Saturday, 20 June 2026
above article banner area

Pensiun Dan Berinfaq Baju Seragam

Kisah berikut ini sesungguhnya sangat sederhana, yaitu hanya tentang pensiunan PNS pada  kementerian agama. Seumur-umur, ia —-sengaja tidak saya sebut namanya, hanyalah sebagai pegawai di sebuah kantor pemerintah. Pangkatnya juga tidak tinggi, karena itu gajinya pun juga  kecil, sama sebagaimana PNS lain di mana saja.

  Selain itu, kisah ini sesunggguhnya saya dapatkan sudah cukup lama, dari teman dekat yang kebetulan mengetahuinya. Saya sendiri juga belum pernah ketemu dengan orang tersebut. Tetapi saya percaya atas kebenaran cerita itu. Sebab, teman saya yang menceritakan  kehidupan nyata  orang tersebut juga tidak ada maksud apa-apa, misalnya agar yang bersangkutan  didukung menjadi kepala desa,  anggota DPRD,  pengurus partai atau lainnya, bukan.   Seorang pegawai kementerian  agama, dalam cerita ini, setelah menerima SK pensiun justru bersyukur, merasa bahwa amanah yang dibebankan kepadanya telah usai, atau  berakhir. Ia merasa telah sampai di garis finish pengabdian pada negara sebagai PNS. Menurut pengakuannya, kegembiraan itu bukan karena merasa lepas dari tanggung jawab, bekerja melayani masyarakat sebagaimana yang dilakukan sehari-hari. Kegembiraan itu muncul karena  amanah itu secara formal  telah ditunaikan hingga di ujung akhir, yaitu telah pensiun.      Tanggung jawabnya sebagai pelayan masyarakat  tetap akan dilaksanakan, tanpa berstatus sebagai PNS.  Ikut merawat masjid atau mengajar ngaji bisa dilakukan sehari-hari. Setiap saat, yang ia lihat,  masyarakat  selalu membutuhkan pelayanan, baik soal ibadah,  pendidikan agama non formal, dan lain-lain. Sehingga, memasuki masa pensiun  tidak harus berhenti mengabdi pada masyarakat. Di setiap saat  bisa mengajar mengaji al Qurán, menghafalkan surat-surat pendek, melatih sholat bagi anak-anak. Baginya pensiunan tidak harus berhenti dari aktivitas untuk mengabdi dan melakukan kebaikan.   Selanjutnya, yang menarik dari orang ini, setelah menerima SK pensiun, maka  beberapa lembar baju seragam, seperti seragam korpri, baju sapari,  dan lain-lain, sebagaimana lazimnya hal dimiliki oleh PNS., segera dikumpulkan dan dicuci dan kemudian diseterika hingga menjadi rapi. Baju-baju ini disimpan, dan tidak digunakan lagi, karena dia sudah tidak merasa pantas memakainya, dengan alasan sudah pensiun.        Sebagaimana biasa, kepala kantor, tatkala ada pegawai yang memasuki masa pensiun,   menyelenggarakan acara perpisahan atau pelepasan. Acara itu dihadiri oleh semua pimpinan dan staf yang ada. Alangkah terkejutnya semua yang hadir, ternyata pensiunan pegawai kementerian agama yang memasuki masa pensiun itu,  datang dengan membawa baju seragam korpri, dan seragam lainnya yang sudah dikemas rapi.   Baju-baju seragam tersebut kemudian diserahkan kepada kepala kantor dengan harapan, —–jika masih dianggap pantas,  agar digunakan oleh teman-temannya yang masih dinas dan membutuhkannya. Dalam sambutannya, dia ingin agar apa yang dimiliki masih bisa digunakan oleh orang lain yang masih berdinas.  Selain itu, dia ingin agar tidak ada sesuatu, —–sebagaimana ajaran agama,  yang mubadzir. Ia berpikir, jika baju-baju tersebut  disimpan di rumah, tidak akan ada orang yang menggunakan lagi. Sebaliknya, jika diserahkan ke kantor kembali,  mungkin di antara pegawai tingkat bawah masih ada yang memanfaatkan.   Mendengar cerita itu, saya benar-benar terharu dan mungkin tidak pernah akan saya lupakan. Melalui cerita itu, saya membayangkan, ternyata di negeri ini masih ada orang-orang jujur, mencintai sesama, banyak bersyukur, dan  selalu merasa bahwa imbalan yang diterima setiap bulan , —–sekalipun kecil sebagai PNS,  sudah dianggap cukup. Orang tersebut  juga tidak pernah kurupsi, kolosi, dan pekerjaannya selalu ditunaikan sebaik-baiknya dengan penuh tanggung jawab.   Saya yakin, sekalipun sehari hari, baik  melalui TV, Koran, majalah, dan lain-lain selalu diberitakan  korupsi, manipulasi,  dan lain-lain, sesungguhnya di negeri ini masih saja ada orang-orang jujur dan selalu berbuat baik atas motivasi ajaran agama yang diyakininya. Pegawai kementerian agama  yang dikisahkan di muka adalah satu di antara contohnya.   Sayangnya,  berita-berita  baik di sekeliling kita  tidak banyak menarik media massa, kecuali justru yang bernuansa negative,  hingga menjadikan negeri ini, tekesan sedemikian buruknya. Padahal senyatanya yang terjadi tidak seperti yang selalu digambarkan itu. Indonesia sebenarnya  dikenal sebagai negeri yang  Indah,  pendudukannya ramah, dan selalu sanggup berbuat baik kepada siapa saja.  Hal itu harus menjadi kebanggaan dan  selalu  ditanamkan kepada anak-anak, generasi muda,  dan bahkan kepada siapa saja. Wallahu a’lam.

Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo

Rektor  Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

Share
below article banner

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *