Sunday, 21 June 2026
above article banner area

Kyai Basthom

Di antara sekian banyak kyai yang namanya sulit saya lupakan, di antaranya adalah Kyai Basthom. Banyak orang memanggil nama beliau dengan sebutan Mbah Yai. Tradisi yang berlaku di desa itu, menyebut nama orang tua, apalagi terhadap seorang kyai yang dihormati, dianggap tidak lazim atau bahkan terasa kurang sopan. Karena itulah, orang menyebut Kyai Basthom dengan sebutan Mbah Yai. Kyai Basthom, pengasuh sebuah pesantren kecil, tinggal di daerah Trenggalek, bagian selatan. Di daerah itu tidak ada pesantren lainnya, sehingga sekalipun kecil, pesantren Kyai Basthom menjadi terbesar di wilayah itu. Masyarakat sangat hormat kepada kyai ini, sekalipun mereka tidak pernah ngaji kepadanya dan bukan tergolong santri. Sudah beberapa tahun kyai Basthom wafat, tetapi pesantrennya masih tetap berlanjut, diteruskan oleh putranya. Sekalipun tidak sewibawa ayahnya, putra penerusnya masih diposisikan oleh masyarakat sebagai tokoh agama di wilayah itu. Dalam waktu-waktu tertentu, sebagaimana ayahnya dulu, putra penerusnya itu diminta memberi pengajian atau memimpin kegiatan yang bernuansa keagamaan. Setidaknya ada dua hal, yang tidak akan pernah saya lupakan dari kehidupan kyai ini. Pertama, tentang istiqomahnya di dalam memberikan pengajaran dan bimbingan keagamaan sehari-hari pada umatnya. Kedua, kesederhanaan hidupnya. Penyebutan dua hal tersebut bukan berarti sifat lainnya tidak dimiliki, seperti misalnya tentang keikhlasan, kesabaran, dan ketekunannya dalam mengajar para santri, apalagi dalam memimpin jamaáh di masjidnya sehari-hari. Selain mengajar ngaji di pesantrennya, Kyai Basthom memiliki kegiatan pengajian rutin di beberapa tempat, yang masing-masing jaraknya berjauahan, berada di desa yang berlainan. Kyai Basthom selalu mendatangi sendiri kelompok-kelompok pengajian rutin itu. Memberi pengajian rupanya oleh Kyai dianggap sebagai tugas pokok, pentingnya melebihi bekerja sehari-hari untuk mendapatkan rizki. Padahal kegiatan pengajian itu tidak pernah mendapatkan imbalan apa-apa. Adanya beberapa kelompok pengajian itu, menjadikan kyai Basthom sudah tidak memiliki waktu yang kosong. Hampir setiap malam,——bakda isya’, beliau memberi pengajian secara bergantian dari kelompok satu ke kelompok berikutnya. Jumlah kelompok pengajian cukup banyak, sehingga jadwal pengajian di masing-masing tempat tidak bisa dilaksanakan setiap minggu sekali. Pengajian itu ada yang diselenggarakan setiap dua minggu sekali, atau sebulan sekali. Apalagi jika ada acara lain, misalnya Kyai harus memberi ceramah pada peringatan hari besar Islam, seperti mauludan, isra’mi’raj nabi dan semacamnya, maka pengajian rutin ditiadakan. Sekalipun tidak terlalu disiplin, saya sering mengikuti pengajian Kyai Basthom. Dalam pengajian itu, kyai membaca al Qurán, menterjemahkan, dan selanjutnya memberikan ulasan ayat demi ayat kitab suci itu. Dalam setiap kali pengajian, kyai hanya membaca beberapa, antara sepuluh hingga dua puluh ayat. Biasanya para peserta pengajian, yang kebanyakan orang tua, sekedar menyimak dan atau mendengarkan. Tidak ada pertanyaan terkait dengan penjelasan kyai. Selesai mengaji, kyai meninggalkan tempat. Cara seperti inilah yang dilakukan kyai Basthom secara istiqomah. Para peserta pengajian tidak dipungut biaya sedikitpun. Semua dilakukan dengan ikhlas. Kyai, dengan memberi pengajian itu, menganggap kewajibannya telah gugur. Sebagai seorang kyai, ia merasa berkewajiban membagi ilmunya. Demikian pula, para jamaáh dengan mengikuti pengajian, maka kewajiban menuntut ilmu, baginya telah ditunaikan. Kegiatan itu tidak membutuhkan daftar hadir, atau lainnya. Namun, siapa yang rajin dan yang hanya datang sekali-kali, dikenali oleh banyak orang. Sehingga di desa itu, antara mereka yang rajin dan siapa pula yang tidak begitu rajin mengikuti pengajian, diketahui oleh setiap orang. Pengajian al Qurán dengan cara seperti itu, dari awal hingga akhir, khatam 30 juz, memerlukan waktu beberapa tahun. Setelah khatam, biasanya diulang lagi dari awal, yaitu dari Surat al Fatekhah dan seterusnya. Pengajian al Qurán seperti tersebut, tidak pernah mengenal berhenti. Inilah yang saya katakan, bahwa Kyai Basthom sangat istiqomah dalam memberikan pengajiannya. Jika para jamaáh karena sesuatu alasan banyak yang tidak hadir, —–misalnya karena hujan, kyai pun tetap hadir. Pengajian juga tetap jalan, sekalipun yang mendengarkan hanya beberapa orang saja. Kelebihan Kyai lainnya adalah kesederhanaannya dalam menjalani hidup sehari-hari. Kyai Basthom di desa itu bukan termasuk orang kaya. Ia tidak sebagaimana kyai, yang saya lihat pada umumnya. Kyai Basthom tidak memiliki sawah, kebun, atau usaha lain berskala besar yang mendatangkan penghasilan. Sekalipun setiap malam, kyai aktif mengaji, pada pagi setelah memberi pengajian di pesantrennya, ia segera pergi mencari dagangan dan menjualnya ke pasar. Saya pernah melihat sendiri, kyai Basthom dengan sepeda tuanya mencari dagangan di pinggir jalan, dan kemudian menjualnya ke pasar. Dagangan kyai hanyalah bahan kebutuhan pokok sederhana, seperti gula merah, pathi, dan sayur-sayuran. Saya lihat, Kyai tidak malu dengan jenis usahanya itu. Kyai tatkala bertemu dengan banyak orang, juga tidak pernah berbicara soal-soal yang terkait dengan dagangannya. Ia banyak bicara soal-soal agama. Kyai berdagang hanya untuk mencukupi kebutuhan hidup keluarga sehari-hari. Dengan berdagang seperti itu, ——saya lihat, Kyai ingin memberikan tauladan, bagaimana seharusnya seseorang mencari rizki, termasuk dalam berdagang. Kesederhanaan hidup kyai memberikan pelajaran, bahwa seseorang tidak perlu dijunjung tinggi-tinggi, hanya karena sukses, telah mendapatkan rizki lebih banyak dari lainnya. Saya pernah mendengar isi pengajiannya, bahwa rizki itu dianggap hanya sebatas bekal hidup. Bekal itu, agar tidak membebani di dalam perjalanan tidak perlu banyak-banyak. Bekal itu, ukurannya yang penting cukup. Kyai berpandangan bahwa musyafir yang sukses bukan terletak pada jumlah bekalnya, melainkan pada keberhasilannya hingga sampai di tempat tujuan dengan selamat. Kyai mengajarkan bahwa dalam mencari rizki, dengan apa saja boleh dilakukan, asalkan halal, baik, dan membawa berkah. Tidak ada jenis pekerjaan yang lebih mulia atau sebaliknya, hina. Dalam beberapa kali pengajiannya yang saya dengar, Kyai menjelaskan bahwa manusia dalam mencari rizki harus ditempuh dengan jujur dan sebaliknya, tidak boleh berbohong. Meminta-minta juga tidak dibolehkan. Dalam mencari rizki pedoman atau ukurannya adalah halal dan baik, dan tidak perlu dikaitkan dengan prestise. Kyai tidak merasa rendah diri, lantaran hanya menjadi pedagang gula merah dan pathi. Dagangan kyai, tidak banyak jumlahnya, yaitu hanya sebatas dia mampu membawanya, dengan sarana sepeda onthel yang sudah tua itu. Sekalipun dagangannya sesederhana itu, kyai di mata masyarakat tetap berwibawa. Semua orang menghormati kyai, karena kesalehan dan kejujurannya. Kyai juga tidak mau diistimewakan tatkala membeli atau menjual dagangannya. Kyai selalu membeli dan menjual dengan harga pasar. Oleh masyarakat, Kyai dianggap juga sebagai contoh dalam berdagang, yaitu melakukannya secara jujur, sabar, dan ikhlas. Penampilan Kyai Basthom sehari-hari sangat sederhana. Biasanya dengan mengendarai sepeda onthel tua, sarung dan baju yang tampak jarang berganti-ganti, kyai pergi ke mana-mana memberi pengajian. Setiap malam, ia mengaji dan menjelaskan isi al Qurán dari ayat ke ayat berikutnya hingga khatam. Kegiatan itu dilakukan dari kelompok pengajian satu ke kelompok pengajian berikutnya. Saya melihat, tidak ada motif apapun dari kegiatannya itu, kecuali menunaikan kewajiban dari Allah dan berharap mendapatkan ridho-Nya. Selama itu, saya tidak pernah mendengar Kyai berbicara tentang biaya pengajian, apalagi anggaran kegiatannya. Seringkali saya mendengar, kyai mengatakan bahwa, perpecahan di tengah masyarakat yang mengakibatkan putusnya hubungan kekeluargaan dan silaturrahmi di berbagai tingkatannya, adalah bersumber dari uang atau dana. Uang, dana, dan harta inilah,———– kata Kyai, keberadaannya penting, tetapi jika tidak benar mengurus dan memandangnya, maka justru akan melahirkan kesengsaraan. Banyak orang celaka yang disebabkan oleh harta. Apa yang dikatakan oleh Kyai Basthom, lalu saya bandingkan dengan kenyataan pada akhir-akhir ini, ——— banyak orang masuk penjara, rasanya tepat sekali. Banyak pejabat, yang semula sangat dihormati dan dimuliakan, namun hanya karena persoalan harta, melakukan korupsi, akhirnya ditangkap dan diadili, hingga harga diri dan martabatnya jatuh. Mereka dimasukkan ke penjara. Dalam hal tertentu, ternyata harta memang justru mencelakakan. Harta suatu saat bisa menjadikan pemiliknya jatuh celaka dan sengsara. Nasehat dan cara hidup Kyai Basthom, sebagaimana dikemukakan di muka, rasanya memang tepat untuk dijadikan pelajaran hidup yang sangat berharga. Wallahu a’lam.

Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo

Rektor  Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

Share
below article banner

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *