Saturday, 9 May 2026
above article banner area

Mengikuti Pembukaan ACIS Di Banjarmasin

Pada  setiap tahun,  Kementerian Agama, dalam hal ini Direktorat Jenderal  Pendidikan Tinggi Islam menyelenggarakan kegiatan ilmiah yang disebut  dengan ACIS,  yaitu singkatan dari Annual Conference on Islamic Studes.  Kegiatan ACIS yang  pada tahun ini  pelaksanaannya  dipercayakan  kepada IAIN Antasari  Banjarmasin,  sebenarnya sudah berjalan hingga yang ke 10 kali. Kegiatan semacam ini,  di antaranya telah dilaksanakan di  Aceh,  Makassar, Bandung, Riau, Palembang, dan terakhir pada tahun lalu di Solo. Biasanya kegiatan tersebut secara teknis pelaksanaan diserahkan kepada perguruan tinggi di kota di mana kegiatan itu  dilangsungkan.

  Hampir setiap kegiatan ACIS,  saya  selalu hadir, temasuk yang diselenggarakan di IAIN Banjarmasin.   Hanya saja karena kesibukan,  kegiatan yang terakhir ini, saya hanya bisa mengikuti acara pembukaan.  Semestinya, pembukaan kegiatan tahunan itu akan dibuka oleh Menteri Kesejahteraan Rakyat, namun ternyata dengan alasan kesibukan, menteri  tidak jadi hadir. Secara resmi, akhirnya  pembukaan itu  dilakukan oleh Gubernur  Kalimantan Selatan.   Hadir dalam acar pembukaan ACIS tersebut Dirjen Pendidikan Islam, Prof.Dr. Muhammad Ali, Direktor Pendidikan  Tinggi Islam, Prof.Dr. Machasin, Prof.Dr.KH.Mohammad Tholkhah Hasan, Mantan Menteri Agama, Pimpinan dan Anggota DPRD setempat, para Pimpinan PTAIN, dan para peserta yang jumlahnya  diperkirakan lebih dari 1000 orang. Para pemakalah, selain para ilmuwan dari dalam negeri,  juga ada dari luar negeri, seperti dari Thailand, Australia, Mesir, Singapura, Jepang, Malaysia, dan Amerika Serikat.   Sambutan yang disampaikan oleh Dirjen Pendidikan Islam maupun oleh Gubernur Kalimantan Selatan memang menarik. Keduanya menginginkan  agar dalam kegiatan yang dianggap bergengsi ini berhasil melahirkan pikiran-pikiran yang berguna  bagi pengembangan kajian Islam di Indonesia. Namun saya sendiri, tatkala mengikuti pembukaan itu, ingatan saya justru  kembali pada acara pembukaan ACIS sebelumnya, yaitu di Solo.   Pembukaan ACIS di Solo, selain ada kesamaan dengan di Kalimantan Selatan juga ada bedanya.  Bedanya, pembukaan di Solo,  tahun lalu dihadiri oleh Menteri Agama dan Wakil Wali Kota Solo.  Sedangkan ACIS di Banjarmasin dihadiri oleh Gubernur tetapi tidak dihadiri oleh Menteri Agama. Ketika pelaksanaan ACIS di Solo,  Menteri Agama , baru beberapa minggu   dijabat oleh Suryadharma Ali, Menteri Agama yang sekarang. Sambutan Menteri Agama ketika itu juga menarik, yaitu menginginkan agar kajian Islam semakin diperluas hingga relevan dengan tuntutan kebutuhan zaman.   Sambutan Wakil Wali kota  Solo yang justru memberi kesan mendalam  bagi  saya, —–sekalipun sederhana,  adalah tentang  isi sambutan yang disampaikan .  Sedemikian mengesankan, sehingga  sekalipun sudah berlangsung lama, hal itu tidak pernah saya  lupakan. Di antaranya,  dia   mengatakan bahwa, semestinya tidak  ada pemisahan atau pembedaan antara ilmu agama dan ilmu umum. Ilmu agama, ——menurut Wakil Wali Kota Solo, seharusnya mewarnai dan memberi spirit terhadap semua ilmu yang selama ini berkembang di banyak perguruan tinggi.  Selanjutnya, ia mengatakan, jika ilmu tidak dipilah-pilah seperti yang terjadi sekarang ini, maka ke depan ilmu pengetahuan akan memberi manfaat secara lebih sempurna bagi kehidupan ini.   Mendengarkan sambutan Wakil Wali Kota Solo, —— ternyata ia   bukan lulusan perguruan tinggi Islam, saya menjadi sangat bergembira. Saya membayangkan, umpama para ilmuwan muslim juga  berpikir seperti itu, —–wakil wali kota Solo, maka kajian Islam akan menjadi lebih menarik. Islam akan dikaji dari berbagai aspek atau pesrpektif, misalnya dari  kajian ekonomi, politik, manajemen, psikologi, sosiologi dan bahkan juga dari sains. Kajian Islam akan selalu menjadi menarik, dan memiliki perspektif yang luas.   Kesan saya selama ini, sekalipun tidak sulit dilakukan,  apalagi para ilmuwan Islam sudah semakin berkembang, integrasi atau interkoneksi antara  ilmu agama dan ilmu umum,  ternyata tidak mudah dilaksanakan. Hambatan yang paling dirasakan, bukan berasal dari perguruan tinggi Islam yang bersangkutan, melainkan justru dari   birokrasi Kementerian Agama sendiri. Dengan beralasan menjaga nomenklatur, pejabat Kementerian Agama enggan beradaptasi dengan tuntutan zaman.      Sebagai akibatnya,  PTAIN  dan juga studi Islam tidak bisa berkembang cepat, karena pikiran  pejabatnya seperti itu. Mereka lebih suka memelihara sesuatu yang lama  sekalipun mungkin sudah usang, daripada menangkap ide-ide  baru sekalipun lebih menarik dan juga lebih dibutuhkan masyarakat. Wallahu a’lam

Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo

Rektor  Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

Share
below article banner

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *