrasi, pebisnis (konglomerat), dan militer. Sejak saat itu, emosi kekuasaan Pak Harto tidak lagi terkontrol, hingga kata ‘tak gebuk’ yang ditujukan ke lawan-lawan politik muncul. Tiga bulan menjelang kejatuhannya, Pak Harto juga menylenggarakan pemilu akal-akalan yang tidak diterima rakyat, terutama mahasiswa dan kelompok masyarakat yang kritis. Malah,Pak Harto mengangkat kroni-kroni dan putri sulungnya, Mbak Tutut, menjadi salah seorang anggota Kabinet. Pak Harto seperti tidak menggubris suara rakyat. Rakyat tidak puas dan melakukan protes besar-besaran yang menuntut pengunduran dirinya. Tanggal 21 Mei 1998 Pak Harto tidak kuasa lagi membendung aspirasi rakyat. Dia lengser oleh desakan rakyat yang mengepung gedung perwakilan rakyat. Mirip Pak Harto, Husni Mubarak pada awal-awalnya sangat diterima publik Mesir karena dianggap berhasil memodernisasi negara. Tetapi lama kelamaan, dia dikerubuti para pebisnis dan para petinggi militer yang menjalankan bisnis dan menggerogoti keuangan negara. Di sisi yang lain, Mubarak seolah lupa bahwa tugas utama seorang presiden adalah mensejahterakan rakyat. Pembangunan ekonomi hanya terjadi pada kelompok tertentu, sehingga kue pembangunan tidak bisa dinikmati masyarakat luas. Sudah bisa diduga bahwa kondisi demikian dengan mudah memicu kemarahan rakyat yang tidak puas. Gerakan yang terjadi saat ini adalah bukti kemarahan rakyat yang begitu masif. Hosni Mubarak digambarkan sebagai pemimpin yang korup, otoriter, angka pengangguran tinggi, nepotisme merajalela, dan pertumbuhan ekonomi sangat rendah hingga kemiskinan begitu tinggi, angka pendapatan per kapita penduduk sangat rendah. Selama ini rakyat Mesir sudah sangat menderita. Padahal, Mesir adalah negara dengan sumber-sumber alam, terutama minyak secara melimpah. Dengan sumber alam seperti itu, rakyat Mesir mestinya bisa hidup sejahtera jika pengelolaan sumber-sumber itu dilakukan dengan baik. Sayang, Husni Mubarak tidak melakukan itu. Dia terlena memperhatikan kesejahteraan rakyat dan menikmati singgasana kekuasaannya dengan berbagai cara dan upaya. Alih-alih memperhatikan kesejahteraan rakyat, Hosni Mubarak justru secara diam-diam mempersiapkan estafet kekuasaan ke anaknya sendiri, Gamal. Bisa dibayangkan bagaimana marahnya rakyat Mesir yang di tengah-tengah keterpurukan hidup justru menyaksikan akrobat politik yang menyakitkan. Saya kira terlalu lamanya berkuasa menjadi penyebab arogansi, sikap otoriter dan tingginya syahwat untuk malah terus berkuasa. Sebagai presiden, Hosni Mubarak dianggap sebagai orang paling bertanggung jawab atas semua permasalahan yang terjadi saat ini. Tak pelak, gerakan massa sedemikian dahsyat untuk mengakhiri kekuasaan yang sudah berlangsung selama 31 tahun tidak bisa dihindari. Angka 30 tampaknya menjadi angka kiamat bagi para penguasa yang begitu lama di singgasananya, mulai Ferdinand Marcos, Soeharto, Ben Ali di Tunisia, hingga saat ini Hosni Mubarak. Mencermati tragedi politik yang terjadi pada penguasa-penguasa itu, saya teringat tesis ilmuwan Inggris Lord Acton yang menyatakan “Power Tends to Corrupt. Absolute Power Corrupts Absolutely”. Tesis Acton benar-benar berlaku pada rezim-rezim itu. Mereka tidak lagi menjadi pemimpin yang melindungi, mensejahterakan, dan membimbing rakyatnya, tetapi justru menjadi musuh utama mereka. Persoalannya adalah hampir semua pemimpin negara-negara Timur Tengah dan Afrika sudah berkuasa puluhan tahun dan bertindak secara otoriter. Akankah gejolak di Mesir, setelah di Tunisia, akan melebar ke wilayah lain seperti Yaman, yang sudah mulai bergolak, Jordan, Qatar, dan Suriah. Pemimpin-pemimpin monarki seperti di Kuwait, Saudi Arabia, Uni Emirat, Oman bisa jadi was-was kalau wabah aksi besar-besaran di Mesir merembet ke negeri mereka. Di belahan barat Afrika juga ada pemimpin yang sangat lama berkuasa, yakni Muamar Kadafi dari Libya. Bisa saja Muamar Kadafi saat ini miris melihat aksi besar-besaran di Mesir yang bisa saja menimpa dirinya. Belakangan Kadafi mengambil jalan pintas dari politik sangat anti Barat ke pro Barat, hingga embargo dihentikan. Tetapi sebelumnya, Kadafi sangat anti Barat, sehingga berbagai akses kepentingan ekonomi, dan politik ke Barat nyaris putus. Dampaknya, Libya terkucil dari percaturan dunia, dan ekonomi tersendat. Perubahan haluan politik Kadafi telah mengubah pebangunan ekonomi Lybia secara perlahan-lahan, tetapi Kadafi berkuasa terlalu lama. Karena itu, sangat mungkin tragedi politik di Mesir segera menjalar ke negara di Afrika Barat itu. Pelajaran apa yang bisa dipetik dari gejolak politik di negara-negara tersebut? Menjadi pemimpin itu tidak mudah. Memimpinnya mungkin tidak terlalu sulit, sebab bisa dipelajari. Tetapi sebenarnya pemimpin adalah orang yang siap berkorban, bukan malah mencari keuntungan pribadi, apalagi menyakiti hati rakyatnya. Jika kita amati, pemimpin-pemimpin yang dijatuhkan rakyatnya hampir semuanya lengah. Mereka lupa mengurusi rakyatnya dengan mengutamakan kesejahteraannya, tetapi malah mengusuri diri sendiri, keluarga, anak dan cucunya, serta orang-orang dekat yang selama ini mengamankannya dengan cara menumpuk kekayaan, mengokohkan kekuasaan, dan terus ingin berkuasa. Kita tidak tahu bagaimana kelanjutan tragedi Mesir. Apa Hosni Mubarak jatuh atau tetap berkuasa dengan berbagai kekuatan yang masih ada. Tetapi lepas dari apa pun yang terjadi, pasca gelombang demontrasi besar-besaran, tragedi Mesir pasti akan mengubah peta atau geopolitik Timur Tengah khususnya, dan dunia pada umumnya. Sebab, Mesir dianggap sebagai negara paling modern di Timur Tengah dan jumlah penduduk terpadat. Lebih dari itu, Mesir adalah negara tempat peradaban manusia awal dibangun. __________ Malang, 6 Februari 2011
Penulis : Prof DR. H. Mudjia Rahardjo
Pembantu Rektor I Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang
Arabiyatuna Arabiyatuna
