Dalam banyak pegalaman, ternyata mengubah dan menggerakkan masyarakat tidaklah mudah. Oleh karena itu, sedikit saja pemimpin yang bertugas mengubah dan menggerakkan masyarakat berhasil. Banyak pemimpin sekalipun memiliki visi dan misi yang jelas, program-program yang baik, ternyata tidak berhasil. Pemimpin itu, disebut biasa-biasa saja prestasinya. Seringkali saya mendapatkan pertanyaan-pertanyaan seperti itu. Mungkin saya dilihat orang yang dalam batas-batas tertentu dianggap berhasil dalam memimpin lembaga pendidikan. Bisa jadi penilaian itu subyektif, karena prestasi itu dibandingkan dengan lembaga pendidikan yang kurang maju. Tetapi, keadaan itu sudah berhasil menjadikan orang bertanya-tanya. Atas pertanyaan itu saya selalu memberikan jawaban normatif. Bahwa keberhasilan sebuah organisasi tidak saja terletak pada pemimpinnya, tetapi juga sangat dipengaruhi oleh orang-orang yang dipimpinnya. Pemimpin dan yang dipimpinnya harus menyatu. Mereka semuanya harus berada pada satu visi dan misi. Pemimpin sama dengan seorang imam dan makmum. Imam dan makmum harus berada dalam satu niat dan perbuatan yang sama. Jika hal itu bisa dibangun maka, organisasi akan berfjalan dengan baik. Pertanyaan biasanya tidak hanya berfhenti di situ. Buku-buku apa saja yang biasa saya baca sebagai bekal untuk menjalankan tugas-tugas kepemimpinan. Saya selalu menjawab, bahwa membaca buku apa saja yang terkait dengan kepemimpinan itu sangat penting. Akan tetapi, satu kitab yang tidak boleh ditinggalkan adalah kitab suci al Qur’an. Dalam kitab itu dijelaskan dengan sangat menarik, apa yang harus dilakukan oleh orang untuk mengubah dan menggerakkan orang atau masyarakat. Saya menjelaskan bahwa dalam surat al-Alaq dan al-Mudatsir, jika kita baca secara mendalam dan apalagi berulang-ulang akan ditemukan, bagaimana tugas-tugas kepemimpinan itu hendalnya dijalankan. Saya tidak tahu, apakah menangkap isi atau pesan al Qur’an dengan menggunakan akal atau imajinasi dibenarkan. Bukankah menafsirkan ayat-ayat al Qur’an adalah merupakan otoritas para mufassir belaka. Terkait dengan ini, saya menggunakan logika sendiri. Bahwa al Qur’an adalah al-huda, at-tibyan, al-furqon dan seterusnya. Jika demikian maka, jika kita mengalami kesulitan yang memerlukan jawaban, maka al Qur’an menurut hemat saya, akan menjawabnya. Pada awal surat yang saya sebutkan di muka, saya mendapatkan gambaran yang sedemikian jelas tentang bagaimana menggerakkan orang dan atau memimpin masyarakat itu. Yaitu diawali dengan kegiatan qiro’ah, yaitu perintah membaca orang kemudian menjadi sadar. Kesadaran menjadi penting sekali terkait dengan perubahan. Di sana diseru dengan sebutan mudatsir, orang berselimut. Sebutan itu, terasa menghentak, agar siapapun sadar. Tetapi kesadaran, hanya akan tumbuh jika orang melakukan pembacaan atau qiro’ah tentang sesuatu hal. Kesadaran adalah merupakan kekuatan untguk melahirkan kebangkitan, atau qiyam. Dalam rangkaian surat itu terdapat perintah berbunyi : qum fa’andir. Kebangkitan inilah bagi seorang pemimpin merupakan sesuatu yang diharapkan. Jika para pengikut sudah bangkit, karena sadar, dan kesadaran itu lahir karerna proses pembacaan yang mendalam, maka selanjutnya akan terjadi semangat berjuang untuk meraih tujuan bersama. Hanya saja, kegiatan perjuangan itu agar berhasil harus didahului dengan upaya untuk mensucikan diri. Dalam rangkaian ayat-ayat al-Mudatsir, disebiutkan kalimat : watsiyabaka fathohhir. Maka pakaianmu bersihkanlah. Saya memaknai, pakaian dalam pengertian yang luas, yakni semua hal yang ada pada diri seseorang yang memperjuangkan hal-hal yang mulia. Oleh karena itulah maka dijelaskan tentang kesucian itu, yakni suci dari angkara murka dan sifat-sifat subyektivitas. Hal itu diperjelas melalui ayat : warrujza fahjur, wala tamnun tastaktsir. Menerungkan ayat ini, saya menangkap bahwa bangsa Indonesia ini, telah lama sadar akan pentingnya perjuangan, dan sudah berjuang membangun negeri, tetapi ternyata masih gagal melakukan thoharoh ini, sehingga dimana-mana terjadi KKN. Dalam al Qur’an, berjuang juga digambarkan sebagai usaha yang tidak ringan. Karena itulah maka di sana juga diingatkan bahwa berjuang harus diniatkan sebagai ibadah, yakni untuk mengingat dan memuliakan asma Allah. Dalam rangkaian ayat-ayat itu disebutkan ayat yang indah yaitu warabbaka fakabbir dan walirabbika fashbir. Bahwa berjuang untuk kebaikan, atau hal-hal yang mujlia hendaknya dimaksudkan sebagai upaya untuk membesarkan dan memuliakan asma Allah. Selain itu, karena berjuang merupakan pekerjaan yang tidak mudah, maka harus selalu berbekalkan dengan kesabaran. Mengikuti ayat-ayat al Qur’an sebagaimana disebutkan dimuka, saya merasakan sebagai sesuatu yang amat logis dan sangat tepat, yang bisa dijadikan pegangan bagi siapapun yang akan melalukan perubahan sebagai tugas kepemimpinannya. Petunjuk al Qur’an tersebut, terasakan sangat mendasar. Orang mau berubah karena didasarkan oleh kesadarannya sendiri. Memang ada saja cara-cara lain untuk melakukan perubahan perilaku, misalnya dengan dibuat peraturan atau ditempuh dengan pemberian reward berupa uang. Tetapi, dalam banyak pengalaman kedua cara itu peraturan dan uang, tidak jarang melahirkan sikap-sikap manipulatif. Menggerakkan orang dengan menumbuhkan kesadarannya , jauh lebih dahsyat daripada sebatas dengan motivasi uang dan atau mengikuti peraturan. Hanya saja memang untguk menujmbuhkan kesadaran ini memerlukan waktu, ketauladanan, kesabaran, amanah, keikhlasan, dan ketulusan. Mengubah dan menggerakkan masyarakat memang sulit, akan tetapi al Qur’an telah memberikan petunjuk yang amat jelas. Karena itu, siapapun sesungguhnya, jika mengikuti petunjuk itu akan menuai hasil. Wallahu a’lam
Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo
Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang
Arabiyatuna Arabiyatuna
