Saturday, 18 April 2026
above article banner area

Memilih Pemimpin Lembaga Pendidikan

Posisi pemimpin di dalam setiap komunitas atau institusi selalu dianggap strategis, tidak terkecuali pemimpin lembaga pendidikan. Sudah banyak bukti, bahwa suatu institusi pendidikan, baru menjadi tampak dinamis tatkala memiliki pimpinan yang kaya ide, mau dan berani menjalankan, serta sangup berkorban untuk mewujudkan idenya itu.

Oleh karena itu sementara orang memandang bahwa keadaan institusi pendidikan sebenarnya merupakan cermin pimpinannya. Jika pimpinannya bagus maka lembaga yang dipimpinnya juga akan bagus. Jika terdapat lembaga pendidikan yang stagnan, —–tidak ada perkembangan, atau orang menyebutnya ”pathok bangkrong”, maka sesungguhnya hal itu disebabkan oleh faktor kualitas kepemimpinannya itu. Berangkat dari pandangan tersebut, maka tatkala memilih pimpinan apa saja, tidak terkecuali pimpinan pendidikan, tidak sepatutnya dilakukan secara sembarangan, atau asal memilih. Sebab, peran pimpinan dalam sebuah institusi pendidikan tidak sebatas sebagai penjaga kantor, melainkan sebagai sumber ide, inspirator, kekuatan penggerak sekaligus penunjuk arah, ke mana lembaga yang dipimpinnya itu akan dibawa. Pemimpin seharusnya, tidak saja tahu ke mana lembaganya akan di bawa, tetapi juga mengetahui jalan yang harus ditempuhnya, dan bahkan juga mengetahui halangan-halangan yang akan dihadapi dan sekaligus mengetahui cara mengatasinya. Pemimpin juga harus mengetahui peta kekuatan dan kelemahan di semua bagian yang dipimpinnya. Setiap saat pemimpin juga berperan sebagai pengambil keputusan. Pemimpin yang berkualitas akan sanggup melahirkan keputusan yang berkualitas pula. Disebut sebagai keputusan berkualitas, manakala keputusan tersebut sesuai dengan tujuan yang diharapkan, baik jangka pendek, menengah, maupun jangaka panjang. Boleh jadi keputusan itu tidak terlalu menguntungkan sebagian kelompok, tetapi tidak mengapa asal strategis untuk kepentingan jangka panjang. Itulah sebabnya pemimpin harus memiliki kemampuan untuk melihat jauh ke depan, dan tidak henti-hentinya mengkomunikasikan dan atau menjelaskannya, kepada semua pihak yang terlibat dalam kepemimpinannya itu. Seperti sudah lazim terjadi, bahwa setiap dilakukan pemilihan pimpinan, selalu muncul kelompok-kelompok kepentingan. Pikiran, perasaan, aspirasi, emosi seseorang biasanya terikat dalam kelompok itu. Padahal tidak jarang hal itu justru mempertumpul pikiran cerdasnya. Orang menjadi sangat subyektif dan bahkan pikiran menjadi mati, jika seseorang sudah terlalu jauh terpengaruh oleh emosi kelompok atau golongannya yang bernuansa idiologis. Sebagaimana umumnya, idiologis selalu mendorong orang berpikir subyektif, irrasional, tertutup, dan berorientasi menang dan atau kalah. Berbeda dengan idiologi adalah ilmu. Ilmu selalu menuntut sifat obyektivitas, rasional, terbuka dan bukan berorientasi pada sebatas kalah menang, melainkan benar atau salah. Agar masyarakat maju dan dinamis maka sangat perlu dibangun suasana ilmu, agar masyarakat menjadi lebih rasional, terbuka, dan obyektif dan mampu berpikir benar dan salah, —– dan bukan kalah dan menang. Memang, ideologi selalu memiliki kekuatan luar biasa dalam mempengaruhi pikiran dan perasaan orang. Dengan kekuatan ideologi itu emosi seseorang menjadi sedemikian fanatik, sehingga keterikatan terhadap kelompok, golongan atau suatu partai, menjadi sangat sulit dikalahkan oleh logika apapun. Bahkan, sekalipun logika yang dimiliki nyata-nyata terkalahkan, tetap tidak akan menyerah. Lebih aneh lagi, ternyata tingkat pendidikan setinggi apapun tidak menjamin dapat mematikan emosi ashobiyah ini. Pemilihan pemimpin lembaga pendidikan di beberapa tempat, memang ada yang mendasarkan pada kesamaan etnis, kesamaan asal daerah, madzhab atau faham keagamaan. Pemilihan pimpinan yang berorientasi seperti itu, akan berakibat tidak akan mendapatkan pemimpin yang berkualitas. Jika demikian, maka jangan berharap institusi tersebut akan maju. Lembaga pendidikan ke depan, ——di tengah perubahan dan dinamika masyarakat yang sedemikian pesat, memerlukan pemimpin yang mampu menghadapi perubahan yang semakin cepat, mendasar dan sulit diprediksi itu. Pemimpin biasa-biasa hanya akan menghasilkan sesuatu yang biasa. Oleh karena itu, mengharapkan lembaga pendidikan maju, harus dimulai dengan memilih pemimpin yang berjiwa kemajuan, dari mana pun datangnya. Keinginan maju, tetapi selalu memilih pemimpin yang hanya mendasarkan pada pertimbangan subyektif, primordial, perasaan takut atau khawatir menghadapi resiko, maka sama artinya rela mengorbankan lembaga pendidikan yang dicintainya. Kemajuan selalu diraih oleh orang-orang yang kaya ide, berani menjalankan idenya, serta memiliki keberanian menanggung resiko atas usahanya itu. Maka orang seperti itulah yang seharusnya dicari, jika diinginkan lembaga pendidikannya mengalami kemajuan. Allahu a’lam

Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo

Rektor  Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

Share
below article banner

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *