Pagi-pagi, dalam perjalanan dari Hotel menuju ke Bandara Soerkarno Hatta, saya naik taksi. Saya lihat di taksi itu, sebagaimana banyak terlihat di banyak mobil lainnya, digantung di tangkai kaca spion bagian dalam sebelah sopir, seuntai tasbih. Dalam batin saya, sopir taksi tersebut seorang muslim. Sebab, tasbih biasanya tidak saja digunakan sebagai alat menghitung berapa kali dzikir diucapkan, tetapi juga digukan oleh pemiliknya, sebagai identitas seorang muslim. Maka pikir saja, sopir taksi ini adalah seorang pemeluk Islam. Pakaian sopir taksi itu tidak ada yang berbeda dari pakaian sopir-sopir pada umumnya, ia pakai seragam armada taksinya. Maksud saya ia tidak menunjukkan identitas sebagai seorang muslim, misalnya, pakai songkok atau kopyah. Sopir itu cukup berpakaian rapi, sekalipun masih di pagi-pagi buta itu. Untuk mengawali pembicaraan, saya menanyakan, apakah semalaman tidak tidur, pagi begini sudah siap bekerja. Pertanyaan saya tersebut dijawab, bahwa dia tidur sebagaimana biasa, hanya dilakukan di dalam taksi. Tidur seperti itu dianggap biasa, dan dirasa sudah cukup. Di pagi itu, dia juga sudah kelihatan segar. Sebelum dipanggil pihak hotel untuk mengantarkan tamu, dia sudah ambil air wudhu dan sholat subuh. Pertanyaan saya yang sederhana itu, ternyata menjadikan dia terbuka. Dia menceritakan tentang kehidupan seorang taksi. Sebagai seorang sopir, ia mengaku berat, tetapi harus dijalani untuk mendapatkan rizki yang halal. Namun begitu, dia merasa bersyukur sekalipun berpendapatan pas-pasan. Sebab di Jakarta, tidak sedikt orang yang kehidupannya lebih sulit dari sopir taksi. Selain itu, dia mengaku lebih bersyukur lagi, karena isteri dan anak-anaknya tidak banyak menuntut. Berapa saja penghasilan yang didapat, isterinya menerima dan bisa mencukupkan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Demikian juga tiga anaknya, yang semuanya sudah sekolah, mengerti bahwa ayahnya berpenghasilan terbatas, sehingga tidak menuntut sesuatu yang tidak mungkin dipenuhi. Hal seperti itulah yang menjadikan sopir taksi itu selalu bersyukur dan hidupnya tenang. Penghasilan sebagai sopir taksi di Jakarta, dikatakan olehnya, tidak seberapa. Dia menganggap bahwa rizki itu sudah dibagi oleh Allah. Penghasilan orang swasta, termasuk sopir taksi tidak menentu, kadang naik, sedang, tetapi sebaliknya, pada saat yang lain turun. Dia katakan bahwa rizki itu mirip dengan ombak di laut. Kadang ombak itu naik tinggi, kadang sedang, tetapi sebaliknya kadang juga turun. Naik turun itu justru menjadikan kehidupan bisa lebih dinikmati. Pembicaraan sopir taksi di sepanjang jalan itu terasa sekali, sangat mengasikkan. Sekalipun pekerjaannya sehari-hari sebagai seorang sopir taksi, yang harus menyesuaikan dengan penumpangnya, mengaku bahwa jika waktunya sholat, ia berusaha segera menunaikannya. Apalagi, jika tidak sedang melayani penumpang dan telah masuk waktu sholat, maka segera mencari masjid untuk menunaikan ibadah itu. Bekerja dan beribadah menunaikan sholat lima waktu, keduanya menurut pengakuannya harus ditunaikan sebaik-baknya. Tanpa terasa, selama kurang lebih 40 menit, ternyata taksi sudah nyampai di Bandara Soekarno Hatta. Sebelum turun, saya berikan ongkos taksi itu. Setelah dilihat uang itu ternyata lebih dan harus diambilkan pengembaliannya. Saya katakan, bahwa kelebihan itu tidak perlu dikembalikan. Maka sopir taksi itu secara spontan menyampaikan ucapan terima kasih dan menyebut kalimat : älhamdulillah”. Pembicaraan dengan sopir taksi di perjalanan itu, saya benar-benar merasakan bahwa Islam ada di taksi itu. Saya lihat taksi itu bersih, sopirnya jujur, penuh rasa syukur, tawakkal, sabar, dan menjaga sholat lima waktu sebaik-baiknya. Turun dari taksi itu, saya merasa telah mendapatkan gambaran tentang kehidupan sederhana, tetapi sesungguhnya tidak semua orang berhasil meraihnya. Sopir taksi tersebut telah mendapatkan nikmat dan ketenangan hidup yang sebenarnya, dan belum tentu berhasil diraih oleh orang-orang yang dianggap terpandang sekalipun. Wallahu a’lam.
Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo
Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang
Arabiyatuna Arabiyatuna
