Hari Selasa, tangal 1 Maret 2011, di kampus UIN Maliki diselenggarakan kegiatan dialog antar ummat beragama. Hadir dalam kesempatan itu beberapa tokoh agama yang berbeda, dari Libanon dan dari Indonesia sendiri. Beberapa hal yang dibahas, di antaranya terkait dengan pengalaman tentang kehidupan masyarakat yang berbeda-beda agamanya.
Dalam kesempatan itu, saya memperoleh penjelasan tentang betapa pentingnya kegiatan itu dari Kyai Hasyim Muzadi, terutama bagi peserta dari Libanon. Para tokoh agama dari Libanon tersebut datang ke Indonesia tidak saja semata-mata untuk mengikuti kegiatan dialog itu, melainkan juga ingin tahu bagaimana kerukunan itu dibangun dan dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari. Di Libanon kerukunan agama tidak mudah dilaksanakan, bahkan tidak saja di kalangan antar ummat yang berbeda agama, melainkan juga di antara intern mereka sendiri. Di kalangan Islam misalnya, antara kelompok sunny dan syïah, antara beberapa aliran madzhab fiqh dan tasawwuf yang berbeda tidak mudah untuk dipersatukan. Perbedaan masih menjadi halangan untuk bersatu. Hal itu berbeda dengan di Indonesia, sekalipun mereka berbeda-beda agama, etnis, adat istiadat dan bahkan bahasa daerah yang berlain-lainan, mereka bisa dipersatukan. Rakyat Libanon, sekalipun mereka menggunakan bahasa yang sama, —–Bahasa Arab, dan menempati wilayah yang jauh lebih kecil dibanding Indonesia, tetapi masih sulit dipersatukan. Konflik-konflik selalu terjadi. Pada kesempatan memberikan sambutan, saya jelaskan bahwa perbedaan itu,—-termasuk perbedaan agama, manakala dikelola secara tepat, justru melahirkan semangat maju. Hal itu dibuktikan secara nyata di kampus ini. Perbedaan tidak dianggap sebagai halangan untuk bersatu, bekerjasama dan membangun institusi pendidikan. Saya menjelaskan bahwa di awal memimpin kampus ini, saya membentuk tim untuk melakukan studi banding. Kegiatan studi banding itu, saya arahkan ke lembaga-lembaga pendidikan tinggi non Islam, seperti ke Universitas Kristen Petra Surabaya, Universitas Katholik Widya Mandala Surabaya, Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga, Universitas Katholik Sugiya Pranata Semarang, Universitas Parahyangan Bandung, UKI Jakarta, Universitas Atmajaya dan lain-lain. Dalam studi banding tersebut, sengaja saya tidak menganjurkan datang ke perguruan tinggi Islam, agar mereka tidak merasa puas dengan kemajuan yang dialami sendiri. Saya menduga jika mereka saya anjurkan ke perguruan tinggi Islam dan melihat kesamaan-kesamaan yang telah dicapai, maka tidak akan melahirkan semangat baru. Menurut hemat saya, jika mereka mengetahui tentang kemajuan yang telah dialami oleh beberapa perguruan tinggi non Islam tersebut, maka akan lahir semangat baru yang sangat diperlukan pada waktu itu. Ternyata apa yang saya gambarkan itu benar. Sepulang dari studi banding, mereka bersemangat untuk melakukan hal yang sama. Dari kegiatan studi banding itu, mereka merasa telah ketinggalan dan sanggup untuk melakukan hal yang sama. Apalagi, melalui kegiatan itu juga diperoleh berbagai pengalaman berharga untuk mengembangkan perguruan tinggi, baik terkait dengan manajemen, pengembangan kelembagaan, akademik, kemahasiswaan, dan seterusnya. Kesediaan membuka diri dan melihat kemajuan orang lain itu ternyata melahirkan semangat dan kebersamaan yang luar biasa untuk menumbuhkan gerakan panjang dalam membangun kampus. Hasilnya adalah seperti yang bisa dilihat sekarang ini, kampus telah berubah baik secara kelembagaan, ketenagaan, sarana fisik, akademik, kemahasiswaan dan sebagainya. Rasanya keterbukaan dan kesediaan untuk melihat keberhasilan orang lain ternyata melahirkan kekuatan untuk mengembangkan diri. Selanjutnya, ——dalam sambutan itu, saya menjelaskan bahwa, setelah UIN Maliki berkembang, ternyata juga menarik perhatian banyak perguruan tinggi non Islam, sehingga mereka datang melakukan hal yang sama. Hampir semua perguruan tinggi non Islam, khususnya yang berstatus negeri, yaitu STAKN (Sekolah Tinggi Agama Kristen Protestan Negeri) Maluku, STAKN Ambon, STAKN Palangkaraya, STAKN Taruntung Medan, STAKN Toraja, STAKN Papua, IHDN Bali, STAHN Palangkaraya, pernah datang untuk studi banding ke UIN Malang. Bahkan pada saat diselenggarakan dialog antar ummat beragama ini, ada 15 anggota Pimpinan STAKN Maluku sedang di UIN Malang, melakukan studi banding. Selain itu, penah secara bersama-sama tidak kurang dari 30 perguruan tinggi Katholik datang ke UIN Malang untuk melakukan studi banding. Selain itu, saya selaku Rektor, berkali-kali diundang untuk memberikan kuliah tamu, di IHDN (Institut Agama Hindu Negeri) Bali, STAKN Maluku, STAKN Palangkaraya. Hal seperti itu saya jelaskan dalam forum itu untuk menggambarkan bahwa sebenarnya perbedaan itu tidak menjadi halangan untuk bersama-sama mengembangkan institusinya masing-masing. Saya mendapatkan penjelasan dari Kyai Hasyim Muzadi, bahwa bagi delegasi dari Libanon apa yang dilihat di Indonesia adalah merupakan sesuatu yang baru dan dianggap masih perlu dipelajari. Sementara ini bagi mereka, berbeda agama dan bahkan aliran dianggap sebagai hal lazim untuk tidak bekerjasama dan saling kompetisi dan bahkan konflik disfungsional. Indonesia, apapun keadaannya, dalam menjaga kerukunan beragama, selama ini tergolong berhasil. Itulah sebabnya banyak orang datang dan mempelajarinya. Wallahu a’lam.
Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo
Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang
Arabiyatuna Arabiyatuna
