Thursday, 20 August 2026
above article banner area

Mengatasi Kemiskinan

Melihat kemiskinan masih ada di mana-mana, maka seorang mahasiswa pada suatu  kesempatan menanyakan,  apakah ada konsep yang bisa digunakan untuk mengatasi kemiskinan, khususnya di Indonesia ini.  Penanya tersebut melihat bahwa sedemikian ideal cita-cita bangsa ini, yaitu ingin melindungi dan mensejahterakan seluruh warganya,  namun pada kenyataannya  masih banyak di antara mereka yang miskin selama hidupnya.

  Mereka melihat di mana-mana, masih terdapat orang-orang  miskin, baik tua, muda  bahkan  anak-anak. Mereka  menjadi  pengemis di berbagai tempat  atau dari rumah ke rumah. Tampak sekali,  bahwa mereka meminta-minta  sebatas untuk memenuhi kebutuhan menyambung hidupnya, atau sekedar untuk makan.  Tempat tinggal  mereka sederhana dan kadang tidak pantas dihuni oleh manuasia yang memiliki harga diri atau  harkat dan martabat.   Kontras dengan pemandangan itu, mereka  juga melihat di beberapa tempat terdapat rumah mewah dengan harga milyaran rupiah. Bahkan tidak sedikit di antara mereka yang memiliki lebih dari satu. Artinya di  samping terdapat orang-orang  miskin, terdapat mereka yang  kaya dan  bahkan terlalu kaya.   Olerh karena itu sebenarnya, negeri ini tidak terlalu tepat disebut  miskin,  melainkan lebih cocok disebut sebagai Negara, yang secara ekonomis kurang merata. Senjang itu  dapat dilihat  tampak sedemikian jauh. Masih ada orang yang sebatas memenuhi kebutuhan makan saja sulit terpenuhi, akan tetapi sebaliknya, ada yang terlalu berkelebihan. Itulah gambaran kesenjangan yang terjadi di negeri ini.   Maka kesenjangan itu harus diperkecil melalui program-program  yang jelas membela mereka yang lemah.  Pemberdayakan masyarakat di berbagai bidang  harus dilakukan secara tepat. Pemberdayaan  dengan cara memberi modal dan ketrampilan selama ini,   kadang belum  membawa dampak  secara  siginifikan, oleh karena kelompok sasaran itu  harus bersaing dengan mereka yang kuat,  sehingga selalu kalah,  dan bahkan mati dimangsa.  Bahwa kehidupan di masyarakat  kadangkala tergambar seperti apa yang terjadi dalam kehidupan di laut atau samodera.  Kehidupan di laut   selalu terdapat ikan-ikan besar yang  selalu memangsa ikan-ikan kecil. Ikan-ikan kecil itu tidak bisa mendapatkan makanan, bukan karena tidak mau atau bisa mencarinya, melainkan  oleh karena  ketakutan dengan ikan besar bahkan menjadi mangsanya. Sebagai pilihan aman,  mereka hanya mencari di wilayah-wilayah yang tidak mungkin didatangi oleh ikan besar, sekalipun tempat itu  sudah terlanjur gersang, atau bahkan  tidak tersedia makanan.      Kelompok ikan-ikan kecil tidak mendapatkan makanan, bukan disebabkan mereka tidak bisa mencarinya, melainkan karena  kalah bersaing, dan bahkan  justru dimangsa oleh ikan besar itu sendiri.  Gambaran seperti itu juga terjadi dalam kehidupan manusia dan masyarakat terbuka seperti sekarang  ini.  Orang-orang miskin sebenarnya telah kalah dari berbagai persaingan dengan orang-orang yang  kaya akses itu.   Sering kita dengar dan bahkan lihat  misalnya, para  peternak, petani dan pedagang  berskala kecil,  tatkala mulai maju, maka secara mendadak  disapu habis oleh pengusaha-pengusaha besar.  Peternak, petani dan pedagang kecil  sering menjadi  lumpuh dan  rontok karena permainan pengusaha besar  yang sangat sulit dijinakkan. Kekuatan itu semakin mematikan, tatkala pengusaha besar berkoalisi dengan penguasa, maka habislah kekuatan ekonomi masyarakat kecil.   Oleh karena itu sebenarnya dalam memahami  kehidupan ekonomi di tengah-tengah masyarakat,  sebagaimana kehidupan di laut, kelompok  ikan kecil berupa nener, tri atau sejenisnya, bukan karena  tidak mau menjadi besar, melainkan oleh karena tidak berdaya menjadi besar. Bahkan  kadang  mereka justru dihirup oleh ikan hiu yang besar.  Demikian pula, gambaran itu terhadap orang-orang berekonomi lemah. Mereka tidak berdaya oleh karena adanya pelaku ekonomi kuat dan besar.   Maka untuk membesarkan mereka tidak cukup dengan hanya memberi penataran, pelatihan,  modal, atau usaha-usaha lain serupa itu.  Strategi  membesarkannya mereka seharusnya  ditempuh  dengan cara memberikan perlindungan yangf cukup.  Perlu ada usaha-usaha menjinakkan para ikan besar atau hiu itu, ———pengusaha besar, agar keberadaannya tidak  mengganggu dan apalagi  memangsa usaha ekonomi kecil.   Pemerintah sebenarnya memiliki pintu untuk membuat aturan main untuk melindungi orang-orang  lemah dengan berbagai aturan. Undang-Undang Dasar 1945 sebenarnya telah mengatur hal itu. Bahwa sumber-sumber ekonomi  yang diperuntukkan bagi kehidupan masyarakat umum dikuasai oleh Negara. Klausul itu sebenarnya adalah untuk menjamin agar  rakyat kecil terlindungi dari keserakahan siapapun.  Akhirnya  bahwa memberdayakan masyarakat miskin, atau mengurangi kemiskinan,  tidak saja cukup dengan memberi keterampilan, pelatihan, dan modal yang dibutuhkan, melainkan juga masih diperlukan upaya melindungi mereka dari   kekuatan yang mematikannya. Masyarakat miskin tidak cukup  dilihat sebatas sebagai pihak yang malas dan atau tidak memiliki kesempatan, melainkan juga karena sedang terkalahkan dan bahkan menjadi mangsa dari  mereka yang lebih besar. Oleh karena itu melindungi mereka  adalah  merupakan bagian penting dari upaya mengatasi kemiskinan itu.  Wallahu a’lam. 

Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo

Rektor  Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

Share
below article banner

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *