Monday, 20 April 2026
above article banner area

Belajar Dari Seorang Petani Desa

Beberapa waktu yang lalu saya pulang kampung, ketemu dengan teman  sewaktu masih sama-sama jadi murid SD dulu. Setelah tamat sekolah dasar, ia tidak meneruskan sekolah. Waktu itu, yang bisa meneruskan ke sekolah menengah, hanya anak-anak yang lulus ujian negara. Sedangkan mereka yang tidak lulus,  tidak bisa meneruskan, sekalipun jumlahnya banyak. Seingat saya teman sekelas berjumlah 49 anak, sedangkan yang lulus hanya 7 orang. Sisanya tidak lulus, termasuk teman saya ini, sehingga ia tidak bisa meneruskan sekolah. Tetapi mereka yang tidak lulus pun diberi ijazah,  sebagai tanda tamat belajar.  

  Sebagaimana anak desa pada umumnya, setamat sekolah dasar, anak-anak yang tidak meneruskan sekolah, bekerja  sebagai petani. Sehari-hari, apa saja bisa dikerjakan, mulai mencangkul di sawah, membajak, memetik kelapa, mencari rumput untuk ternaknya. Itulah berbagai jenis pekerjaan anak desa. Umumnya, sepanjang hari anak-anak pun  bekerja, sore sampai malam belajar mengaji di masjid atau madrasah. Ternyata, keadaan seperti itu sekarang sudah berubah. Anak-anak desa pun meneruskan sekolah, atau pergi ke kota, bekerja dan bahkan ada yang ke luar negeri menjadi TKI.     Ketika ketemu dalam kesempatan itu, saya merasakan, teman saya tersebut  tidak memiliki sikap yang berbeda dari dulu, misalnya menjadi rendah diri. Saya bersalaman dengannya. Terasa sekali, kulit tangannya terasa tebal, karena sehari-hari  memegang  cangkul dan atau sabit, sebagai alat  bekerja di sawah atau di ladang. Teman saya yang menggeluti dunia pertanian ini, memang sejak dulu tergolong rajin dan sangat menyenangi pekerjaannya.   Telapak tangannya yang terasa tebal menunjukkan, ia seorang pekerja keras. Sehari-hari pekerjaannya seperti terjadwal, yaitu bangun pagi dan segera  ke masjid untuk sholat subuh berjamaáh. Sepulang dari masjid, ia memeriksa ternaknya dan atau bekerja apa saja di sekitar rumah. Setelah itu, pergi ke kebun atau sawah, menunaikan tugas sesuai dengan musimnya. Misalnya, musim tanam, perawatan, atau musim panen.  Pada tengah  hari, ia pulang untuk makan siang dan sholat dhuhur. Tetapi kemudian, sore  masih pergi lagi bekerja. Menjelang ashar, ia pulang  hingga malam istirahat.   Sebagai orang desa kegiatannya hanya seputar bekerja, sholat atau beribadah, mengaji, dan istirahat. Sekali-kali  bersama tetangga, —–hidup di lingkungan muslim, ia mengikuti kegiatan keagamaan seperti tahlilan, yasinan, istighosah dan sejenisnya. Beberapa kegiatan terakhir itu menjadikan hubungan antar tetangga di desa itu sangat akrab. Hampir seluruh warga desa,  saling mengenal, baik  nama, pekerjaan,  dan identitas lainnya.     Setidaknya, ada dua hal yang  menarik dari teman saya itu. Pertama,  setiap ketemu, selalu menunjukkan  ekpresi kebanggaannya sebagai petani desa. Secara ekonomi, sesungguhnya ia tidak terlalu sukses. Ia hanya memiliki rumah sederhana, kebun yang  juga tidak luas, ternak sapi beberapa ekor saja. Tetapi dengan kekayaan itu,  sudah  bersyukur dan bangga. Dia  banyak cerita bahwa dibanding teman-temannya yang lain,  sudahberuntung, berhasil membangun keluarga, dan bahkan beberapa anaknya berhasil sekolah sampai tamat perguruan tinggi.  