Presepsi Terhadap Gaya Kepemimpinan Transformasional
Greenberg & Baron (dalam Su”ud, 2000) menyatakan bahwa persepsi adalah suatu proses yang dialami oleh seseorang dalam menyeleksi, mengorganisasi dan menafsirkan informasi. Pengertian serupa juga diungkapkan Albright, dkk (1997) yang menjelaskan bahwa persepsi adalah proses yang dialami manusia dalam menerima, mengorganisasi dan menafsirkan informasi dari lingkungan mereka.
Kedua pengertian di atas memberikan kesimpulan kepada kita bahwa terdapat beberapa tahap dalam proses persepsi, yaitu: Pertama, proses menerima rangsangan atau data dari berbagai sumber. Kebanyakan rangsangan diterima individu melalui panca indra, baik secara langsung berhubungan dengan dunia luarnya maupun dengan dunia dalam dirinya sendiri. Kedua, proses seleksi yang dilakukan otak dalam menyortir dan berusaha memilih yang dipandang penting dari suatu isyarat. Proses memilih ini melibatkan tiga faktor utama yaitu: faktor psikologis, faktor stimulus dan faktor fisik. Ketiga, proses pengorganisasian informasi menjadi pola atau prinsip yang akan membantu kita dalam memahami dunia. Keempat, proses penafsiran dilakukan otak dengan menggunakan informasi untuk membuat penjelasan dan penilaian mengenai dunia luar. Penafsiran ini dipengaruhi oleh sejumlah faktor seperti pengalaman hidup, harapan, kebutuhan dan minat, kerangka acuan, faktor budaya, dan sejumlah faktor lain.
Robbins (1998) mengungkapkan bahwa dalam proses persepsi tersebut setiap orang memberikan makna sendiri terhadap stimulus. Individu dapat berbeda dalam
melihat hal yang sama dengan cara pandang yang berbeda; sebaliknya sekumpulan individu dapat pula mempersepsi suatu obyek dengan hasil persepsi yang sama. Persepsi semacam ini disebut persepsi sosial.
Menurut Luthans (1995) persepsi sosial adalah perhatian secara langsung mengenai bagaimana seorang individu mempersepsi individu yang lain. Dalam konteks ini, persepsi sosial menunjukkan pada proses pembentukan penilaian mengenai kualitas orang lain. Dijelaskan bahwa persepsi sosial merupakan proses pembentukan keputusan mengenai kualitas orang lain. Kualitas di sini dapat diartikan kepribadian.
Melihat pemaparan di atas dapatlah kita sederhanakan sebagai proses penilaian maka sangat mungkin terjadi penilaian setiap orang tentang individu yang sama mungkin berbeda. Sebagai sebuah proses penilaian maka hasil penilaian itu bisa positif dan bisa juga negatif. Proses inilah yang akan terjadi pada setiap individu sebelum memutuskan untuk berhubungan dengan subyek yang dipersepsi. Persepsi yang dilakukan oleh seorang anggota terhadap kualitas pimpinannya dapat kita kelompokan ke dalam apa yang disebut persepsi sosial. Persepsi sosial ini biasanya berlangsung, sebelum anggota mengikuti, dan mempercayai pimpinannya. Presepsi juga termasuk ketika kita melakukan penilaian apakah perilaku dan segala sesuatu yang dilakukakan oleh seorang pemimpin sudah mencerminkan gaya kepemimpinan transformasional atau tidak .
Menyinggung presepsi terhadap gaya kepemimpinan transformasional seorang pemimpin, maka pendapat Bass (1985) tentang hal ini dapat dijadikan titik
tolak dari pemikiran dan uraian dari tulisan ini selanjutnya. Bass (1985) menjelaskan bahwa indikator langsung penerapan gaya kepemimpinan transformasional terletak pada perilaku para pengikutnya yang didasarkan pada persepsi mereka terhadap sang pemimpin. Selanjutnya uraian ini akan lebih banyak menjelaskan kepemimpinan transformasional dan berbagai aspek yang mendasari pemikiran gaya kepemimpinan transformasional ini.
Perkembangan terbaru dari teori kepemimpinan adalah konsep otoritas karismatik dari Weber yang dilanjutkan oleh House, dengan delapan proposisi mengenai karakteristik karismatik. Ide House ini disempurnakan oleh Bass (1990) dengan mengemukakan tipe kepemimpinan transaksional dan transformasional.
Konsep transformasional dan transaksional diadopsi Burn (1978) dari kepemimpinan politik, kemudian diterapkan pada organisasi bisnis (Bass,1997). Bass dalam Bass (1990) mengemukakan bahwa gaya kepemimpinan transaksional merupakan dasar bagi berlangsungnya efektivitas kelompok, tetapi belum menjelaskan usaha anggota kelompok atau organisasi yang dapat dimunculkan oleh pimpinan, tanpa melalui proses pertukaran sederhana antara imbalan dan usaha. Adanya berbagai keterbatasan kepemimpinan transaksional dalam mewujudkan imbalan yang sesuai akan mengancam keberhasilan pengembangan jangka panjang, perubahan individu dan organisasi. Dengan alasan tersebut maka diperlukan kepemimpinan transformasional untuk dapat menggerakkan perubahan-perubahan yang sesuai dengan perkembangan dunia dan mengembangkan seluruh potensi yang dimiliki anggota.
Pawar dan Eastman (dalam Bass,1997), mengemukakan bahwa perhatian para ahli difokuskan pada persoalan-persoalan yang berkaitan dengan perilaku kepemimpinan dan dampaknya pada pengikut serta kelompok atau organisasi. Meskipun para ahli tidak melupakan bagaimana para pemimpin transformasional mengembangkan, mengkomunikasikan dan melaksanakan sebuah visi. Dengan alasan tersebut para ahli lebih banyak mencurahkan perhatiannya pada aspek-aspek intra pribadi dan antar pribadi ( Bass, dalam Bass,1997 ).
Sejauh mana seorang pemimpin dikatakan transformasional dapat diukur dalam hubungannya dengan pengaruh pimpinan tersebut terhadap anggota atau pengikut (Yukl, 1989). Upaya pimpinan untuk mempengaruhi anggota dapat melalui tiga cara yaitu.1) Mendorong anggota untuk menyadari pentingnya suatu hasil usaha atau pekerjaan; 2) mendorong anggota untuk lebih mementingkan organisasi atau kelompok dari pada kepentingan pribadi; 3) meningkatkan kebutuhan-kebutuhan anggota menuju kebutuhan yang lebih tinggi.
Arabiyatuna Arabiyatuna
