Pada setiap tahun, Kementerian Agama, dalam hal ini Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Islam menyelenggarakan kegiatan ilmiah yang disebut dengan ACIS, yaitu singkatan dari Annual Conference on Islamic Studes. Kegiatan ACIS yang pada tahun ini pelaksanaannya dipercayakan kepada IAIN Antasari Banjarmasin, sebenarnya sudah berjalan hingga yang ke 10 kali. Kegiatan semacam ini, di antaranya telah dilaksanakan di Aceh, Makassar, Bandung, Riau, Palembang, dan terakhir pada tahun lalu di Solo. Biasanya kegiatan tersebut secara teknis pelaksanaan diserahkan kepada perguruan tinggi di kota di mana kegiatan itu dilangsungkan.
Hampir setiap kegiatan ACIS, saya selalu hadir, temasuk yang diselenggarakan di IAIN Banjarmasin. Hanya saja karena kesibukan, kegiatan yang terakhir ini, saya hanya bisa mengikuti acara pembukaan. Semestinya, pembukaan kegiatan tahunan itu akan dibuka oleh Menteri Kesejahteraan Rakyat, namun ternyata dengan alasan kesibukan, menteri tidak jadi hadir. Secara resmi, akhirnya pembukaan itu dilakukan oleh Gubernur Kalimantan Selatan. Hadir dalam acar pembukaan ACIS tersebut Dirjen Pendidikan Islam, Prof.Dr. Muhammad Ali, Direktor Pendidikan Tinggi Islam, Prof.Dr. Machasin, Prof.Dr.KH.Mohammad Tholkhah Hasan, Mantan Menteri Agama, Pimpinan dan Anggota DPRD setempat, para Pimpinan PTAIN, dan para peserta yang jumlahnya diperkirakan lebih dari 1000 orang. Para pemakalah, selain para ilmuwan dari dalam negeri, juga ada dari luar negeri, seperti dari Thailand, Australia, Mesir, Singapura, Jepang, Malaysia, dan Amerika Serikat. Sambutan yang disampaikan oleh Dirjen Pendidikan Islam maupun oleh Gubernur Kalimantan Selatan memang menarik. Keduanya menginginkan agar dalam kegiatan yang dianggap bergengsi ini berhasil melahirkan pikiran-pikiran yang berguna bagi pengembangan kajian Islam di Indonesia. Namun saya sendiri, tatkala mengikuti pembukaan itu, ingatan saya justru kembali pada acara pembukaan ACIS sebelumnya, yaitu di Solo. Pembukaan ACIS di Solo, selain ada kesamaan dengan di Kalimantan Selatan juga ada bedanya. Bedanya, pembukaan di Solo, tahun lalu dihadiri oleh Menteri Agama dan Wakil Wali Kota Solo. Sedangkan ACIS di Banjarmasin dihadiri oleh Gubernur tetapi tidak dihadiri oleh Menteri Agama. Ketika pelaksanaan ACIS di Solo, Menteri Agama , baru beberapa minggu dijabat oleh Suryadharma Ali, Menteri Agama yang sekarang. Sambutan Menteri Agama ketika itu juga menarik, yaitu menginginkan agar kajian Islam semakin diperluas hingga relevan dengan tuntutan kebutuhan zaman. Sambutan Wakil Wali kota Solo yang justru memberi kesan mendalam bagi saya, —–sekalipun sederhana, adalah tentang isi sambutan yang disampaikan . Sedemikian mengesankan, sehingga sekalipun sudah berlangsung lama, hal itu tidak pernah saya lupakan. Di antaranya, dia mengatakan bahwa, semestinya tidak ada pemisahan atau pembedaan antara ilmu agama dan ilmu umum. Ilmu agama, ——menurut Wakil Wali Kota Solo, seharusnya mewarnai dan memberi spirit terhadap semua ilmu yang selama ini berkembang di banyak perguruan tinggi. Selanjutnya, ia mengatakan, jika ilmu tidak dipilah-pilah seperti yang terjadi sekarang ini, maka ke depan ilmu pengetahuan akan memberi manfaat secara lebih sempurna bagi kehidupan ini. Mendengarkan sambutan Wakil Wali Kota Solo, —— ternyata ia bukan lulusan perguruan tinggi Islam, saya menjadi sangat bergembira. Saya membayangkan, umpama para ilmuwan muslim juga berpikir seperti itu, —–wakil wali kota Solo, maka kajian Islam akan menjadi lebih menarik. Islam akan dikaji dari berbagai aspek atau pesrpektif, misalnya dari kajian ekonomi, politik, manajemen, psikologi, sosiologi dan bahkan juga dari sains. Kajian Islam akan selalu menjadi menarik, dan memiliki perspektif yang luas. Kesan saya selama ini, sekalipun tidak sulit dilakukan, apalagi para ilmuwan Islam sudah semakin berkembang, integrasi atau interkoneksi antara ilmu agama dan ilmu umum, ternyata tidak mudah dilaksanakan. Hambatan yang paling dirasakan, bukan berasal dari perguruan tinggi Islam yang bersangkutan, melainkan justru dari birokrasi Kementerian Agama sendiri. Dengan beralasan menjaga nomenklatur, pejabat Kementerian Agama enggan beradaptasi dengan tuntutan zaman. Sebagai akibatnya, PTAIN dan juga studi Islam tidak bisa berkembang cepat, karena pikiran pejabatnya seperti itu. Mereka lebih suka memelihara sesuatu yang lama sekalipun mungkin sudah usang, daripada menangkap ide-ide baru sekalipun lebih menarik dan juga lebih dibutuhkan masyarakat. Wallahu a’lam
Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo
Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang
Arabiyatuna Arabiyatuna