Ukuran hidup sukses, bagi dia cukup sederhana. Yaitu sehat, rizki cukup, dan bisa beribadah. Menyangkut rizki, yang penting  cukup untuk bekal ibadah. Tujuan hidup, menurut pandangannya, bukan untuk mengumpulkan rizki, tetapi untuk beribadah. Tujuan itu, menurutnya sudah terpenuhi.   Kedua, ia sangat bangga dengan berstatus sebagai petani. Sebagai bukti kebanggaannya, apa saja yang ditanam dan dipanen diceritakan. Misalnya, bagaimana cara mendapatkan  benih unggul, memilih pupuk yang cocok untuk tanamannya, cara menyimpan dan menjual hasil tanaman agar harga jualnya tinggi, termasuk bagaimana mengeluarkan zakat hasil pertaniannya. Hal yang terakhir selalu dipenuhi agar hartanya benar-benar bersih. Hak-hak bagi orang lain harus ditunaikan.   Petani tersebut, dari pengalaman yang cukup lama, rupanya juga sangat menguasai tentang pertanian. Ia  mengenali berbagai jenis bibit unggul, masa tanam, hama tanaman, kapan hama itu biasanya tiba dan bagaimana mengantisipasi agar tanamannya selamat, pemupukan, hingga pengelolaan pasca panen. Jiwa dan pikirannya benar-benar sebagai petani  sepenuhnya. Dengan demikian, ia menjadi percaya diri, bahkan bangga, dan bersyukur sebagai  petani.   Memperhatikan kehidupan  petani tersebut, saya berandai-andai,  umpama para PNS dan juga termasuk dosen yang ada di kampus memiliki jiwa, pikiran,  dan pandangan seperti petani desa tersebut, maka pendidikan tinggi akan maju. Sebagai seorang dosen, mereka  menghayati betul akan tugasnya, baik sebagai pendidik, peneliti dan pengabdi pada masyarakat. Sebagai pendidik, mereka akan memberikan kuliah sebaik-baiknya, bahan-bahan kuliahnya selalu up to date, cara mengajarnya menarik. Mereka baru merasa sukses manakala para mahasiswanya tidak sebatas lulus, tetapi benar-benar menjadi pintar dan dewasa.   Selain itu, sebagai peneliti, para dosen selalu melakukan penelitian. Hasilnya dibanggakan, karena kualitasnya diakui oleh masayarakat akademik yang luas. Setiap saat tulisan-tulisannya dapat dibaca melalui jurnal atau buku ilmiah. Selain itu, dengan prestasinya, mereka selalu diundang dalam berbagai pertemuan ilmiah. Buku-bukunya selalu terbit, dan berhasil menghiasi toko-toko buku di berbagai kota. Prestasi seperti itu, menjadikan mereka  nyata-nyata telah melakukan perannya sebagai seorang dosen dan sekaligus ilmuwan. Jiwa keilmuannya dihayati, persis sebagaimana petani desa, —– dalam cerita di muka, dalam menghayati dunia pertaniannya.     Dalam perjalanan pulang, dari kunjungan bersilaturrahiem ke desa tersebut,  saya merenung dan menyimpulkan, ternyata apa yang seringkali disampaikan oleh banyak orang, bahwa  belajar bisa dilakukan kapan dan dari siapa saja,  adalah memang benar. Saya sendiri telah mendapatkan hal itu. Teman saya sendiri yang hanya lulus SD dan bekerja sebagai petani di pedesaan ternyata telah memberikan pelajaran yang sangat berharga kepada saya. Selanjutnya umpama saja, jiwa, pikiran, dan pandangan petani desa  tersebut juga dimiliki oleh para dosen dalam menunaikan tugasnya sebagai pengemban amanah tri dharma perguruan tinggi,  mereka akan berhasil membangun kepercayaan  diri, kebanggaan, dan bersyukur atas statusnya sebagai dosen. Selain itu, insya Allah kampus  akan mengalami kemajuan terus menerus yang luar biasa. Wallahu a’lam.

Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo

Rektor  Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

Share
below article banner

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *