Mungkin sementara orang membayangkan, bahwa kegiatan kuliah sehari-hari ditambah dengan bisnis sudah membikin capek. Kuliah di kampus saja sudah dirasa berat. Sebab setelah kuliah masih harus mengerjakan tugas. Kadang dosen pemegang mata kuliah yang memberi tugas setiap minggunya tidak hanya satu, atau dua orang, tetapi lebih dari itu. Itulah yang menjadikan beban kerja itu menjadi berat. Oleh karena itu, kalau masih ditambah dengan bisnis, —–sekalipun tidak dijalankan setiap hari, maka beban itu akan bertambah berat lagi. Bisnis juga memerlukan konsentrasi yang tidak sedikit. Bekerja sebagai pebisnis selalu terkait dengan upaya mencari strategi, berkomunikasi dengan orang, menghitung resiko, mamanage waktu, dan seterusnya. Semua itu memerlukan energy yang tidak sedikit. Maka, kalau kegiatan kuliah juga masih harus dirangkap dengan bisnis, memang menjadi berat. Saya selain mengerjakan dua hal tersebut secara bersamaan, masih menambah lagi dengan belajar di pesantren. Ketika itu saya berpandangan bahwa pengetahuan agama sangat penting sebagai bekal menghadapi kehidupan di masa depan. Pengetahuan agama, selain untuk kepentingan pribadi sehari-hari, juga sangat efektif untuk bekal berkomunikasi dengan masyarakat luas. Ketika itu, saya melihat bahwa orang-orang yang memiliki bekal pengetahuan agama yang cukup, tampak lebih mudah bergaul dengan masyarakat luas. Hasil penglihatan seperti itu mendorong saya untuk menambah pengetahuan agama di pesantren. Selama kuliah, sekalipun sudah merangkap berbisnis, saya masih memiliki kegiatan tambahan lagi, yaitu ikut belajar di pesantren yang diasuh oleh KH.Oesman Mansyur dan KH Achmad Muhdlor dan beberapa kyai lainnya. Sekalipun kegiatan sangat padat, saya selalu berusaha mengikuti kajian-kajian atau beberapa latihan yang dijadwalkan oleh pesdantren ini. Pesantren yang saya pilih, memang tidak sama sebagaimana pondok pesantren pada umumnya. Pesantren itu dirintis dan dikelola oleh beberapa dosen IAIN Malang, ——sebagaimana saya sebutkan di muka, mengambil tempat di gedung Universitas Sunan Giri, yang sekarang perguruan tinggi itu berubah dan berkembang menjadi Universitas Islam Malang. Universitas Sunan Giri atau disebut Unsuri, ketika itu sudah memiliki gedung yang besar, namun jumlah mahasiswanya tidak begitu banyak. Gedung yang belum terlalu banyak dimanfaatkan itulah kemudian, oleh KH. Oesman Mansyur dan KH.Achmad Muchdlor dijadikan tempat mengaji. Kegiatan itu diberi nama Pesantren Luhur. Saya selama kuliah ikut senjadi santri di pesantren itu. Jumlah santri di Pesantren Luhur ketika itu tidak banyak, hanya belasan orang. Saya ingat beberapa alumni yang masih ada di Malang di antaranya Pak Achmad Syafi’i, Pak Muchtar Bisri, Pak Jihaduddin, termasuk saya. Pesantren itu sampai sekarang masih ada dan berkembang, hanya tempatnya tidak di gedung Unsuri lagi, dipindah ke rumah salah seorang perintis dan pengasuhnya, KH.Achmad Muchdlor, di jl. Gajayana, sebelah kanan pintu masuk UIN Maliki Malang. Ketika itu, waktu belajar di Pesantren Luhur itu tidak pada setiap hari, hanya mengambil beberapa malam pada setiap minggu. Saya masih ingat, para kyai pengasuh Pesantren Luhur memberikan doktrin-doktrin yang sangat kuat tentang tanggung jawab dan tantangan sebagai seorang sarjana muslim ke depan. Doktrin-doktrin itulah yang menjadikan cita-cita dan semangat belajar sedemikian tinggi. Sekalipun aktivitas pesantren itu hanya beberapa hari pada setiap minggu, tetapi terasa benar, berhasil memberikan ruh, atau lebih tepat saya menyebutnya sebagai nyawa, untuk menyulut etos belajar dan berjuang yang tinggi. Melalui pesantren luhur, saya mendapatkan banyak hal, yaitu motivasi, cita-cita, kepercayaan diri, serta perasaan ingin ikut bertanggung jawab terhadap umat ke depan. Pesantren Luhur, —–ketika itu, memberikan tauladan nyata tentang keikhlasan dalam berjuang. Kyai tidak pernah diberi honor dan santri pun tidak pernah dipungut biaya. Terasa sekali, bahwa para kyai pengasuh pesantren, —-Kyai Oesman Mansyur, Kyai Achmad Muchdlor, Ustadz Buchori Saleh LAS, melalui pesantren ini, bermaksud menyiapkan kader-kader pemimpin umat masa depan. Para kyai berusaha memberi nilai tambah terhadap ilmu yang didapat oleh para mahasiswa dari kampusnya. Belajar di Pesantren Luhur, mengambil waktu di malam hari, mengkaji kitab kuning dan juga beberapa materi lainnya. Pada waktu-waktu tertentu, para santri diberikan latihan berpidato, dan juga berkhutbah, menyusun makalah, dan bahkan juga latihan memimpin kegiatan ritual keagamaan, seperti tahlil dan sebagainya. Saya masih ingat, apa yang selalu disampaikan oleh Kyai Achmad Muhdlor, bahwa seorang sarjana, ——–apalagi lulusan IAIN, jika tidak memiliki kemampuan memimpin kegiatan ritual keagamaan, justru akan teraliniasi dari masyarakatnya. Berbagai macam kegiatan yang saya lakukan secara bersama-sama, yaitu kuliah, bisnis dan mengaji di pesantren, terasa justru memberikan keutungan yang luar biasa besarnya. Saya selalu mendapatkan tantangan dan belajar mengatasinya. Energi tidak ada yang mengendap dan semua terasa tersalurkan, dan ternyata justru menguntungkan. Atas dasar pengalaman itu, saya menjadi tidak percaya terhadap pandangan sementara orang yang mengatakan bahwa, semakin banyak beban, maka akan gagal di kemudian hari. Saya justru berpandangan sebaliknya, bahwa semakin besar tantangan yang diciptakan dan dihadapinya, maka justru semakin terlatih, dan menjadikan seseorang semakin tangguh hidupnya. Belajar dari pengamatan dan utamanya pengalaman pribadi itu saya berpandangan bahwa, sukses di kemudian hari hanya akan diraih oleh orang-orang yang berani menghadapi tantangan dan resiko. Sebaliknya, para pemalas dan orang-orang yang selalu lari dari tantangan, hanya akan menjadi pengecut, suka mengeluh, dan menyalahkan keadaan. Seseorang sekalipun akhirnya secara formal berhasil menjadi sarjana, jika tidak terlatih menghadapi tantangan yang cukup dan keras, maka hidup mereka tidak akan memberi banyak manfaat, kecuali pada dirinya sendiri .Oleh karena itu, selama ini saya menyukai banyak tantangan dan selalu berusaha memecahkannya. Terakhir, bagaikan ikan, saya lebih menyukai hidup di air yang berarus keras, daripada hidup di kolam yang tenang. Ikan-ikan yang hidup di kolam, biasanya lembek. Saya sama sekali tidak menyukainya. Wallahu a’lam.
Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo
Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang
Arabiyatuna Arabiyatuna
