Dalam keadaan dana terbatas, membangun masjid bukan perkara mudah. Untuk membangun masjid harus mencari sumbangan ke sana ke mari, dan ternyata juga tidak selalu mendapatkannya. Tetapi jika hal itu dilakukan dengan sabar dan tekun, sekalipun kadang memerlukan waktu lama, akhirnya terselesaikan. Anggapan sementara orang, bahwa tidak pernah terjadi pembangunan masjid tidak selesai. Pembangunan masjid, di mana saja, selalu selesai.
Setelah pembangunan fisik masjid terselesaikan, pekerjaan selanjutnya yang lebih sulit lagi adalah memakmurkannya. Ternyata memakmurkan masjid juga bukan perkara mudah. Banyak orang suka membangun masjid, akan tetapi ternyata belum tentu bersemangat menggunakannya. Maka akibatnya, tidak sedikit masjid yang baru dibangun, jumlah jamaáhnya tidak terlalu banyak, sebanding dengan jumlah panitia pembangunannya. Selama ini sangat mudah mendapatkan masjid kosong pada waktu shalat berjamaáh. Di mana-mana masjid sepi jamaáh, apalagi pada waktu shalat subuh. Jumlah jamaáh biasanya agak meningkat pada shalat maghrib atau isya’. Dan, baru jumlah itu memadai tatkala waktu shalat Jumát. Hal itu menggambarkan betapa tidak mudahnya memakmurkan masjid. Rupanya kesulitan memakmurkan masjid sudah lama terjadi. Sehingga, sebagai upaya mencari alternative, telah banyak lahir bentuk-bentuk kreatifitas yang maksudnya agar masjid menjadi ramai. Misalnya, merintis organisasi remaja masjid, melengkapi masjid dengan kegiatan kesenian, dan olah raga —–silat misalnya, dan lain-lain. Akan tetapi kegiatan semacam itu juga tidak bisa bertahan lama. Akhirnya, masjid menjadi sepi kembali, kecuali pada saat-saat tertentu. Namun demikian anehnya, kegiatan membuat masjid tidak pernah berhenti, dan bahkan di beberapa tempat dibangun masjid berukuran kelewat besar. Kadangkala membangun masjid tidak diukur dari jumlah jamaáh yang akan mengisinya, melainkan mengikuti semangat atau keinginannya. Masjid menjadi kebanggaan masyarakatnya. Semakin besar ukuran masjid yang berhasil dibangun maka semakin mendatangkan kebanggaan. Berbagai cara digunakan untuk memakmurkan masjid, di antaranya lewat pembenar dari al Qurán maupun hadits nabi. Misalnya, dinyatakan bahwa orang-orang yang beriman saja yang mau memakmurkan masjid. Selanjutnya dijelaskan bahwa, nabi selalu shalat berjamaáh dan melaksanakannya di masjid. Bahkan menurut riwayat, orang buta pun diwajibkan datang ke masjid untuk shalat berjamaáh manakala mendengar seruan adzan. Tetapi lagi-lagi, seruan itu tidak selalu berhasil menggetarkan hati, hingga selalu datang ke tempat ibadah pada setiap saat. Beberapa hari lalu, saya diundang oleh Dr.Subiakto Tjakrawerdaja, —–Mantan Menteri Koperasi, untuk membicarakan tentang bagaimana memakmurkan masjid, khususnya Masjid Muslim Amal Bhakti Pancasila. Sampai saat ini, disampaikan oleh beliau, bahwa pembangunan masjid yang digagas oleh Presiden Soeharto tatkala masih berkuasa, sudah genap berjumlah 999 buiah, sebagaimana yang diinginkan semula. Masjid-masjid tersebut tersebar di seluruh Indonesia. Dalam diskusi itu saya sampaikan bahwa upaya-upaya memakmurkan masjid selama ini ternyata tidak mudah. Namun manakala ditangani secara benar dan serius maka masih ada peluang untuk berhasil. Pak Subiakto Tjakrawerdaya menginginkan agar masjid tidak hanya difungsikan sebagai tempat shalat berjamaáh, melainkan juga digunakan sebagai pusat pengembangan masyarakat di sekitarnya. Diharapkan bahwa agar masjid menjadi pusat kegiatan pendidikan, pengembangan ekonomi ummat, sosial, pusat informasi dan lain-lain. Saya menyambut baik ajakan tersebut. Bahkan saya dengan segera mengajak teman-teman, menyusun konsep dan rencana kegiatan itu. Saya membayangkan, aikan rencana itu berhasil atau sukses, maka melalui Masjid Amal Bhakti Muslim Pancasila, yang jumlahnya sedemikian banyak, akan menjadi kekuatan untuk memajukan ummat. Masjid akan bisa dijadikan sebagai kekuatan penggerak masyarakat yang cukup strategis. Dalam kesempatan berdiskusi itu, saya menyampaikan bahwa konsep dan rencana kerja adalah sangat penting dirumuskan terlebih dahulu. Akan tetapi, yang lebih penting penting lagi dari rencana itu adalah adanya orang yang bersaedia memimpinnya. Pemimpin itu harus mau menceburkan diri secara total. Ia harus mampu memberikan tauladan, pengorbanan dan ketulusan yang tinggi. Banyak masjid yang tidak berkembang, sebenarnya lebih banyak disebabkan oleh tidak adanya pemimpin sebagai kekuatan penggeraknya. Wallahu a’lam.
Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo
Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang
Arabiyatuna Arabiyatuna
