Saturday, 9 May 2026
above article banner area

Mencari Format Baru Ujian Nasional

Baru saja saya membaca sebuah harian nasional yang memuat statemen Menteri Pendidikan Nasional, bahwa ke depan akan ada perubahan format ujian nasional. Menteri mengatakan bahwa untuk memenuhi ketentuan undang-undang, maka  ujian nasional masih perlu dan tetap akan dilaksanakan. Akan tetapi format ujian yang sudah ada itu akan ditinjau kembali. Format baru yang dimaksudkan itu seperti apa bentuknya, juga masih belum dijelaskan. Intinya dalam statemen itu, bahwa ujian nasional masih dianggap perlu untuk mengevaluasi secara nasional prestasi yang dihasilkan dari penyelenggaraan  pendidikan bangsa ini.

  Saya menulis artikel ini tatkala sedang di Airport Sukarno Hatta, untuk memanfaatkan waktu ketika sedang   menunggu penerbangan ke Moskow,  menghadiri undangan konferensi tentang pendidikan teologi yang diselenggarakan oleh sebuah perguruan tinggi Islam di sana. Ide tulisan ini muncul setelah beberapa saat sebelumnya,  saya melihat sekian banyak remaja perempuan yang juga sama-sama berada di airport,  yang  tampaknya mereka akan berangkat ke luar negeri  menjadi TKW.     Melihat banyaknya calon TKW itu, dalam pikiran saya mengatakan bahwa, bukankah sebenarnya mereka itu adalah produk pendidikan bangsa selama ini. Saya melihat  dari penampilannya, mereka itu pernah mengenyam pendidikan. Saya menduga, para calon TKW itu bukan saja lulusan sekolah dasar, tetapi mungkin juga lulusan SMP, SMA atau juka SMK. Bahkan tidak mustahil di antara mereka ada yang  telah lulus perguruan tinggi. Jika bayangan saya ini benar, maka bukankah dari fenomena banyaknya TKW itu saja bisa diketahui, bahwa hasil pendidikan bangsa ini, ——setidak-tidaknya sebagian, hanya akan memasuki lapangan pekerjaan yang diterima secara terpaksa itu.   Akhir-akhir ini perbincangan tentang TKW terjadi di mana-mana, sebagai akibat  banyaknya kasus  penganiayaan sebagian mereka di luar negeri. Tidak saja mereka dianiaya, tetapi juga ternyata gaji sebagian mereka tidak dibayar. Cerita tentang penderitaan TKW di luar negeri sudah tidak kurang-kurang, tetapi mereka masih tidak mau membatalkan niatnya, tetap pergi. Banyaknya TKW ke luar negeri, oleh sementara orang dianggap menurunkan harkat bangsa.   Tentu bagi TKW sendiri, dan  orang yang mengerti akar masalahnya tidak akan mengatakan demikian. Bagi para TKW yang terpenting adalah mendapatkan pekerjaan dan rizki untuk menyambung hidup.   Pada zaman sekarang ini, sekedar berhasil mendapatkan pekerjaan, apapun   sulitnya bukan main. Bagi orang yang tidak memiliki ketrampilan, pengalaman dan atau modal yang cukup, maka  pekerjaan apa saja diterima, tidak terkecuali TKW, apapun resikonya. Keadaan seperti itu tidak saja dirasakan oleh anak-anak wanita dari daerah tertentu, melainkan sudah merata,  hampir di semua daerah.   Terkait dengan banyaknya orang  mencari   pekerjaan, beberapa hari lalu, saya mendapatkan informasi bahwa hampir setiap hari, penerbangan ke dan dari Taiwan selalu dipenuhi oleh para TKW. Informasi itu secara tidak langsung  memperteguh bahwa mencari pekerjaan di dalam negeri sudah sangat sulit, hingga banyak orang harus pergi ke luar negeri. Selain itu,   fenomena tersebut   juga menunjukkan  bahwa hasil pendidikan di negeri ini sebenarnya sebagian  masih perlu ditingkatkan lagi,  atau katakanlah kualitasnya masih rendah,  tanpa harus melihatnya melalui ujian nasional.   Rendahnya mutu hasil pendidikan itu  sebenarnya dengan mudah dapat diketahui.  Saya pernah mendapatkan pengalaman yang menyedihkan. Ketika itu, saya bersama beberaa rektor, berkunjung  ke Universitas King Abdul Aziz, di Jeddah. Perguruan tingggi itu memiliki teaching hospital sebagai kelengkapan fakultas kedokterannya. Rumah sakit pendidikan tersebut, menurut penglihatan saya, ukurannya sangat besar, sehingga menampung ratusan perawat dan dokter. Umumnya para pegawai teaching hospital tersebut  berasal dari India dan Phiilipina. Anehnya,  tidak ada satupun di antara mereka itu  yang berasal dari Indonesia.       