Ungkapan dalam bahasa Jawa seperti judul di atas sering saya dengar setiap saya takziah, khususnya pada saat akan pelepasan jenazah. Ungkapan itu sesungguhnya adalah doa yang kurang lebih maksudnya adalah agar arwah yang meninggal diberi tempat yang lapang di alam kubur dan diberi sinar penerang menuju jalan menghadap sang Khaliq. Biasanya, doa itu dilengkapi dengan harapan agar semua amal baik almarhum atau almarhumah diterima Tuhan, dan kekhilafannya diampuni, serta ditempatkan di sisi-Nya yang layak. Begitu doa standar yang sering kita dengarkan tatkala kita bertakziah.
Hal yang sama saya temukan ketika saya menghadiri upacara pelapasan jenazah ibu seorang kolega, beberapa hari lalu, tepatnya Sabtu, 5 Februari 2011. Jika Allah sudah menghendaki kematian seseorang, tak seorang pun sanggup mempercepat atau mengakhirinya. Kematian benar-benar hak prerogatif Allah. Ketika mengakhiri sambutannya, wakil keluarga itu mengucapkan “mudah-mudahan almarhum jembaro kubure lan padango dalane”. Seorang kawan yang berdiri di sebelah saya dan kebetulan berasal dari luar Jawa bertanya apa maksud ungkapan tersebut. Saya jelaskan itu sebenarnya doa agar almarhumah diberi tempat yang layak di sisi Tuhan-Nya dan diterima semua amal ibadahnya. Teman itu manggut-manggut. Dalam sambutannya, wakil keluarga itu menyampaikan bahwa kematian saudaranya itu sangat mendadak sehingga tidak saja mengagetkan keluarga dan sanak familinya, tetapi juga warga kampung itu. “Betapa tidak, jam 19.00 WIB masih bercengkerama dengan salah seorang cucunya sambil menonton TV. Setelah itu badannya terasa panas dingin dan terus menggigil. Keluarga segera membawanya ke Rumah Sakit Dr. Saiful Anwar. Pukul 23.00 WIB dia menghembuskan nafas terakhir”, paparnya sambil terisak-isak. “Kami semua kehilangan almarhumah yang baik ini”, katanya lebih lanjut. “Kematian mendadak” adalah ungkapan yang sering kita dengar. Pertanyaannya adakah kematian mendadak? Secara medis mungkin ya. Tetapi secara hakiki tidak ada kematian mendadak. Sebab, kematian seseorang telah dirancang oleh Allah. Tidak seorang pun tahu kapan seseorang dipanggil Allah untuk menghadapNya. Secara dhohir, kematian diartikan sebagai kondisi lepasnya nyawa atau ruh dari jasad seseorang. Jasad bisa hancur dan hilang tertelan bumi, tetapi ruh akan tetap ada selamanya. Nyawa atau ruh benar-benar hak Allah. Karena itu, kapan tercerabutnya ruh dari seseorang benar-benar hanya Allah yang kuasa mengetahuinya. Manusia hanya diberi pengetahaun sedikit tentang ruh. Mengapa manusia hanya diberi sedikit pengetahuan tentang ruh, sebab manusia tidak akan mampu memahaminya. Perhatikan surat al-Isro’ ayat 85 yang berbicara tentang peringatan Allah kepada Nabi Muhammad bahwa masalah ruh adalah urusan Tuhan. قُلِ الرُّوْحُ مِنْ أَمْرِ رَبِّيْ Mengapa kematian merupakan rahasia Allah? Secara logis agar manusia senantiasa berbuat kebajikan dalam rentang hidupnya dan siap setiap saat dipanggil menghadapNya. Selain itu bayangkan bagaimana seandainya manusia mengetahui kapan waktu kematiannya. Dia akan ketakutan luar biasa. Sebab, sebagaimana kata Nabi, kematian itu sesuatu yang pasti terjadi dan itu sangat mengerikan. Karena itu, Nabi mengajarkan kepada kita untuk selalu ingat mati dan mempersiapaknnya sebaik-baiknya. Apa persiapannya? Amal sholeh! Dengan kematian, manusia akan berada di alam lain, namanya alam kubur atau alam barzah. Alam kubur bukan alam dunia, melainkan alamnya para orang yang telah menginggal dunia. Di alam kubur itu semua yang telah meninggal dunia menunggu hingga datangnya hari kebangkitan sebelum datangnya kiamat. Di hari itu semua manusia sejak Adam hingga manusia yang paling akhir nanti ditimbang amal perbuatannya oleh sang Maha Adil, Allah swt. Itulah hari di mana tidak ada lagi kebohongan, kepalsuan, dan manipulasi. Perjalanan hidup kita diputar dan ditayangkan kepada kita masing-masing. Tak satu detik pun peristiwa yang terlewatkan. Sebab, semuanya telah dicatat oleh malaikat pencatat kebaikan dan kejelekan kita. Pertanyaannya berapa lama manusia berada di alam kubur atau barzah? Bisa setahun, puluhan tahun, ratusan tahun, jutaan tahun, hingga miliaran tahun. Tak satu pun dari kita yang mengetahuinya. Itulah dunia ghoib yang tidak mampu kita pahami, tetapi wajib kita percayai keberadaannya. Sebab, iman kepada hari akhir merupakan salah satu rukun iman. Bagi orang yang beriman dan senantiasa bertakwa, alam barzah tidak perlu ditakutkan. Sebab, Allah telah menyediakan nikmat kubur bagi penghuni alam barzah yang sholeh. Bahkan, nikmat kubur bisa jauh lebih menyenangkan daripada nikmat duniawi. Sebaliknya, bagi penghuni kubur yang tidak beriman dan tidak beramal sholeh, alam kubur telah menjadi tempat yang mengerikan, karena akan merasakan siksa kubur, sebagai siksa awal sebelum siksa neraka yang jauh lebih dahsyat. Dunia alam kubur atau barzah sebagaimana gambaran itu yang dimaksudkan oleh pembawa acara di awal sambutannya tadi agar jenzah “jembaro kubure dan padango dalane”. Secara kodrati, tak satu pun dari kita yang bisa bebas dari maut yang siap menjemput kita sewaktu-waktu. Karena itu, agar kita tergolong orang-orang yang kelak “jembaro kubure dan padango dalane”, maka tidak ada cara lain kecuali untuk meningkatkan kadar keimanan dan ketakwaan kita. Setiap detak jantung kita akan menjadi saksi semua amal perbuatan kita. Semua kita tentu akan merindukan kehidupan yang layak setelah kematian kita masing-masing, dan dipanggil Allah sebagaimana empat ayat terakhir surat al-Fajr. يَأَيَّتُهَا النَّفْسُ اْلمُطْمَئِنَّةُ. اِرْجِعِيْ إِلىَ رَبِّكَ رَاضِيَةً مَرْضِيَّةً. فَادْخُلِيْ فِيْ عِبَادِيْ. وَادْخُلِيْ جَنَّتِيْ. Artinya: “Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hamba-Ku, masuklah ke dalam syurga-Ku.” Amin-amin amin ya robbal alaamin. __________ Malang, 17 Februari 2011
Penulis : Prof DR. H. Mudjia Rahardjo
Pembantu Rektor I Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang
Arabiyatuna Arabiyatuna
