Saturday, 9 May 2026
above article banner area

Ketika Melihat Berita Lewat TV Terjadi Tsunami Di Jepang

Ketika melihat kejadian  luar  biasa, setiap orang akan  berpikir dan berperasaan secara berbeda-beda, tergantung dari pengetahuan, latar belakang,  pengalaman dan kepercayaannya masing-masing. Saya sebagai seorang muslim yang sehari-hari memperhatikan kehidupan di alam ini, merenungkan berbagai kejadian, ——–baik yang terbiasa maupu yang tidak biasa, serta mengingat firman Tuhan  melalui kitab suci al Qurán danh hadits nabi, memiliki pandangan sendiri yang bisa jadi  berbeda dari orang lain.

  Sore itu, pada hari Jumát,  tanggal 11 Maret 2011, melalui siaran televisi saya melihat berita  yang sangat menyedihkan, yaitu terjadi gelombang tsunami yang sedemikian dahsyad yang terjadi di Jepang.  Saya ketika itu membayangkan,  betapa banyak orang-orang yang kebingungan untuk menyelamatkan diri dari terjadinya musibah itu. Tampak rumah-rumah, gedung-gedung besar, pabrik, dan lain-lain  dihantam oleh gelombang air laut yang sedemikian besar, naik ke daratan.  Tampak bahwa semua fasilitas kehidupan menjadi porak-poranda. Berbagai benda berukuran besar atau kecil  seperti  mobil, rumah,   bangunan, kapal laut, semua  disapu oleh air laut  yang sedemikian keras dan cepat.  Mobil-mobil dengan berbagai ukuran,  dan dalam jumlah yang sedemikian banyak,  ikut hanyut. Bangunan dan tiyang-tiyang apa saja,   tampak dari siaran televisi,  roboh. Kebakaran dan kepulan asap hitam terjadi di mana-mana. Tidak ada  seorang pun yang mampu menghentikan hantaman air laut ke daratan yang disebut tsunami itu.   Menyaksikan peristiwa itu, ——sekalipun hanya melalui siaran televisi, maka  pikiran dan perasaan saya adalah sebagai berikut :  Pertama, Saya merasa sedih, bahwa tidak  terbayang  betapa rasa takut dan penderitaan yang dialami oleh sekian banyak orang yang sedang berada di daerah yang terkena gempa dan tsunami itu. Diberitakan bahwa gelombang tsunami sedemikian cepat, diperkirakan menyerupai kecepatan pesawat terbang, yaitu 800 km perjam, sehingga tidak mungkin semua orang berhasil menghindar dari  bahaya gelombang itu. Sehingga yang terbayang adalah  betapa banyak orang  yang  menjadi korban, baik luka atau bahkan tewas akibat peristiwa  itu.    Kedua, terbayang bahwa apapun kejadian di muka bumi ini adalah  sepengetahuan Tuhan, dan bahkan jauh sebelum peristiwa itu sendiri terjadi. Bagi manusia,  peristiwa itu  sedemikian besar dan dahsyat, namun tidak demikian bagi Tuhan.  Selain itu, bagi manusia sepintar apapun,  tsunami adalah datang secara tiba-tiba, tetapi tidak demikian oleh Tuhan.  Tuhan Maha Tahu, sedangkan  pengetahuan manusia serba  sedikit dan terbatas.  Ketiga, bahwa semua orang yang mengalami hidup, pada saatnya pasti akan mati.  Tentang kapan seseorang akan lahir dan kapan akan mati, bagi manusia tidak ada yang mengetahuinya. Namun Tuhan sendiri Yang  Maha Tahu. Peristiwa gempa bumi dan tsunami yang sedemikian dahsyat,  hingga menewaskan sekian banyak orang,  adalah  merupakan bagian dari cara Tuhan menentukan awal dan akhir  kehidupan makhluknya itu.      Keempat, semua yang ada di jagat raya ini, ——di langit dan di bumi,  adalah milik Allah, tidak terkecuali peristiwa yang terjadi di Jepang itu. Allah Maha Kuasa, termasuk menentukan semua peristiwa yang telah, sedang dan akan terjadi. Manusia  dengan  berbagai upaya telah memperoleh ilmu pengetahuan dan berhasil menciptakan teknologi yang sedemikian canggih dan modern, tetapi tidak akan berarti apa-apa tatkala menghadapai  keputusan Tuhan. Ilmu dan kemampuan manusia yang berhasil didapat adalah kecil di hadapan Tuhan.     Kelima, apa saja dan juga kejadian apapun  di muka bumi ini  selalu  ada gunanya bagi kehidupan ummat manusia secara keseluruhan.  Apa saja   yang terjadi di jagad raya ini adalah atas dasar kasih sayang-Nya.  Menghadapi secara langsung kejadian seperti  itu,  umumnya orang  akan merasa takut. Tetapi bagi seorang mukmin, seharusnya segala sesuatu dikembalikan kepada Tuhan. Kejadian apapun, tidak terkecuali  gempa bumi dan tsunami,  seharusnya  direnungkan  dan diambil hikmah nya yang terdalam, kemudian berupaya  meningkatkan kualitas kehidupan.  Keenam, di zaman modern seperti sekarang ini, tatkala ilmu pengetahuan dan teknologi sudah banyak   ditemukan, maka peristiwa di manapun bisa diketahui secara cepat oleh sekian banyak orang  yang berada di berbagai belahan dunia. Umpama saja peristiwa itu terjadi sekian puluh tahun yang lalu, ——belum ditemukan radio, televisi, dan alat komunikasi modern lainnya,  maka berita itu akan datang begitu lama, dan bahkan  terlewatkan.  Dengan ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin maju, maka peringatan dan juga pelajaran dari Tuhan sedemikian cepat  ditangkap oleh ummat manusia di mana saja berada.   Ketujuh, beberapa jam setelah peristiwa itu,  diberitakan bahwa lebih dari 40 negara telah siap membantu untuk meringankan beban yang harus dihadapi oleh pemerintah Jepang untuk mengatasi akibat  dari gempa dan tsunami itu.  Pelajaran penting, yang bersifat teknis berskala kecil,  bahwa ternyata manusia di manapun,  tatkala sebagian mengalami penderitaan oleh peristiwa yang mendadak, maka sedemikian cepat pula membantu. Hal itu berbeda jika penderitaan itu telah berlangsung lama, seperti penderitaan sebagai akibat kemiskinan. Sekian lama mereka tahu penderitaan itu, tetapi selama itu pula kesadaran membantu tidak selalu kunjung datang.   Akhirnya, sudah barang tentu,  masih banyak lagi hal lainnya  yang terpikirkan dan direnungkan dari peristiwa gempa bumi dan tsunami di Jepang itu, baik yang bernuansa teologis, ilmu pengetahuan,  maupun kemanusiaan pada umumnya.  Kiranya banyak orang lain menangkap peristiwa itu secara berbeda-beda, dan melakukan hal yang berbeda-beda pula. Peristiwa alam selalu  terjadi silih berganti, terjadi di mana-mana, berkala kecil atau besar, semua itu adalah merupakan  keputusan Tuhan atas dasar sifat kasih sayang-Nya, hingga  seharusnya dijadikan pelajaran dan  diterima secara ikhlas. Wallahu a’lam.     

Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo

Rektor  Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

Share
below article banner

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *