Membentuk keluarga harmonis
Keluarga harmonis dimulai dengan keluarga yang akrab. Diperlukan upaya dan cara pandang yang lebih matang untuk menciptakannya, banyak hal yang dapat mempengaruhi kualitas dari keharmonisan tadi. Namun yang lebih penting adalah menjaga keintiman, caranya adalah:
1. Toleransi. Toleransi disini adalah memahami bahwa orang-orang yang kita cintai mungkin mempunyai gambaran yang berbeda dalam fikiran mereka tentang cara menghadapi suatu peris tiwa. Jadi dalam keluarga tidak meributkan hal sepele, mencoba menyamakan persepsi dan bekerja sama.
2. Waktu bersama-sama, menggali kreatifitas dan mengambil manfaatnya bagi keluarga. rencanakan waktu khusus, isi momen-momen istimewa, ubah acara rutin dengan melibatkan seluruh keluarga, nikmati bersama hobi anda, dan libatkan diri dengan melibatkan anak dalan kegiatan yang digemari.
3. Jatuh-bangun (terus berusaha). Jangan menyerah terus mencoba pendekatan baru untuk menjalin hubungan yang lebih mendalam dengan anak, pasangan, dan sesuaikan dengan minat, usia, serta keadaan.
4. Terjunlah kedunia (menunjukkan kasih sayang dalam tindakan).
5. Kurangi menggurui, perbanyak mendengar. Berusahalah untuk saling menghormati sudut pandang dan impian satu sama lain.
6. Sarana hidup sebagai penyimpanan keyakinan yang harus ditanamkan. Hal ini dilakukan dengan membuat kotak, buku, dan sebagainya untuk menyimpan gagasan, nilai, yang layak disimpan dalam kotak tersebut, namun sebelumnya harus melalui komunikasi dengan keluarga, serta cara penggunaannya diatur oleh keluarga.
7. Cinta menyeluruh. Tunjukkan dan sering-seringlah menunjukkan cinta anda.[1]
Keluarga yang harmonis tidaklah dapat diraih tanpa kekompakan keluarga. Adapun menurut Derek dan Powel untuk menuju kekompakan tersebut dapat diraih dengan 8 prinsip, yaitu:
- Berdamai dengan masa lalu, yaitu berusaha mengidentifikasi masa lalu yang mempengaruhi cara pandang kita dalam menjalani kehidupan keluarga. Selesaikan masalah yang teridentifikasi, dan temukan hal positif. Lakukan perubahan perilaku yang merupakan dampak dari masa lalu. Dengarkan dengan baik suara yang datang sebagai pesan masa lalu, dan hapus semua kenangan buruk. Kaji kembali pendekatan sebagai orang tua, dan jangan malu-malu untuk bercerita tentang masa lalu dengan keluarga untuk pelajaran bagi mereka.
- Berdamailah dengan pasangan, yaitu mengidentifikasi hal-hal yang dapat mempengaruhi kualitas hubungan akibat perbedaan yang dimiliki. Galilah perbedaan itu dan komunikasikanlah sehingga mendapat solusi. Jagalah cara menyampaikan dan menerima kritik, dan mintalah bantuan ahli bila memang diperlukan.
- Ciptakan komunikasi dua arah, yaitu cobalah untuk memahami perbedaan model komunikasi masing-masing, dan memperbaiki cara komunikasi yang destruktif. Mengembangkan cara komunikasi yang lebih efektif dalam keluarga. Nyatakan hal yang ingin disampaikan dengan efektif dan baik, dan ciptakan suasana dan pola komunikasi yang efektif bagi anggota keluarga.
- Akrabilah lingkungan terdekat, yaitu semua yang berhubungan dengan kita seperti teman dekat, tetangga, kerabat, komunitas, sekolah anak, pemuka agama, lingkungan kerja, dan sebagainya. Banyak alasan untuk menerapkan keakraban dengan mereka. Selain sebagai teman berbagi, mungkin mereka dapat membantu menginspirasi, dan memberi dukungan untuk kita dalam mejalani kehidupan keluarga, begitu pula sebaliknya.
- Arahkan perilaku anak, yaitu terapkan disiplin yang positif dengan cara berkomunikasi dengan anak tentang sasran dan tujuan bersama maupun tujuan pribadi. Setelah terjadi komunikasi dan pengertian mengenai harapan atau sasaran tadi maka orang tua hendaknya memberikan dukungan dan pujian pada perilaku yang positif atau mendukung sasaran tadi, walaupun tidak sesempurna pada awalnya, tekankan saja pujian positif ini.
Memberikan teguran pada perilaku yang telah keluar dari sasaran atau harapan yang disepakati sebelumnya, teguran ini hendaknya mengena pada perilaku khusus dan berjalan singkat, hindari hukuman fisik. Libatkan semua anggota keluarga sebagai “tim” dalam pembentukan dan penjagaannya. Adakan komukasi dan diskusi dengan tim secara efektif. Dan mintalah pendapat ahli bila diperlukan, adakan refleksi diri, dan instropeksi untuk mengevaluasi, serta mendapatkan cara yang tepat memperlakukan anak.
- Memelihara hubungan persaudaraan, yakni menerima perbedaan diantara anggota keluarga dan menganggap persaingan yang terjadi akibat perbedaan tadi adalah sesuatu yang normal. Memanfaatkan area persaingan tadi menjadi area tim yang saling membantu dan meneguhkan satu sama lain Membanding-bandingkan anak bukanlah hal yang tepat karena akan menimbulkan jurang permusuhan. Adakan waktu khusus untuk keluarga, baik melakukan hal barsama, minat bersama, dan sebagainya, adakan keseimbangan baik hubungan, komunikasi, maupun penanganan konflik.
Sediakan waktu untuk masing-masing, dan dengarkan mereka. hindari pertengkaran. buat persaingan yang positif dengan menekankan potensi masing-masing, hargai usaha bukan hasil, jangan berat sebelah. Persaingan positif adalah berlomba untuk melakukan hal terbaik dan maksimal dari mereka. Jadi bukan untuk membanding-bandingkan kakak adik, kompetensi kakak adik untuk meraih poin dari ayah. Namun lebih menekankan usaha maksimal untuk menjadi individu yang mandiri, menjadi diri sendiri, berbuat hal positif dan yang terbaik. Misalnya untuk hari kebersihan rumah, bila adik membersihkan halaman depan dengan ayah, maka kakak membersihkan rumah dengan ibu.
- Menagtasi pengaruh sebaya. Orang tua dituntut bekerja sebagai tim untuk mengontrol perilaku anak. Tanamkan dan bimbing ia dengan kasih sayang, nilai, dan dan sikap positif. Bimbing ia untuk menjalin hubungan positif, adakan komunikasi yang hangat untuk membahas hubungan mereka dengan orang lain, membahas hal yang berpengaruh buruk untuk mereka dengan kejelasan dan bagai mana hal yang tepat mengatasinya. Jangan biarkan anda dianggap kuno, biarkan anda menyesuaikan diri tanpa kehilangan kontrol positif, sehingga dapat menjadi contoh positif oleh anak bagaimana menghadapi perubahan mode yang tepat.
- Luangkan waktu untuk spiritualitas dan kegembiraan. Meluangkan waktu untuk spiritualitas dan kegembiraan akan menghilangkan kehampaan dan kekosongan yang mengganggu, dan juga akan membimbing kita dalam menghadapi persoalan dan menghadapi masa-masa yang sulit. Penanaman spiritulaitas untuk anak dapat membuat anak menjadi manusia yang memiliki jiwa dan emosi yang sehat.
Caranya adalah dengan proaktif dan reaktif. Proaktif berarti dengan melibatkan anak dalam kegiatan kegamaan, formal seperti ibadah di masid dan sebagainya. Reaktif yaitu membahas berbagai tantangan hidup dan menyandarkan diri pada kepercayaan, doa-doa, serta mengajari anak untuk menggantungkan diri pada kekuatan spiritual dalam mengatasi permasalahan sehari-hari. Kita dapat menerapkan dalam keseharian keluarga, seperti dongeng sebelum tidur, saling mendoakan, saling memaafkan, kegembiraan bersama, dan menyediakan waktu untuk diri sendiri dan keluarga.
Meluangkan waktu senggang atau libur untuk kegembiraan dan spiritualitas dapat membantu menyegarkan kembali keluarga, sikap tenang dan rekresi batin dapat dilakukan kapanpun. Keterlibatan dengan alam dan kehidupan kerena melakukan proyek bersama yang mengandung nilai spiritual dan kegembiraan akan berdampak pada kekompakan dan meningkatkan perasaan gembira lahir batin, karena merasa menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar. Apabila hal ini telah menjadi bagian dari kelurga maka setiap aktifitas keluarga akan dilakukan dengan tenang dan optimal.[2]
Arabiyatuna Arabiyatuna
