Saturday, 18 April 2026
above article banner area

Indahnya Banyak Teman

Suatu hari saya mengikuti acara loka karya sebuah Sekolah Menengah Atas  (SMA) dan diminta oleh panitia untuk menjadi salah seorang narasumber. Tema yang dibahas adalah pengembangan lembaga tersebut dari sisi sumber daya manusianya. Ketika saya mulai  berbicara, saya mengatakan bahwa saya merasa tidak begitu nyaman dengan istilah ‘sumber daya manusia’. Karena itu, saya usul istilah itu diganti dengan ‘suber daya insani’. Istilah sumber daya insani terasa lebih enak didengar. Jumlah peserta kurang lebih 75 orang, dengan beragam disiplin ilmu yang diajar, usia, pangkat, pengalaman, masa kerja, kemampuan, dan tentu saja niat mereka mengikuti loka karya tersebut. Saya diberi kesempatan berbicara selama 90 menit. Karena tema pengembangan semacam itu tidak begitu asing bagi saya, maka saya bisa menyampaikan pandangan saya secara agak luas  dari berbagai perspektif hingga waktu sudah menunjukan pukul 22.30 WIB.

Ketika saya menyampaikan materi, para peserta kelihatan mengantuk dan tampak tidak antusias. Malah ada yang ngobrol tersendiri, terutama yang duduk di deretan belakang. Yang lain ada yang main handphone, sambil menulis sms. Ada pula yang keluar masuk ruangan sambil mengambil secangkir kopi dan teh serta makanan ringan yang disiapkan panitia. Tetapi pada sesi tanya jawab, suasana berubah total. Banyak peserta menyampaikan pertanyaan dan saran, sehingga sesi tersebut berlangsung hampir 2,5 jam. Moderator kewalahan menghentikan peserta yang mau mengajukan pertanyaan. Jam sudah menunjukkan pukul 23.30 WIB, sehingga sesi malam itu harus segera dihentikan, karena esoknya masih ada sesi lain. Malam itu panitia masih menyediakan makanan ringan dan minuman. Karena itu, setelah acara selesai semua peserta segera menuju ruang untuk makan kue dan minum teh atau kopi. Saya pun ikut minum dan nimbrung bersama mereka. Tetapi saya hanya minum teh, karena tidak terbiasa minum kopi. Saya juga tidak makan karena tidak begitu lapar walau pun habis ceramah hampir 2,5 jam. Anehnya peserta yang pada sesi presentasi tampak diam saja dan mengantuk, tetapi waktu sesi minum dan makan  banyak yang  mengajukan pertanyaan ke saya. Pertanyaannya bermacam-macam, mulai dari urusan rumah tangga, pendidikan, karier, politik hingga isu-isu hot mengenai korupsi di tanah air. Dalam batin, saya tertawa memangnya saya ini siapa kok ditanya berbagai pertanyaan seperti itu. Tetapi agar tidak mengecewakan, semua pertanyaan itu saya ladeni dengan balik bertanya sehingga forumnya bukan tanya jawab, melainkan dialog. Dengan berdialog, saya menempatkan diri sejajar dengan mereka. Saya memposisikan diri tidak lebih baik dan lebih tinggi daripada mereka, walau pada malam itu saya bertindak sebagai salah seorang narasumber. Saya pun tidak tahu apa pertimbangan panitia  meminta saya untuk menyampaikan  materi. Usai dialog tersebut, ada salah seorang peserta yang mengatakan kepada saya bahwa dia bersyukur bertemu saya malam itu karena menurutnya bisa memperoleh banyak pengetahuan pada malam hari itu. Saya hanya mengangguk dan mengucapkan terima kasih pula. Tetapi ketika saya masuk kamar hotel dan mulai tidur, saya merenungkan peristiwa yang baru saja terjadi. Pertanyaan dalam batin saya adalah: sesungguhnya siapa yang paling diuntungkan dalam pertemuan malam itu? Mereka atau saya?  Saya merasa orang yang paling diuntungkan. Malam itu saya menjadi kaya, bukan secara material, tetapi kaya pengetahuan dan pengalaman. Betapa tidak! Pertanyaan yang meraka ajukan ke saya itu saya kembalikan lagi kepada mereka dan meminta salah satu di antara mereka menjawab. Saya hanya menambah sedikti-sedikit saja dari jawaban yang saya anggap kurang lengkap. Malam itu saya kaya tentang ‘orang’. Lewat cara dialog seperti itu saya mengetahui karakter sekian banyak orang dengan latar kehidupan masing-masing, cara bertanya, sikap terhadap teman, minat, keinginan, dan sebagainya. Jadi, malam itu, saya kaya karena mereka. Sedangkan, para peserta hanya mengetahui saya dan pandangan saya tentang tema yang dibahas pada malam itu. Tentu pengetahuan yang mereka peroleh dari saya sangat sedikit. Mereka hanya mengetahui saya, sedangkan saya mengetahui mereka semua. Itu bukti betapa pentingnya berhubungan dengan banyak teman. Saya membuat analogi punya banyak kawan itu layaknya taman yang di dalamnya tumbuh banyak bunga. Taman semakin indah karena warna warni bunga yang ada di dalamnya. Bunga mawar memang indah, tetapi apa maknanya jika di dalam sebuah taman hanya ada satu macam bunga mawar saja. Teman saya yang begitu banyak malam itu bagaikan taman dengan warna warni bunga di dalamnya. Aneka ragam latar belakang, pengalaman, pengetahuan, dan disiplin ilmu yang diajarkan semuanya menjadikan indah. Itu sebabnya, Allah menciptakan manusia dengan berbeda-beda agar saling memahami, mengetahui, dan menghargai. Tidak untuk saling bermusuhan atas nama perbedaan. Coba bayangkan andai saja semua manusia warna kulit, budaya, keinginan, bahasa, dan semuanya sama. Tidak ada lagi keindahan karena perbedaan. Komunikasi yang saya bangun malam itu sangat dialogis. Saya berprinsip agar efektif hubungan antar-manusia itu caranya lewat dialog. Dengan berdialog masing-masing berada dalam kesetaraan. Dengan posisi setara, masing-masing pihak berusaha tidak menampilkan egonya sendiri-sendiri. Hubungan manusia itu bukan satu arah, melainkan dua arah. Wujudnya dialog. Persoalannya tidak semua orang suka berdialog. Umumnya orang suka menjadi ‘speech master’, dengan meminta orang lain mendengarkan apa saja yang disampaikan. Menurutnya pendapatnya yang paling benar, pendapat orang lain salah. Jika demikian, orang seperti ini sesungguhnya tidak kaya hati, walau mungkin kaya harta, karena tidak mau mendengarkan orang lain. Malam itu sungguh saya menjadi kaya, justru karena kawan yang banyak itu semuanya menyampaikan pertanyaan dan pendapat masing-masing. Pertanyaannya apakah mereka juga menjadi kaya karena saya? Saya tidak tahu, sebab hanya mereka sendiri yang dapat menjawabnya.   ______________ Malang, 15 Februari 2011

Penulis : Prof DR. H. Mudjia Rahardjo

Pembantu Rektor I Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

Share
below article banner

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *