Setidak-tidaknya dua kata di atas, —sukses dan bersyukur, seperti yang saya lihat dengan jelas dari kepemimpinan Pak Amin Abdullah di Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta. Kata sukses bagi Pak Amin Abdullah tidak berlebihan untuk disandang. Karena Pak Amin telah berhasil membuat catatan besar terhadap sejarah perkembangan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
Kampus yang semula hanya dikenal sebagai perguruan Islam paling tua, termasuk bangunan fisiknya, di tengah-tengah kepemimpinan Pak Amin Abdullah kini telah berubah wajah, kelembagaan dan mungkin juga tradisinya. Sekalipun rencana perubahan besar itu, telah dimulai sejak sebelum kepemimpinan Pak Amin, tetapi semua orang tahu, bahwa perubahan besar itu tatkala masa kepemimpinan Pak Amin Abdullah. Beberapa perubahan mendasar masa kepemimpinan Pak Amin, yang hal itu tidaklah mudah dilakukan adalah menyangkut kelembagaan. Catatan penting yang perlu dikenang adalah Pak Amin Abdullah berhasil mengubah IAIN Sunan Kalijaga berubah menjadi Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta. Sebatas mengubah kelembagaan, sekalipun sulit, masih ada yang lebih sulit lagi, yaitu mengubah mindset. Perubahan kelembagaan cukup dilakukan dengan mengirim proposal, beradu argumentasi terhadap pentingnya perubahan itu ke berbagai kementerian yang terkait, dan akhirnya disetujui. Tugas itu tidak mudah, tetapi telah dilewati oleh Pak Amin Abdullah dan berhasil. Masih terkait dengan perubahan itu adalah mengubah mindset tersebut. Pekerjaan ini lebih tidak mudah lagi, karena menyangkut sejumlah banyak orang, yaitu seluruh keluarga besar UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, mulai dari Guru Besar, dosen, karyawan dan mahasiswanya. Tugas yang tidak gampang tersebut, juga berhasil dilakukan Pak Amin Abdullah. Pak Amin Abdullah dalam menjelaskan idenya, terkait dengan perubahan kelembagaan dari bentuk institut ke universitas, yang harus menggabungkan antara ilmu agama dan ilmu umum yang tidak mudah diterima oleh banyak kalangan, ia mampu menyusun peraga dengan menggunakan karya binatang kecil yang disebut laba-laba. Rumah laba-laba itulah yang digunakan oleh Pak Amin Abdullah sebagai tamsil (contoh, ilustrasi) keharusan adanya hubungan erat atau interkoneksi antara studi Islam dengan ilmu-ilmu modern lainnya, yang harus menyatu dalam paradigma keilmuan yang dikaji di universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta. Usahanya tersebut telah berhasil dikonsep dan kini menjadi bangunan keilmuan UIN Sunan Kalijaga, meski melewati lika-liku yang berat dan panjang. Menyusul perubahan kelembagaan itu, Pak Amin juga harus berusaha keras mendapatkan bantuan dana dari IDB yang telah dirintis oleh kepemimpinan sebelumnya. Tugas ini juga tidak mudah, berbagai komunikasi, meyakinkan orang-orang pengambil keputusan terkait dengan bantuan IDB tesebut, memanage proyek dan berbagai hal lainnya. Berkat kemampuannya menjalin koordinasi di antara berbagai tenaga-tenaga yang berlatar belakang berbeda-beda, beliau juga mampu menyelesaikan dengan baik. Tantangan lain yang pernah dihadapi Pak Amin Abdullah adalah ketika di tengah-tengah kebahagiaan melihat bangunan kampus hampir selesai, ternyata digoyang oleh gempa bumi dahsyat, hingga bangunan yang hampir sampai titik finish, terlihat porak poranda. Hempasan demi hempasan, dilewati dan berhasil diselesaikan Pak Amin Abdullah. Boleh saja orang mengatakan, bahwa memanage penyelesaikan bangunan, termasuk bangunan kampus yang besar itu tidaklah sulit. Tetapi yang tidak boleh dilupakan, bahwa tatkala bangunan itu diselesaikan mau tidak mau terkait dengan banyak orang, termasuk harus memindahkan beberapa penghuni rumah dinas di lingkungan kampus. Pekerjaan ini juga tidak mudah dilakukan, karena menyangkut kehidupan seseorang, keluarga, sejarah, dan banyak lagi lainnya. Masih banyak lagi hal lain yang telah dihadapi oleh Pak Amin Abdullah dalam memimpin kampus UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Membuka Fakultas baru, merekrut dosen dan tenaga laboran, maupun administrasi, menyusun manajemen hingga berstatus BLU, penjaminan mutu, dan lain-lain. Ternyata semua telah dilalui oleh Pak Amin Abdullah, dan akhirnya setelah dua periode memimpin, kabarnya akan segera diakhiri. Amanah itu memang berat, jalannya berliku-liku, banyak hambatan, tetapi atas pertolongan Allah swt., berhasil ditunaikan oleh Pak Amin Abdullah. Hal yang saya sangat senang dan bersyukur, setiap ketemu Pak Amin, ia selalu menunjukkan kegembiraannya. Saya selalu lihat Pak Amin Abdullah termasuk orang yang pandai bersyukur, kaya imaninasi, cita-cita, dan harapan besar terhadap kampus yang dipimpinnya di masa depan. Dalam setiap ketemu, Pak Amin Abdullah selalu menunjukkan kegembiraan dan rasa syukurnya. Selain itu, yang saya anggap penting dicatat, saya sering mendengar sendiri dari Pak Amin Abdullan, bahwa beban tugasnya selama memimpin kampus tidak saja dimaknai dalam kerangka menunaikan tugas, melainkan sebagai karya besar membangun peradaban Islam melalui UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Sebagai sesama pimpinan Perguruan Tinggi Islam, saya ingin menyampaikan terima kasih yang mendalam atas pikiran-pikiran, semangat, ide-ide besar dan segar yang telah dibagikan dan kebersamaannya dalam membangun dan mengembangkan Perguruan Tinggi Islam. Semoga apa yang telah dibangun dan dikembangkan oleh Pak Amin Abdullah bisa diteruskan oleh generasi setelahnya tanpa putus dan menjadi tauladan yang indah. Selamat telah berhasil mengantarkan UIN Sunan Kalijaga sampai di garis finish dan semoga selalu tetap berkarya seterusnya.
Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo
Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang
Arabiyatuna Arabiyatuna
