Beberapa hari yang lalu, saya kebetulan kedatangan tamu seorang Kepala Sekolah Menengah Pertama (SMP) yang bertugas di pedesaan. Oleh karena sehari-hari sama-sama memimpin kegiatan pendidikan, maka dalam kesempatan itu hal yang dijadikan bahan pembicaraan adalah terkait dengan tugas-tugas kepemimpinan pendidikan
Melaslui pembicaraan itu, saya mendapatkan banyak pengalaman menarik terkait dengan pendidikan di pedesaan yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya. Persoalan pendidikan di pedesaan ternyata sama dengan yang terjadi di perkotaan. Antara desa dan kota, pada saat sekarang ini, dalam hal-hal tertentu, sudah sama. Hal yang dulu digambarkan bahwa masyarakat desa berbeda jauh dengan kota sudah tidak terjadi lagi. Persoalan-persoalan yang dihadapi oleh kepala sekolah di kota ternyata juga dihadapi pula oleh kepala sekolah yang ada di pedesaan. Adanya kenakalan anak-anak dengan berbagai bentuknya, kedisiplinan dan tanggung jawab guru yang sulit ditegakkan juga terjadi di sekolah-sekolah yang jauh dari kota sekalipun. Kepala sekolah akhirnya menghadapi dua persoalan sekaligus, yaitu persoalan yang terkait dengan murid dan juga yang terkait dengan guru. Dikatakan olehnya bahwa, jika kepala sekolah hanya menjalankan tugas-tugas formal sebagaimana yang digariskan , maka pendidikan yang sebenarnya tidak akan berjalan sebagaimana yang diharapkan. Kenakalan anak-anak di pedesaan sudah sama dengan anak-anak di perkotaan. HP yang dimiliki oleh mereka, tidak saja digunakan untuk alat komunikasi, melainkan untuk hiburan pada setiap saat. Pada setiap kali dilakukan pemeriksaan atau control terhadap HP yang dimiliki anak-anak, maka selalu ditemukan gambar atau foto-foto yang tidak selayaknya dilihat oleh anak-anak seusia SMP. Hal yang menjadikan sumber kenakalan anak-anak, adalah justru orang tua mereka sendiri. Bahwa tidak kurang dari 60 % orang tua siswa adalah pekerja di luar daerah dan bahkan di luar negeri, baik sebagai TKI atau TKW. Biasanya anak-anak yang ditinggal kerja oleh orang tuanya tersebut, sehari-hari hanya ditemani dan diasuh oleh kakak atau dititipkan kepada nenek atau saudaranya. Anak-anak yang ditinggal oleh orang tuanya tersebut, secara ekonomi tercukupi, pada setiap bulan mereka mendapatkan kiriman uang dari orang tuanya. Akan tetapi terkait pendidikan, tidak mendapatkan sebagaimana mestinya. Anak seusia SMP masih memerlukan bimbingan langsung dari orang tuanya sendiri. Memang, kebutuhan sehari-hari pada umumnya bisa diwakilkan pada orang lain untuk memenuhinya, akan tetapi tidak demikian kebutuhan pendidikannya. Anak-anak seperti digambarkan itu menjadi tampak liar, sulit diatur termasuk di sekolah. Mereka merasa independen, kebutuhan hidup sehari-hari tercukupi, namun karena sehari-hari di rumah tidak mendapatkan bimbingan dan kasih sayang sebagaimana mestinya, maka mereka tidak mudah diajak berdisiplin dan atau patuh terhadap aturan-aturan sekolah. Menghadapi para siswa yang sedemikian itu, maka para guru yang tidak sabar juga akan menunaikan tugas-tugasnya secara formal. Disiplin di kalangan guru pun sulit ditegakkan. Sebagai kepala sekolah tidak mudah menghadapi persoalan itu. Menjadi kepala sekolah serba salah. Berdiam menghadapi guru yang tidak disiplin akan dianggap lembek, sebaliknya bersikap keras juga mendapatkan perlawanan dengan berbagai bentuknya. Manakala pendekatan kepemimpinan kepala sekolah tidak tepat, maka guru bisa melakukan mogok kerja tersembunyi. Mereka datang dan masuk kelas, tetapi tidak melakukan peran-peran yang semestinya. Bentuk mogok seperti ini lebih bahaya dari apa yang dilakukan oleh para buruh yang bekerja di pabrik-pabrik. Menghadapi persoalan tersebut, cara yang selama ini dianggap paling berhasil adalah dengan pendekatan agama. Para siswa diajak untuk mengaji al Qurán pada setiap pagi sebelum jam pelajaran resmi dimulai. Jadwal pelajaran yang semestinya dimulai jam 07.00 pagi, akan tetapi para siswa diharuskan datang satu jam sebelumnya, untuk belajar membaca al Qurán. Sedangkan bagi mereka yang rumahnya jauh, kegiatan tersebut dilakukan sehabis pelajaran resmi usai, yaitu pada siang hari sebelum pulang. Demikian pula, para guru yang beragama Islam, diajak bersama-sama menjalankan shalat dhuha di masjid sekolah. Pada setiap masuk waktu shalat, dengan dipimpin oleh kepala sekolah, mereka diajak menjalankan shalat berjamaáh. Menghidupkan suasana keagamaan, —-sekalipun pada awalnya, tidak mudah, ternyata mengurangi kenakalan dan sekaligus mampu menyadarkan para guru menjadi lebih bertanggung jawab dan sekaligus menjadi tauladan bagi para siswanya. Suasana sekolah menjadi terasa agamis dan sekaligus disiplin berhasil ditegakkan. Pendekatan agama tersebut, menurut pengalaman Kepala SMP tersebut, dianggap paling efektif untuk meningkatkan kualitas pendidikan yang dipimpinnya. Menurutnya, pendekatan yang umum dilakukan, yaitu dengan peraturan atau tata tertib yang bersifat formal selalu tidak berhasil, dan kalaupun dijalankan hanya bersifat semu. Bahkan jika diamati secara saksama, —–menurut pengalaman Kepala SMP tersebut, bahwa gejala mogok kerja tersembunyi tersebut sudah terjadi di mana-mana. Mendengar cerita itu, saya membenarkan, bahwa kembali pada agama adalah yang paling efektif. Bekerja harus dimulai dari niat yang benar, bukan sebatas aturan yang ada. Jika tidak dimulai dari niat yang benar, maka akan terjadi mogok kerja tersembunyi, dan hal itu sangat berbahaya. Wallahu a’lam.
Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo
Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang
Arabiyatuna Arabiyatuna
