Hidup sederhana ternyata dianggap lebih mulia. Banyak orang tertarik dengan cara hidup seperti itu. Orang-orang yang dianggap sukses, karena berhasil mengembangkan ekonominya, kemudian bisa mempertahankan cara hidupnya secara sederhana, sebagaimana masa sebelumnya maka akan dipandang tepat, mulia, dan kemudian diberikan apresiasi oleh banyak orang. Sebaliknya, orang yang berlebih-lebihan, apalagi kemudian selalu menjaga jarak dengan orang lain ternyata justru dianggap kurang arif, hingga tidak disukai banyak orang. Orang yang mengambil jalan hidup seperti ini memang banyak juga jumlahnya. Di mana-mana orang seperti itu selalu ada. Mereka seolah-olah ingin berbeda, dan merasa sukses tatkala sudah berbeda itu. Konsep hidup sederhana yang dianggap tepat itu adalah hanya yang terkait dengan harta. Orang yang mampu membeli baju dengan harga mahal, tetapi mereka masih memilih jenis yang murah dan sederhana, sehingga ia selalu tampil sederhana, mereka itulah yang dianggap baik. Demikian juga, orang dianggap sederhana jika ia bisa membeli rumah mewah, tetapi masih mau bertempat tinggal bersama orang kampung, di perumahan sederhana. Selain itu, orang yang semestinya bisa membeli mobil dengan merk dan harga mahal, tetapi masih saja menggunakan mobil sederhana. Hidup seperti ini yang mendapatkan penghargaan tinggi dari masyarakat. Akan tetapi, jika hal itu menyangkut kemampuan lainnya, misalnya cara berpikir dan atau penguasaan ilmu pengetahuan, kebijakan atau kearifan, ketrampilan, dan sejenisnya, maka orang biasanya tetap akan menghargai terhadap mereka yang memiliki keunggulan. Mereka yang diunggulkan atau dihargai adalah yang berprestasi unggul, dan lebih-lebih keunggulannya itu bermanfaat dan membanggakan bagi orang lain. Hidup sederhana, terutama terkait dengan kebendaan seperti itu kadang tidak bisa dilakukan oleh semua orang. Orang biasanya ingin menampakkan penampilan yang serba lebih. Bahkan untuk memenuhi keinginan itu, seseorang harus melakukan hal yang tidak semestinya. Alasannya kadang dibuat-buat misalnya, untuk menyesuaikan diri dengan tuntutan zaman, tuntutan kantor, jabatan dan seterusnya. Jika tidak menyesuaikan diri, mereka khawatir akan dianggap ketinggalan dari yang lain. Orang biasanya mengejar agar akunya diakui, bergengsi, berprestise, beradaptasi dengan lingkungan, dan seterusnya. Hal-hal seperti itulah kemudian menjadikan orang hidup berlebih-lebihan. Padahal, sekalipun berpenampilan sederhana, asalkan mampu menunjukkan kemampuan atau kelebihan di bidang lainnya, pikiran, kearifan, ketrampilan, mereka justru akan mendapatkan apresiasi tinggi dari kalangan luas. Hidup sederhana sesungguhnya malah menjadi murah dan mudah. Selama ini, saya punya pengalaman pribadi seperti itu. Kesederhanaan itu, sebagaimana saya alami sendiri, terasa memang murah dan mudah. Selama ini, entah percaya atau tidak, saya tidak pernah memiliki sepatu lebih dari sepasang. Saya baru beli sepatu baru, setelah sepatu lama tidak bisa dipakai lagi, karena jebol atau usang. Setiap pagi ketika mau ke kantor atau ke mana saja, dengan hanya memiliki sepasang sepatu itu, tidak perlu repot-repot harus memilih sepatu segala. Ambil dan pakai sepatu yang satu itu. Hanya saja, adaptasi terhadap tuntutan masyarakat ternyata juga perlu. Sebagai bukti, tatkala kampus yang saya pimpin masih tampak serba sederhana, kecil dan kurang meyakinkan, tidak banyak orang tertarik datang. Peminat masuk kampus itu, setiap tahun, juga tidak seberapa jumlahnya. Hal itu berbeda, ketika wajah kampus sudah kelihatan besar, bersih, dan baru, menjadikan peminat masuk dan bahkan tamu pun datang dan menghargai. Bahkan, orang baru mau membantu dan bergabung, tatkala kampus sudah dianggap memiliki kemampuan, yang dilihat dari penampilannya ini. Begitu juga mungkin, jika saya sebagai pimpinan perguruan tinggi, misalnya, lalu berpenampilan kurang meyakinkan, maka bisa jadi banyak orang tidak menghargai dan atau mempercayai. Karena itu hidup ini tidak sederhana. Sifatnya selalu relatif dan kontektual. Adaptasi dengan keadaan, tempat, dan waktu ternyata menjadi penting. Berpenampilan terlalu sederhana tatkala ke kampus, menghadiri rapat, atau apalagi resepsi, bisa jadi, menjadi tidak dipercaya dan dihargai. Karena itulah diperlukan kepintaran membaca keadaan dan situasi, lalu menyesuaikannya. Kemampuan menyesuaikan diri terhadap tuntutan lingkungan, itulah kiranya yang memang perlu dipelajari dan dijalankan, dengan catatan tidak boleh meninggalkan jati diri dan keyakinan yang seharusnya dipegangi. Tetapi, apapun memang kesederhanaan yang kontektual, tetap penting menjadi pilihan. Wallahu a’lam.
Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo
Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang
Arabiyatuna Arabiyatuna
