Friday, 8 May 2026
above article banner area

Isra’ Mi’raj Dan Kepemimpinan

Isro’dan Mi’roj hanya dialami  oleh  Nabi Muhammad saw., sendiri. Selain utusan Allah ini   tidak pernah dan akan mengalaminya. Namun jika peristiwa itu direnungkan secara  mendalam, akan mendapatkan nilai-nilai kehidupan yang luar biasa, tidak terkecuali  terkait dengan  kepemimpinan. 

  Perjalanan isra’dan mi’raj  dilakukan di malam hari, sehingga tidak diketahui oleh siapapun, baik tatkala menjelang berangkat, sedang di perjalanan, maupun ketika tiba. Baru sepulang  dari perjalanan malam itu,  Rasulullah mengkhabarkan kepada para sahabatnya. Kita tidak bisa bayangkan apa yang terjadi, misalnya jika perjalanan itu dilakukan di  siang hari, apalagi sempat berpamitan, dan juga  ketemu orang. Maka peristiwa itu tidak akan ada yang terasa aneh dan sakral.   Rupanya sesuatu yang aneh, sacral, dan menakjubkan itu selalu diperlukan bagi kehidupan masyarakat, —-kapan saja, termasuk di zaman Rasul. Hal  yang aneh, sacral dan menakjubkan tersebut kemudian dijadikan perbincangan, wacana, atau  discourse secara terus menerus. Ternyata sesuatu yang tidak mudah dicari jawabnya itu  penting,  sebagai penggerak masyarakat.  Dengan wacana, discourse, atau isu yang tidak mudah dicari jawabnya itu ternyata  menjadikan  pikiran banyak orang tertantang.   Kejadian Isra’dan mi’raj merupakan  kejadian yang  memiliki nilai dan berjangkauan  tinggi. Hal itu rupanya sengaja diciptakan oleh Allah, agar manusia tidak saja terbelenggu oleh persoalan-persoalan kecil,  teknis, sederhana dan mudah dicari jawabnya, seperti misalnya hanya terkait masalah ekonomi, politik, ilmu, dan lain-lain.    Oleh karena itu, bagi orang yang mau memikirkan secara mendalam, isro’dan mi’roj  memberikan inspirasi mendalam  terhadap para pemimpin masyarakat, bahwa hendaknya mampu membuat wacara yang sulit dijangkau oleh mereka yang dipimpinnya. Dalam bahasa leadership, maka pemimpin harus sanggup membuat isu-isu strategis yang digunakan untuk menggerakkan banyak orang.   Pemimpin yang gagal merumuskan isu besar dan strategis, bisanya menjadikan para pengikutnya kebingungan. Mereka akan bertanya-tanya, akan dibawa kemana lembaganya. Jika hal itu terjadi  maka artinya pemimpin lembaga tersebut telah gagal  dalam kepemimpinanya. Pertanyaan semacam itu menggambarkan bahwa  sang pemimpin tidak mampu merumuskan isu yang seharusnya dibuat.   Nabi Muhammad sebagai seorang rasul, yang bertugas memperbaiki masyarakat manusia sepanjang zaman, maka membutuhkan isu besar dan strategis yang mampu bertahan lama. Rupanya isu strategis itu di antaraya berupa isro’dan mi’roj, yang hingga kini  tidak pernah berhenti didiskusikan, diperbincangkan, digali hikmahnya dari zaman ke zaman dan  tidak  pernah putus-putusnya.   Pada kenyataannya, memang banyak pemimpin yang tidak mampu merumuskan isu-isu besar dan strategis, hingga berhasil  menggerakkan orang agar berpikir dan berbuat. Sementara pemimpin hanya mampu merumuskan isu yang sifatnya sederhana dan berjangka pendek, sehingga tidak melampaui cara berpikir mereka yang dipimpinnya. Sebagai akibatnya, pemimpin tersebut tidak diapresiasi dan tidak ada sesuatu yang menjadi sebab  dikagumi darinya.  Akibatnya ia tidak berwibawa, sehingga perintahnya tidak diikuti dan perilakunya tidak dijadikan referensi oleh para pengikutnya.   Sudah barang tentu, peristiwa isro’dan mi’roj bukan sebatas menjadi sumber inspirasi  kepemimpinan masyarakat sebagaimana diuraikan di muka. Tetapi, isro’dan mi’roj semestinya juga ditangkap oleh para pemimpin pada tingkat dan jenis apapun, bahwa dalam menggerakkan mereka yang dipimpin selalu  memerlukan isu-isu strategis yang tidak mudah terjangkau oleh mereka yang dipimpinnya.   Isu besar dan strategis dalam setiap kepemimpinan  sangat penting untuk menggerakkan pikiran, daya nalar, perasaan bagi siapa saja  yang sedang  dipimpinnya. Selanjutnya, jika kita mau jujur sebenarnya bangsa ini juga sedang memerlukan isu besar dan strategis untuk menggerakkan warga negara secara keseluruhan. Isu besar dan strategis tersebut sementara ini, seolah-olah belum terpikirkan kegunaannya. Akibatnya, bangsa ini seakan-akan berjalan tanpa isu besar dan strategis, sehingga sehari-hari hanya sibuk dengan hal kekinian seperti pemberantasan korupsi, tabung gas elpiji, video porno, dan sejenisnya.   Semestinya para pemimpinan bangsa ini segera menciptakan  isu strategis yang bersifat universal, bernilai dan berjangkauan tinggi, sehingga menjadi wacana, perbincangan discourse dan bahkan cita-cita bagi semuanya. Atas dasar wacana itu maka   semua orang akan memperbincangkan, memikirkan, dan berusaha meraihnya. Oleh karena tidak ada isu yang luar biasa tersebut, maka banyak orang hanya terjebak pada persoalan sederhana dan teknis sebagaimana dikemukakan di muka.   Biasanya  kehidupan yang tidak dituntun dan digerakkan oleh  isu atau tema besar dan strategis, akan bagaikan orang hidup tanpa tujuan, orientasi atau cita-cita.   Akibatnya  hidup akan dirasakan  menjadi terlalu lama. Dengan suasana seperti itu orang akan mencari pelarian untuk memuaskan diri. Bentuk pelarian itu macam-macam misalnya, menumpuk harta dengan cara korupsi. Isu atau tema besar dan strategis kapan dan di manapun selalu diperlukan.  Maka dalam kepemimpinan selalu memerlukan isu besar dan strategis.  Tuhan pun ternyata juga membuat isu besar, di antaranya  berupa  isra’mi’raj. Mestinya, bangsa ini  juga mempunyainya, tetapi siapa yang harus  membuat?  Wallahu a’lam

Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo

Rektor  Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

Share
below article banner

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *