Melalui al Qurán, Tuhan memerintahkan manusia agar mempelajari alam. Perintah itu sesungguhnya sedemikian jelasnya. Al Qurán memperintahkan agar manusia mempelajari, tentang bagaimana unta diciptakan, bagaimana langit ditinggikan, bagaimana gunung ditegakkan, dan bagaimana bumi dihamparkan.
Al Qurán juga menunjukkan pelajaran melalui contoh-contoh berupa kehidupan binatang hingga dalam bentuk yang kecil, seperti nyamuk, semut, lebah dan sebagainya. Melalui kehidupan itu, dimaksudkan manusia agar bisa mengambil hikmahnya. Rupanya kehidupan ini tidak mudah dijalani. Karena itulah melalui kitab suci, Allah menunjukkan jalan menuju keselamatan yang benar. Selain itu, al Qurán melalui sejarah para nabi dan rasul yang tertulis dalam al Qurán juga menunjukkan bagaimana kehidupan mereka telah dijalani. Melalui riwayat itu didapat berbagai sosok tokoh yang memiliki kelebihan. Misalnya, kisah lukman menggambarkan tentang bagaimana mendidik putra-putranya. Melalui Nabi Khidir diperoleh pengetahuan bagaimana mepridiksi dan mengiontrol masa depan. Melalui Nabi Sulaiman, diberikan pelajaran di antaranya bagaimana kehidupan seorang kaya raya dan memahami bahasa binatang. Melalui kisah Nabi Ayub, didapatkan pelajaran, di antaranya bagaimana menjadi orang yang sabar. Demikian pula, kisah dari Nabi Yusuf, seorang yang dikenal sebagai ekonom yang ulung, sehingga berhasil menyelesaikan krisis ekonomi yang luar biasa. Berbagai gambaran tentang alam dan juga kisah tentang para tokoh itu terdapat dalam al Qurán. Sehingga al Qurán memang benar sebagaimana janjinya sendiri adalah sebagai petunjuk, penjelas, pembeda, rakhmat bagi seluruh manusia. Dengan demikian, jika al Qurán itu dipahami, dihayati dan kemudian dijadikan pegangan dalam menjalani kehidupan, maka akan mendapatkan keselamatan dan kebahagiaan. Dalam sejarah Islam, al Qurán telah dijadikan petunjuk dan motivasi untuk mengembangkan kehidupan. Hasilnya telah diraih kemajuan yang luar biasa di kalangan kaum muslimin. Di antaranya, kemajuan itu diraih oleh kekuasaan Abasiyah di Baghdad dan Bany Ummayah di Spanyol. Demikian pula, dalam sejarah Islam dikenal nama-nama para ilmuwan di berbagai bidang, seperti kedokteran, astronomi, sosiologi, hukum, politik, dan lan-lain. Sehingga dalam perkembangan selanjutnya, ternyata sejarah mengalami masa surut dan amat sulit ditumbuh-kembangkan kembali. Akhir-akhir ini di Indonesia mulai tumbuh kesadaran tentang betapa pentingnya mengembalikan kejayaan umat Islam melalui pengembangan ilmu pengetahuan. Maka sebenarnya, munculnya keinginan mengubah bentuk lembaga pendidikan tinggi Islam dari IAIN atau STAIN menjadi UIN adalah didasari oleh semangat itu. Dengan berbentuk universitas, maka perguruan tinggi Islam memiliki peluang mengembangkan ilmu-ilmu alam, sosial dan humaniora, bersumberkan ayat-ayat qawliyah dan sekaligus qawniyah sekaligus secara luas Perubahan menjadi UIN tersebut belum lama, yaitu dimulai pada tahun 2002 oleh UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan kemudian disusul oleh UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan UIN Maliki Malang pada tahun 2004. Selanjutnya diikuti oleh UIN Riau, UIN Bandung dan UIN Makassar. Setelah kelembagaannya berhasil diubah bentuknya, maka lembaga pendidikan Islam mendapatkan legitimasi dalam mengembangkan berbagai disiplin ilmu secara leluasa. Perubahan tersebut kemudian diharapkan ke depan menjadi bibit lahirnya kembali semangat pengembangan ilmu secara luas, sesuai dengan tuntutan zaman. Namun perlu diakui, sekalipun bentuk lembaga baru tersebut secara cepat berhasil mendapatkan respon dari masyarakat, tetapi ternyata tidak semua tokoh Islam sendiri melihat secara positif. Selalu saja dari sementara tokoh muncul kekhawatiran-kekhawatiran, di antaranya akan mengganggu kajian Islam yang selama ini ada. Padahal sesungguhnya, sebagaimana disebutkan di muka bahwa perubahan itu justru berangkat dan semengat dari al Qurán dan hadits Nabi. Lemahnya pengembangan ilmu secara luas, juga tampak dari kegiatan ACIS yang sekarang berlangsung di Banjarmasin. Sekalipun tema besar yang diusung oleh kegiatan itu adalah menemukan kembali jati diri Islam Indonesia, tetapi ternyata topik-topik yang dibahas tidak banyak, ——atau bahkan tidak ada, yang terkait ilmu pengetahuan modern. Bangsa ini sebenarnya sedang menghadapi problem besar, seperti pengangguran, keterbatasan lapangan pekerjaan, ketertinggalan di bidang teknologi, kewalahan dalam menghadapi persaingan bebas, dan lain-lain, namun ternyata masih luput dari perhatian forum yang strategis itu. Sayang sekali, bahwa apa yang dilakukan oleh UIN untuk mengangkat kembali wajah Islam di pentas kehidupan modern ini, ternyata belum banyak ditangkap, tidak terkecuali oleh sementara tokoh nya. Umat Islam, tidak terkecuali para tokoh atau ilmuwannya, masih suka dengan hal-hal yang bersifat lunak, misalnya memperbincangkan budaya local, keragaman budaya, dan sejenisnya, yang sesungguhnya ringan-ringan, dan lagi pula tidak terlalu mendesak diperbincangkan. Memang semua itu tetap perlu dan ada gunanya untuk diperbincangkan. Akan tetapi sebenarnya, tidak akan berhasil menjawab tantangan umat Islam yang justru sedang ditunggu-tunggu. Lagi pula, perintah al Qurán dalam pengembangan ilmu pengetahuan, supaya lebih luas jangkauannya, hingga memperhatikan langit, bumi, gunung, binatang, tumbuh-tumbuhan, bintang-bintang, dan lain-lain lagi hingga memberi manfaat lebih besar. Wallahu a’lam.
Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo
Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang
Arabiyatuna Arabiyatuna
