Friday, 19 June 2026
above article banner area

Dibutuhkan Bimbingan Dan Bukan Sebatas Contoh Perselisihan

Bangsa ini sesungguhnya sudah sangat memerlukan bimbingan, dalam pengertian yang sebenarnya. Yakni bimbingan bagaimana keluar dari kemiskinan, kebodohan, dan ketetinggalan. Mereka yang miskin jumlahnya sangat besar di negeri ini. Di tengah-tengah kemiskinan itu terdapat pula orang yang terlalu kaya, sekalipun jumlahnya tidak seberapa. Maka terjadi kesenjangan yang sesungguhnya tidak boleh dianggap sederhana. Jika kesenjangan itu dibiarkan akan membahayakan bagi bangsa di masa depan.

Sementara orang, menyebut bahwa bangsa ini miskin atau tertinggal. Tetapi sebutan itu tidak seluruhnya benar. Sebab, secara ekonomi bangsa ini sudah ada yang kaya raya. Kita lihat misalnya di kota-kota besar, terdapat bangunan hotel-hotel yang menjulang tinggi, pabrik-pabrik besar, pertokoan, mall ada di mana-mana. Pengusaha di bidang perkebunan, pertambangan, transportasi laut, darat dan udara, perdagangan, semua berkembang dan melahirkan orang-orang kaya di negeri ini. Yang sebenarnya terjadi adalah belum adanya pemerataan. Gambaran itu dengan mudah dilihat. Rumah-rumah reyot di pinggir sungai, di sekitar jembatan, atau rel kereta api, dan juga di pinggir-pinggir jalan ada di mana-mana,dan semua kelihatan kumuh, dibangun dengan bahan seadanya. Di rumah-rumah sederhana, yang kadang tidak pantas dilihat sebagai rumah manusia, tentu penghuninya adalah orang-orang miskin dengan berbagai kekurangan dan penderitaannya. Mereka itu adalah orang-orang tertinggal, tersisih, miskin, dan menderita. Gambaran seperti itu, ternyata juga sama, banyak terjadi di desa-desa. Melihat kenyataan itu, di negeri ini secara ekonomis dan sosial sesungguhnya telah terjadi kesenjangan yang luar biasa, antara si miskin dengan si kaya sedemikian jauh. Orang miskin sebagaimana orang kaya ada di mana-mana, baik di kota maupun di desa. Jika kita lihat di Jakarta misalnya, di tepi jalan dari Bandara Sukarno Hatta menuju kota, di kanan kiri jalan, terdapat perkampungan kumuh hingga menjadikan sedih dan prihatin tatkala melihatnya. Jumlah mereka sedemikian banyak. Oleh karena itu sangat tidak mungkin kalau para pemimpin bangsa ini tidak pernah melihatnya. Kemiskinan sangat parah juga ada di pedesaan, termasuk di luar Jawa. Saya pernah mendapatkan cerita dari seorang kawan, yang justru berdinas di Jakarta. Ketika menghadiri pesta pernikahan salah seorang stafnya di sebuah desa pinggir pantai di luar Jawa, menyaksikan orang-orang yang sangat miskin. Cerita itu sangat menyedihkan. Sekalipun pesta belum usai, di luar rumah tempat pesta itu, sudah berkumpul puluhan orang miskin menunggu dan berharap mendapatkan bagian dari sisa makanan yang disajikan dalam pesta tersebut. Fenomena seperti itu, bagi masyarakat setempat yang umumnya miskin, sudah menjadi pemandangan biasa. Akan tetapi bagi teman yang baru kali itu menyaksikan peristiwa itu, menjadi sedih dan haru. Ia bertanya pada dirinya sendiri, inikah bangsa kita, yang telah lama memiliki dokumen dengan kalimat-kalimat indah yaitu Pancasila dan UUD 1945. Dokumen itu di antaranya mengatakan bahwa kesejahteraan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Lebih dari itu, bagi yang muslim, sebut teman tadi, kita sehari-hari juga membaca dan hafal Surat al Ma’un. Di sana disebutkan bahwa salah satu kelompok pendusta agama adalah orang-orang yang tidak memperhatikan anak yatim dan juga tidak mau memberi makan kepada orang miskin. Jurang atau kesenjangan sosial itu kadang sangat jauh antara kelompok orang-orang yang berlebih dengan orang-orang yang miskin. Kesenjangan itu ada di mana-mana, ada di kota dan juga di desa-desa. Di kota besar, misalnya di Jakarta, kita dengan mudah menyaksikan beberapa orang kaya di tengah lautan kemiskinan. Demikian juga di pedesaan, terdapat pemilik tanah yang luas, mereka hidup di tengah-tengah orang miskin sebagai buruh tani. Upah yang diperoleh para buruh tani tersebut umumnya sangat kecil. Sebatas untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, tidak mencukupi. Sehingga, mereka miskin dan benar-benar miskin. Kemiskinan menurut ajaran apapun harus dihilangkan. Kemiskinan tidak saja menjadikan sebab penderitaan yang bersangkutan, tetapi secara ekonomi juga tidak menguntungkan. Masyarakat miskin menjadi sebab rendahnya pertumbuhan ekonomi, terlebih-lebih ekonomi modern. Contoh yang amat mudah, ialah tidak mungkin orang miskin dijadikan pasar benda-benda mahal. Bahkan membangun universitas modern dengan biaya tinggi tidak akan didatangi calon mahasiswa dari komunitas itu, kecuali disediakan beasiswa bagi mereka. Oleh karena itu, Islam sebagai agama yang menjadikan umatnya selamat dan sejahtera, memberikan bimbingan agar menghilangkan kemiskinan. Dalam Islam ada konsep zakat, infaq, shodaqoh, hibah dan lain-lain. Dijelaskan bahwa tangan di atas lebih mulia dari tangan di bawah. Islam menganjurkan agar umatnya selalu kerja berkualitas atau beramal sholeh. Kaum muslimin oleh kitab suci dan tauladan rasulnya didorong agar bekerja untuk mendapatkan rizki. Mencari kayu bakar, lalu menjualnya dipandang jauh lebih baik daripada menganggur, supaya tidak jatuh miskin, dan apalagi berakibat membebani orang lain. Kesenjangan antara yang kaya dan yang miskin harus dihilangkan. Konsep untuk mendekatkan si kaya dan si miskin, Islam sesungguhnya memiliki dengan sangat jelas. Jika mau, sebagaimana dilaksanakan di Iran menjalankan apa yang disebut dengan istilah khumus. Yakni, mengambil dua puluh persen dari sisa pendapatan setiap tahunnya kepada setiap orang, pengusaha, dan atau sumber ekonomi apapun, kemudian di antaranya —–selain langsung diberikan kepada fakir miskin untuk kepentingan konsumtif, digunakan pula untuk membuka lapangan kerja baru sebagai pintu menghilangkan kemiskinan. Ternyata dengan konsep itu hasilnya baik sekali. Sebenarnya di Indonesia, sudah banyak contoh, bagaimana memobilisasi zakat. Jika kewajiban itu dimanage dan diorganisasi secara baik, dalam batas-batas tertentu, bisa digunakan untuk mengentaskan kemiskinan. Maka yang diperlukan pada saat ini adalah bimbingan secara nyata. Dan yang lebih penting, harus dihindari sejauh-jauhnya terjadinya hubungan antara yang kaya dan yang miskin yang justru bersifat eksploitatif. Yaitu hubungan yang justru lebih memiskinkan bagi yang sudah miskin. Negeri ini sangat memerlukan pemimpin yang kuat, seperti kisah kehidupan Umar bin Khotob. Khalifah ini dalam sejarahnya dikenal sebagai penguasa yang berani melakukan langkah-langkah strategis, dan bahkan berijtihad untuk mengentaskan kemiskinan. Khalifah Umar bin Khotob juga selalu memposisikan diri sebagai pembimbing dan juga sekaligus jembatan kuat dan kokoh antara dua kelompok yang berada pada keadaan yang berbeda itu. Setiap muncul pemimpin baru dari proses demokrasi, diharapkan menjadi kekuatan untuk menghilangkan kesenjangan itu. Kesenjangan supaya diakhiri agar tidak selalu menjadi pemandangan yang menyedihkan sehari-hari. Harapan itu sedemikian besarnya, tetapi setiap diperoleh pemimpin baru di negeri ini, ternyata bukan peran-peran sebagai pembimbing yang dimainkan, melainkan justru menjadi tambahan kekuatan bagi yang sudah kuat. Dengan berbagai aturan yang diciptakan, para pemimpin terasa tidak berpihak pada rakyat yang seharusnya dilindungi, malah justru membela dan melindungi mereka yang telah kuat. Contoh sederhana tentang hal tersebut, di berbagai kota para pedagang kecil —–dengan dalih agar tidak mengganggu keindahan kota, mereka dilarang berjualan, bahkan dikejar-kejar agar menyisih. Contoh sederhana lainnya, di tempat-tempat yang semula digunakan sebagai pusat berjualan pedagang kecil, maka atas seijin pejabat setempat, dibangunlah pusat-pusat ekonomi modern, mall misalnya, yang berakibat mematikan usaha rakyat miskin yang sudah lama berjalan. Penguasa yang seharusnya melakukan peran sebagaimana dilakukan Umar bin Khotob, ——-khalifah yang kuat dan berani itu, justru berpihak dan bahkan melindungi yang kuat. Sebuah pemandangan yang sangat eronis, kepemimpinan yang lahir, dipilih, dan diangkat oleh orang-orang miskin, ——-melalui demokrasi, ternyata justru berpihak kepada orang yang melemahkan kaum miskin itu sendiri. Semogalah hiruk pikuk perebutan kekuasaan yang selalu terjadi dan diselenggarakan di negeri ini, dimenangkan oleh calon pemimpin yang bersedia menjadi pembimbing dan pembela orang-orang miskin, dan bukan sebatas memberi contoh berselisih yang tidak kelihatan manfaatnya dan pasti biayanya juga besar. Wallahu a’lam.

Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo

Rektor  Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

Share
below article banner

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *