Beberapa Konsep Tentang Konsep Diri
Konsep diri merupakan struktur yang terdiri dari self atau aku yang dapat berfungsi sebagai subyek dan obyek. Melalui proses kematangan yang meliputi unsur pengalaman dan pengaruh lingkungan sosial, konsep diri tumbuh dan berkembang membentuk diri dan ciri-ciri diri.
a. Konsep Teori Kaca ( looking glass self )
Teori ini dikemukakan oleh Cooley (1912). Cooley berpendapat bahwa gambaran diri seseorang adalah refleksi dari pandangan orang lain dalam dirinya. Teorinya diistilahkan dengan teori kaca karena Cooley (1912) berpendapat bahwa diri individu dapat dianalogikan sebagai cermin, dimana cermin memiliki kemampuan untuk merefleksikan subyek yang ada di hadapannya, begitupun dengan diri individu dimana nilai-nilai yang melekat pada dirinya dapat dilihat pada diri orang lain. Dalam mendeskripsikan self, Cooley (1912) mendefinisikannya sebagai aku yang berarti I, Me, Mine, dan My self, dimana hal itu untuk menegaskan bahwa self mengandung unsur emosi lebih kuat dibandingkan unsur yang non self, dan self hanya dapat dipahami sebagai perasaan subyektif.
b. Konsep diri Positif dan Negatif
Konsep ini dikemukakan oleh Brooks & Emmert (dalam Rakhmat, 1996). Mereka membagi konsep diri menjadi dua macam, yaitu konsep diri yang bersifat positif dan negatif. Konsep diri positif dicirikan oleh adanya kemampuan pada diri seorang individu untuk mengatasi masalahnya. Merasa sejajar dengan orang lain, adanya kesadaran bahwa tiap orang memiliki keragaman perasaan, adanya hasrat dan perilaku yang tidak disetujui oleh masyarakat, mampu mengembangkan diri, sanggup mengungkapkan aspek-aspek kepribadian yang buruk dan berupaya untuk merubahnya, serta dapat menerima pujian tanpa adanya rasa malu. Konsep diri negatif dicirikan dengan adanya rasa kepekaan terhadap kritik, responsif terhadap pujian, punya sikap hiperkritis, cenderung merasa tidak disukai orang lain, dan pesimistis terhadap kompetisi. Secara umum peryataan di atas dapat dipahami bahwa konsep diri merupakan konsep seorang individu yang berkaitan dengan kemampuan individu yang bersangkutan dalam memahami dirinya dan keberadaan dirinya dari sudut pandang dirinya maupun orang lain. Dengan ungkapan lain bahwa individu yang bersangkutan dapat menjadi obyek sekaligus subyek dari dirinya. Dengan alasan itu maka sangat wajar bila pembentukan konsep diri itu sangat dipengaruhi oleh faktor sosial yang melingkupinya, disamping faktor internal individu sendiri, sehingga individu tersebut mampu melakukan identifikasi diri, baik secara individual maupun sosial. Jadi apabila seseorang telah mampu melakukan identifikasi dirinya dan telah mampu memandang dirinya dari sudut pandang orang lain, niscaya individu tersebut akan memiliki konsep diri positif.
Arabiyatuna Arabiyatuna
