Ajaran Islam disebut bersifat universal, artinya menyeluruh dan meliputi segala aspek kehidupan. Islam tidak saja sebatas agama, yang hanya terkait dengan kegiatan ritual dan hal lainnya yang terkait dengan itu. Berbicara Islam selalu menyangkut aspek-aspek yang luas, yaitu meliputi ilmu pengetahuan atau intelektual, karakter atau akhlak, kehidupan sosial, ritual, dan amal saleh atau bekerja secara benar dan professional.
Islam memposisikan ilmu pada tempat yang amat strategis. Ayat al Qurán yang pertama kali turun, adalah perintah untuk membaca. Kegiatan membaca adalah merupakan pintu mendapatkan ilmu pengetahuan. Orang akan beruntung tatkala berhasil membaca sesuatu secara benar dan mendalam. Bahkan kelebihan seseorang dari lainnya adalah terletak dari keluasan dan kedalaman bacaannya. Sebagai contoh, orang yang berhasil membaca potensi ekonomi, peluang bisnis, dan cara berbisnis, maka ia akan sukses dalam mengembangkan ekonomominya. Contoh-contoh lainnya cukup banyak dalam kehidupan sehari-hari. Orang yang berhasil membaca dunia pertanian, perdagangan, peternakan, keuangan, politik, hukum, perkembangan teknologi, dan segala hal lainnya, maka mereka itulah yang berhasil mendapatkan manfaat dan keuntungan dari hasil bacaannya itu. Bahkan, jika diamati secara saksama, perbedaan di tengah masyarakat, —–misalnya terdapat orang kaya, cukup, dan miskin, maka sebenarnya hal itu hanyalah sebagai akibat dari kemampuan mereka dalam membaca yang berbeda-beda. Seseorang yang pintar dan atau menguasai teknologi, maka ia akan mendapatkan keutungan dari pengetahuan teknologi. Contoh sederhana lainnya, munculnya orang-orang miskin di mana saja, di perkotaan atau di pedesaan, disebabkan oleh kegagalan mereka dalam membaca keadaan di tempat itu. Orang miskin biasanya tidak memiliki pengetahuan yang cukup untuk mengembangkan ekonomi. Mereka tidak berhasil atau tidak mampu membaca peluang sehingga tidak berhasil mengembangkan dirinya. Uraian dan contoh sederhana tersebut mengingatkan bahwa perintah membaca yang diturunkan oleh Allah pada fase paling awal dalam al Qurán, memiliki makna yang jelas dan mendalam. Kegiatan membaca, observasi, eksperimen dan juga melakukan perenungan dan pemikiran yang mendalam dan luas, maka adalah bagian penting dan utama dari aspek ajaran Islam. Oleh karena itu membangun pilar-pilar yang diperlukan untuk pengembangan ilmu pengetahuan, adalah merupakan bagian penting dari kegiatan menjalankan ajaran Islam. Oleh sebab itu, menjadi sangat tepat, bahwa dalam sepanjang sejarah kehidupan umat Islam selalu dibangun, —–selain tempat ibadah berupa masjid, adalah lembaga-lembaga pendidikan, tradisi menghormat para ulama’ sebagai penyandang ilmu pengetahuan, atau berbagai bentuk transmisi ilmu pengetahuan dari generasi ke generasi berikutnya. Dengan begitu, Islam selalu menyatu dengan tradisi ilmu, dan juga sebaliknya ilmu berkembang oleh semangat menunaikan ajaran Islam. Selain mendorong pengembangan ilmu, Islam juga memberikan posisi yang sangat staregis pada pembentukan watak, karakter atau akhlak, baik pada tataran individu maupun masyarakat. Bahkan tugas utama Muhammad saw sebagai rasul, adalah menyempurnakan akhlak. Ilmu pengetahuan yang harus digali dan dikembangkan oleh kaum muslimin adalah jenis ilmu pengetahuan yang mampu mengantarkan seseorang berakhlak mulia. Akhlak menjadi sangat penting dalam Islam. Bahkan kegiatan ritual seperti banyak berdzikir atau ingat Allah, sholat, zakat puasa, haji, semua itu adalah untuk meningkatkan ketaqwaan atau akhlak seseorang. Orang menjalankan sholat lima waktu sehari semalam, adalah agar yang bersangkutan berhasil menjauh dari perbuatan keji dan mungkar. Puasa dilakukan agar yang bersangkutan meraih derajat taqwa. Demikian pula ibadah haji ditunaikan untuk mendapatkan ridho Allah atau surga. Usai menunaikan ibadah haji, seseorang diharapkan memiliki akhlak mulia. Selain ilmu dan akhlak, Islam mengajarkan tentang kehidupan sosial yang seharusnya dijalankan oleh kaum muslimin. Ajaran sosial dalam Islam sedemikian indahnya. Islam mengajarkan keadilan, kejujuran, kepedulian terhadap yang lemah, miskin, yatim, dan anak terlantar, menolong terhadap mereka yang sedang kesulitan, menghormati antar sesama, lebih-lebih pada orang tua, mencintai sesame, taat kepada penguasa sepanjang tidak memerintahkan pada keburukan, dan lain-lain. Islam sangat membenci kebohongan, penindasan antar sesama, membuat kerusakan, dan permusuhan. Ajaran sosial sedemikian pentingnya dalam Islam, hingga digambarkan bahwa orang yang sholat tetapi melupakan sholatnya, dengan bukti tidak peduli pada anak yatim dan bersedia memberi makan kepada orang miskin, disebut sebagai pendusta agama. Dalam sejarahnya, sebelum kelahiran Nabi dalam sejarahnya, masyarakat Arab terdiri atas kabilah-kabilah yang saling berlomba untuk memperebutkan pengaruh, kekuasaan, dan ekonomi. Mereka yang miskin dan dalam keadaaan lemah tidak ditolong, melainkan justru dijadikan budak. Akibatnya di tengah masyarakat terjadi penindasan dari sekelompok orang terhadap kelompok lainnya, sehingga mengakibatkan banyak penderitaan yang mendalam. Kondisi masyarakat seperti itulah yang sebenarnya diubah oleh Nabi dengan ajaran Islam. Sebagaimana agama-agama lainnya, Islam juga memberi tuntunan tentang kegiatan ritual, seperti banyak dzikir, sholat lima waktu, puasa, dan haji. Selain itu, masih banyak lagi yang bersifat penyempurnaan, seperti sholat sunnah, puasa sunnah, umrah, sholat malam dan lain-lain. Kegiatan ritual ini, umumnya dipandang sebagai bagian yang amat utama dari ajaran Islam. Bahkan dalam kajian-kajian Islam di berbagai lembaga, tidak terkecuali di lembaga pendidikan tinggi Islam, aspek ritual ini diposisikan pada bagian yang terpenting dan utama. Memposisikan ritual sebagai aspek terpenting dari ajaran Islam tersebut itulah yang selama ini rupanya menjadi awal mula lahirnya dikotomik dalam memandang keilmuan, yaitu adanya ilmu agama dan ilmu umum. Hal itu tentu tidak salah, tetapi sebenarnya akan melahirkan sebuah pemahaman bahwa seolah-olah, Islam hanya mengatur urusan-urusan ritual, sehingga ajaran yang dibawa oleh Muhammad ditangkap secara terbatas, hanya di seputar kelahiran, pernikahan, kematian, masjid dan upacara-upacara ritul, seperti doa dan sejenisnya. Sebagai bagian dari ajaran Islam lainnya adalah tentang kerja, atau disebut dengan istilah amal. Dalam Islam bekerja harus dilakukan dengan cara benar, lurus, tepat, baik secara dhahir maupun batin. Bekerja yang tepat harus berangkat dari niat yang benar. Pekerjaan batin berupa niat dipandang oleh ajaran Islam sebagai aspek yang amat penting dan menentukan. Bahkan dinyatakan bahwa, bekerja itu tergantung dari niatnya. Jika niatnya benar, kuat, dan kokoh, maka akan membawa hasil. Oleh karena itu dalam bekerja, tidak saja caranya yang harus tepat dan benar, maka niatnya pun juga harus benar dan baik. Bekerja secara tepat, tentu harus berdasarkan pada ilmu atau dilakukan oleh ahlinya. Maka sesungguhnya, Islam mengajarkan tentang profesionalisme. Diingatkan oleh ajaran Islam bahwa sesuatu pekerjakan yang diserahkan pada orang yang bukan ahlinya, maka akan mengalami kehancuran. Islam menghargai dan bahkan menjunjung tinggi orang-orang yang bekerja atas dasar ilmu. Sehingga, ilmu dipandang merupakan pintu sukses dalam berbagai bidang kehidupan. Islam juga mengingatkan bahwa Allah akan meninggikan derajat bagi orang-orang yang beriman dan yang berilmu pengetahuan. Akhirnya melalui refleksi singkat ini, sebenarnya hanya ingin mengajak pembaca untuk melakukan perenungan kembali, betapa sesungguhnya ajaran Islam sedemikian luas dan komprehensif, meliputi aspek intelektual atau keilmuan, membangun karakter atau akhlak, sosial, ritual, dan amal sholeh atau dalam bahasa kontemporer saat ini adalah nilai-nilai professional. Sekalipun aspek ritual tidak boleh dipandang sederhana dan apalagi ditinggalkan, maka juga tidak semestinya diposisikan sebagai segala-galanya. Tidak semstinya energy seorang muslim hanya dihabiskan untuk kegiatan ritual, sehingga melupakan kegiatan lainnya, yaitu pengembangan ilmu pengetahuan, membangun watak atau akhlak, sosial, kecakapan atau professional, dan lainnya. Membangun cara pandang atau melihat Islam sebagaimana mestinya secara seimbang adalah merupakan modal utama untuk membangun kehidupan kaum muslimin agar maju dan menang dalam pentas kehidupan ini. Saya melihat dan merasakan, bahwa jika selama ini umat Islam mengalami kekalahan dan bahkan dianggap tertinggal dari umat lainnya, maka hal itu lebih banyak disebabkan oleh cara pandang terhadap ajaran yang dianut kurang menyeluruh dan atau komprehensif. Aspek-aspek yang terkait dengan pengembangan ilmu, watak atau akhlak, sosial, dan professional, oleh sementara kaum muslimin masih belum ditangkap dan dijalankannya secara cukup sebagaimana menganggap pentingnya aspek ritual dan spiritual. Wallahu a’lam.
Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo
Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang
Arabiyatuna Arabiyatuna
