Gangguan Pemusatan Perhatian dan Pengelolaan Emosi Penderita Skizofrenia
Skizofrenia merupakan sindrom dengan variasi penyebab (banyak yang belum diketahui) dan perjalanan penyakit (tidak selalu bersifat kronis atau ”dereriorating”) yang luas, serta sejumlah akibat yang tergantung pada pertimbangan pengaruh genetik, fisik dan sosial budaya (Maslim, 2002).
Gejala-gejala skizofrenia awal terjadinya skizofrenia terkadang tidak disadari oleh keluarga maupun orang terdekat. Pada awalnya orang yang menderita skizofrenia mengalami gangguan tidur, menarik diri dari lingkungan, kurang dapat berkonsentrasi dan adanya perubahan kepribadian. Gejala ini akan terus meningkat dengan berjalannya waktu jika tidak ditangani dengan segera semakin lama akan nampak aneh, sebab orang yang mengalaminya akan nampak tidak wajar antar lain: marah-marah tanpa sebab, berbicara tidak masuk akal, melakukan tingkah laku yang tidak wajar dan memiliki pandangan terhadap sesuatu secara tidak wajar. Gejala tersebut berkembang yang memunculkan waham, halusinasi dan terjadi gangguan pikiran.
Gangguan psikologis dapat mempengaruhi fisik manusia dan hal ini mempengaruhi syaraf-syaraf pada otak dan berkurangnya fungsi otak dalam tubuh manusia. Penelitian mengenai abnormalitas otak yang menyebabkan skizofrenia adanya rongga otak yang lebar pada penderita skizofrenia yang berkolerasi dengan kinerja yang lemah dalam berbagai tes neuropsikologis, penyesuaian yang buruk sebelum timbulnya gangguan dan respons yang buruk pada terapi obat.
Data menunjukkan bahwa korteks prefrontalis secara khusus menjadi penting dalam skizofrenia (Davidson dkk, 2006), antara lain:
- Korteks prefrontalis diketahui berperan dalam perilaku seperti bicara, pengambilan keputusan, dan tindakan yang bertujuan, yang kesemuanya mengalami gangguan dalam skizofrenia.
- Berbagai studi MRI menunjukkan berkurangnya daerah abu-abu dalam korteks prefrontalis.
- Para pasien skizofrenia menunjukkan tingkat metabolisme yang rendah dalam korteks prefrontalis.
Pada penderita skizofrenia terjadi berkurangnya volume daerah abu-abu dalam korteks temporalis dan frontalis menyebabkan hilangnya spinal dendritik yang merupakan cabang kecil pada batang dendrit dimana impuls-impuls saraf diterima dari berbagai neuron lain. Hal ini menyebabkan komunikasi antara neuron-neuronpun terputus yang mengakibatkan kondisi ”sindrom diskoneksi” pada otak.
Berdasarkan penjabaran diatas maka dapat diambil kesimpulan bahwa penderita skizofrenia mengalami gangguan kognitif yang didalamnya terdapat masalah dalam pengelolaan emosi dan masalah konsentrasi. Hal ini disebabkan oleh terganggunya koneksi yang terjadi pada otak.
Arabiyatuna Arabiyatuna
