Pada tanggal 1 Nopember 2010, bersama Sekjen, Dirjen Bimas Islam, Kepala Biro Hukum dan Kerjasama Luar Negeri Kementerian Agama, saya berangkat menghadiri Konferensi Pendidikan Teologi di Moscow. Selain itu, saya mengajak serta, Wakil Rektor Bidang Akademik, Prof.Dr. Mudjia Rahardja. Bersama rombongan itu, berangkat dari Jakarta jam 19.00 dan nyampai di Moskow pada tanggal 2 Nopember 2010 jam 09.30 waktu setempat.
Baru sekali itu saya datang ke Moscow. Kebetulan di negeri itu sedang musim dingin. Suhu udara minus 20 derajad, sehingga di mana-mana yang tampak adalah salju. Sungai besar yang mengalir melewati di tengah-tengah kota Moscow sudah membeku menjadi es. Di luar hotel, tempat konferensi diselenggarakan, terasa sangat dingin. Keadaan seperti itu tidak pernah saya rasakan sebelumnya ketika di Indonesia. Setiba di kota Moscow, dalam keadaan capek, setelah melakukan perjalanan panjang, yang tidak kurang dari 13 jam tersebut, langsung diajak ke tempat konferensi. Memang pada saat itu, acara pembukaan sudah berjalan, hingga kami datang terlambat. Rupanya pada acara pembukaan itu, beberapa undangan yang datang dari berbagai negara, dan juga para tokoh agama, —– selain Islam di kota Moskow, diminta secara bergantian menyambut, termasuk Sekjen Kementerian Agama Republik Indonesia, mewakili Menteri Agama yang tidak jadi hadir dalam konferensi itu. Setelah acara pembukaan, para pemakalah secara bergantian diberi kesempatan mempresentasikan makalahnya masing-masing. Saya, sebagaimana undangan sebelumnya, mendapatkan giliran menyampaikan makalah yang telah saya persiapkan. Sebagai sebuah konferensi tingkat internasional, memang tidak gampang mengikuti pandangan-pandangan yang disampaikan semuanya, karena masing-masing pembicara menggunakan bahasa pengantar yang berbeda-beda. Seluruh pemakalah dari Rusia, mereka menggunkaan Bahasa Rusia. Konferensi itu rupanya merupakan kegiatan tahunan, yang diselenggarakan oleh perguruan tinggi Islam dari beberapa kota di Rusia. Konferensi tersebut diikuti oleh sekitar 300-an orang. Mereka datang dari berbagai negara, termasuk dari Saudi Arabia, Irak, Mesir, Sudan, Maroko, Yordan, dan banyak lagi dari negara-negara lainnya, termasuk kami, rombongan dari Indonesia. Pihak Kedubes Indonesia di Moscow, yang mengatur jadwal kegiatan rombongan dari Indonesia berusaha memanfaatkan waktu seefektif mungkin. Selain acara mengikuti konferensi, juga dibuatkan kegiatan lainnya. Di sela-sela kegiatan konferensi dipertemukan dengan beberapa rektor perguruan tinggi Islam di Rusia untuk berdiskusi membangun kemungkinan kerjasama di masa mendatang. Selain itu juga diadakan kunjungan ke Universitas Islam Rusia di Kazan yang harus ditempuh dengan pesawat terbang selama satu jam dari Moskow. Rupanya, pihak Kedubes Indonesia menginginkan agar dalam kunjungan tersebut, rombongan mendapatkan infomasi lebih banyak lagi tentang pendidikan di Rusia, sebagaimana di kemukakan di muka, agar berhasil menjalin kerjasama dengan berbagai institusi pendidikan di sana. Pada hari pertama kunjungan itu, saya mendapatkan beberapa informasi baru yang cukup menarik. Di antaranya misalnya, bahwa ternyata umat Islam di Moscow sudah sedemikian banyak. Di kota itu sudah tidak kurang dari 2 juta penduduknnya beragama Islam, dan juga terdapat Universitas Islam Moskow. Masjid-masjid, pusat kebudayaan Islam, sekolah agama seperti misalnya madrasah, ada di kota Moskow. Negara yang dulu dikenal sebagai pusat komunis dan atheis itu, ternyata pada saat ini, Islam berkembang cukup pesat. Hal yang penting lainnya, dari beberapa kali diskusi, termasuk diskusi informal, ternyata keberagamaan di Indonesia banyak mendapatkan perhatian dari peserta konferensi. Sebagai bangsa yang terbesar penduduknya muslim, Indonesia dianggap berhasil membangun toleransi kehidupan beragama. Selain itu, Islam tidak dijadikan sebagai agama negara, tetapi nilai-nilai Islam mewarnai dalam kebijakan pemerintah. Hal seperti itu, dianggap menarik oleh banyak tokoh Islam yang datang dari berbagai negara dalam konferensi itu. Wallahu a’lam. Moscow, 3 Nopember 2010
Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo
Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang
Arabiyatuna Arabiyatuna