Melihat kenyataan itu, dalam kesempatan berdialog, saya mencoba menanyakan, mengapa tidak ada di antara pegawainya, yang berasal dari Indonesia. Saya berargumentasi, bahwa tenaga kerja dari Indonesia lebih sesuai dengan masyarakat Saudi, karena memiliki kesamaan agama.  Pertanyaan saya tersebut  dijawab dengan pertanyaan yang menyakitkan, yaitu apakah tenaga kerja dari Indonesia mampu berbahasa Arab. Atas jawaban  itu saya bertanya  balik lagi,  apakah tenaga kerja dari Pilipina juga bisa berbahasa Arab. Pertanyaan itu dijawab, bahwa orang philipina, sekalipun tidak berbahasa Arab, mereka bisa berbahasa Inggris. Selain itu, biasanya mereka mau belajar bahasa Arab.   Dialog sederhana di muka, lagi-lagi kiranya sudah bisa dijadikan bahan evaluasi terhadap hasil pendidikan di tanah air ini. Jika yang dimaui oleh pemerintah adalah gambaran umum tentang hasil pendidikan, maka tanpa ujian nasional pun sebenarnya sudah bisa diketahui. Tanpa diberikan soal ujian Bahasa Inggris misalnya, sebenarnya  sudah ditahui,  bahwa kemampuan Bahasa Inngris siswa lulusan sekolah menengah, bahkan juga perguruan tinggi selama ini  masih lemah. Mungkin di Indonesia baru beberapa sekolah saja yang berhasil membisakan bahasa asing bagi para siswanya. Pada umumnya masih gagal.   Apabila demikian itu halnya, maka sebenarnya yang diperlukan terhadap pendidikan bangsa ini adalah peningkatan kualitas. Sementara ini yang dilakukan hanyalah  sebatas memperbaiki  aspek yang kurang substantive dan hanya bersifat  formal. Pemerintah membuat standar pendidikan, menyelenggarakan ujian nasional, peningkatan kualitas guru dengan  meningkatkan ijazah, tanpa diikuti oleh  kualitas yang memadai dan sejenisnya. Memang, ijazah para guru berhasil ditingkatkan, tetapi belum tentu ilmunya bertambah, karena peningkatan ijazah tersebut juga hanya dilakukan secara formal, misalnya dengan dual mode, yang pelaksanaan program itu hanya menargetkan selesai,  bukan peningkatan kualitas hasil   pendidikan yang sebenarnya dibutuhkan.   Mengetahui hasil pendidikan yang masih rendah kualitasnya seperti itu,  mestinya pemerintah perlu segera mengambil keputusan yang bersifat mendasar, radikal dan bahkan kalau perlu revolusioner. Misalnya untuk menyesuaikan dengan tuntutan global, maka harus ada gerakan bersama memperbaiki kemampuan berbahasa asing, ——-Inggris dan Arab. Gerakan itu dijadikan tema  dan atau jargon  yang menjadi gerakan besar yang diikuti oleh seluruh lembaga pendidikan di negeri ini.   Melalui kebijakan tersebut  maka ditargetkan bahwa lulusan jenjang pendidikan sekolah menengah misalnya,  harus menguasai salah satu Bahasa Asing. Ujiannya  tidak boleh dilakukan secara formal, tetapi harus dilakukan secara sungguh-sungguh.  Kalau perlu, misalnya  kepala sekolah dan para gurunya pun ikut diuji. Jika kepala sekolah dan guru  tidak lulus, maka muridnya juga dianggap tidak lulus. Kebijakan ini menjadikan lahirnya gerakan belajar bersama untuk meningkatkan kualitas.                                                           Gambaran sederhana ini kiranya bisa diperdalam, dan dijadikan sebagai format baru ujian nasional. Bahwa dalam evaluasi itu  yang diuji bukan saja muridnya, tetapi juga kepala sekolah dan para guru-gurunya. Tingkat kualitas kepala sekolah dan guru sebenarnya lebih tepat dijadikan tolok ukur kemajuan institusi pendidikan yang dipimpinnya. Sebab pada hakekatnya mereka itulah yang diharapkan akan melahirkan kualitas itu. Dengan  demikian,  maka akan  tampak mana institusi pendidikan yang dikelola secara serius dan atau yang  hanya berorientasi untuk memenuhi ketentuan  formal,  tetapi tidak menyentuh hakekat pendidikan yang sebenarnya.  Wallahu a’lam.                                                                                                                                                                                                                                   Singapura, 2 Nopember  2010

Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo

Rektor  Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

Share
below article banner

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *