Saturday, 30 May 2026
above article banner area

Kembali Pada Agama

Beberapa hari yang lalu, saya kebetulan  kedatangan tamu seorang Kepala Sekolah Menengah Pertama (SMP) yang  bertugas  di pedesaan. Oleh karena sehari-hari  sama-sama memimpin kegiatan pendidikan, maka dalam kesempatan itu hal yang dijadikan bahan pembicaraan adalah  terkait dengan tugas-tugas  kepemimpinan pendidikan

  Melaslui pembicaraan itu, saya mendapatkan banyak pengalaman menarik terkait dengan pendidikan di pedesaan yang  tidak pernah saya bayangkan sebelumnya. Persoalan pendidikan di pedesaan ternyata sama dengan yang terjadi di perkotaan. Antara desa dan kota, pada saat sekarang ini,  dalam hal-hal tertentu,  sudah sama. Hal yang dulu digambarkan bahwa masyarakat desa berbeda jauh dengan kota sudah tidak terjadi lagi.   Persoalan-persoalan yang dihadapi oleh kepala sekolah di kota ternyata juga dihadapi pula oleh kepala sekolah yang ada di pedesaan. Adanya kenakalan anak-anak dengan berbagai bentuknya, kedisiplinan dan tanggung jawab guru yang sulit ditegakkan juga terjadi di sekolah-sekolah yang  jauh dari kota sekalipun.  Kepala sekolah akhirnya menghadapi dua persoalan sekaligus, yaitu persoalan yang terkait dengan murid dan  juga  yang terkait dengan guru. Dikatakan olehnya  bahwa,  jika  kepala sekolah hanya menjalankan tugas-tugas formal sebagaimana  yang digariskan , maka pendidikan yang sebenarnya tidak akan berjalan sebagaimana yang diharapkan.   Kenakalan anak-anak di pedesaan sudah sama dengan anak-anak di perkotaan. HP yang dimiliki oleh mereka,  tidak saja digunakan untuk alat komunikasi, melainkan untuk hiburan pada setiap saat. Pada setiap kali dilakukan pemeriksaan atau control terhadap HP yang dimiliki anak-anak, maka selalu ditemukan gambar atau foto-foto yang tidak selayaknya dilihat  oleh anak-anak seusia  SMP.  Hal yang menjadikan sumber kenakalan  anak-anak, adalah justru  orang tua mereka sendiri.  Bahwa  tidak kurang dari 60 % orang tua siswa  adalah pekerja di luar daerah dan bahkan di luar negeri, baik  sebagai TKI atau TKW. Biasanya anak-anak yang ditinggal kerja oleh orang tuanya  tersebut, sehari-hari   hanya ditemani dan diasuh oleh kakak atau dititipkan kepada nenek atau saudaranya.  Anak-anak yang ditinggal oleh orang tuanya tersebut,  secara ekonomi tercukupi,  pada setiap bulan mereka  mendapatkan kiriman uang dari orang tuanya.  Akan tetapi terkait pendidikan, tidak mendapatkan sebagaimana mestinya. Anak seusia SMP  masih memerlukan bimbingan langsung dari orang tuanya sendiri. Memang, kebutuhan sehari-hari pada umumnya bisa diwakilkan pada  orang lain untuk memenuhinya, akan tetapi tidak demikian  kebutuhan pendidikannya.   Anak-anak seperti digambarkan itu menjadi tampak liar, sulit diatur termasuk di sekolah. Mereka merasa independen, kebutuhan hidup sehari-hari  tercukupi, namun  karena sehari-hari di rumah tidak mendapatkan bimbingan dan kasih sayang sebagaimana mestinya, maka mereka tidak mudah diajak berdisiplin  dan atau patuh terhadap aturan-aturan sekolah.   Menghadapi para siswa yang sedemikian itu, maka para guru yang tidak sabar juga  akan menunaikan tugas-tugasnya secara formal. Disiplin di kalangan guru pun  sulit ditegakkan. Sebagai kepala sekolah tidak mudah menghadapi persoalan itu.  Menjadi kepala sekolah  serba salah.  Berdiam  menghadapi guru yang tidak disiplin akan dianggap lembek, sebaliknya bersikap keras juga  mendapatkan perlawanan dengan berbagai bentuknya.     Manakala pendekatan kepemimpinan  kepala sekolah tidak tepat, maka   guru  bisa melakukan mogok kerja tersembunyi. Mereka datang dan masuk kelas, tetapi tidak melakukan peran-peran yang semestinya. Bentuk mogok seperti ini lebih bahaya dari apa yang dilakukan oleh   para buruh yang bekerja di pabrik-pabrik.         Menghadapi persoalan tersebut,  cara yang selama ini dianggap paling berhasil adalah dengan pendekatan agama. Para siswa diajak untuk mengaji al Qurán pada setiap pagi sebelum jam pelajaran resmi dimulai. Jadwal pelajaran yang  semestinya  dimulai jam 07.00 pagi, akan tetapi para siswa  diharuskan datang satu jam sebelumnya,  untuk  belajar membaca al Qurán. Sedangkan bagi mereka yang rumahnya jauh, kegiatan tersebut  dilakukan sehabis pelajaran resmi usai, yaitu pada siang hari sebelum pulang.   Demikian pula,  para guru yang beragama Islam,  diajak bersama-sama menjalankan shalat dhuha di masjid sekolah.  Pada setiap masuk waktu shalat, dengan dipimpin oleh kepala sekolah, mereka  diajak menjalankan shalat berjamaáh. Menghidupkan suasana keagamaan, —-sekalipun pada awalnya, tidak mudah, ternyata mengurangi kenakalan dan sekaligus mampu menyadarkan para guru menjadi lebih bertanggung jawab dan sekaligus menjadi tauladan bagi para siswanya. Suasana sekolah menjadi terasa agamis dan sekaligus disiplin berhasil ditegakkan.   Pendekatan  agama tersebut,  menurut pengalaman Kepala SMP tersebut, dianggap paling  efektif untuk meningkatkan kualitas pendidikan yang dipimpinnya. Menurutnya, pendekatan yang umum dilakukan, yaitu  dengan peraturan  atau tata tertib yang bersifat formal  selalu tidak   berhasil, dan kalaupun dijalankan hanya  bersifat semu.   Bahkan jika diamati secara saksama, —–menurut pengalaman Kepala SMP  tersebut, bahwa  gejala mogok kerja tersembunyi tersebut sudah terjadi di mana-mana.  Mendengar cerita itu,  saya membenarkan, bahwa kembali pada  agama adalah yang paling efektif. Bekerja harus dimulai dari niat yang benar, bukan sebatas  aturan yang ada. Jika tidak dimulai dari niat yang benar, maka akan terjadi mogok kerja tersembunyi, dan hal itu sangat berbahaya. Wallahu a’lam.         

Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo

Rektor  Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

Share
below article banner

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *