Identitas Diri dan Identitas Sosial
Pengertian identitas harus berdasarkan pada pemahaman tindakan manusia dalam konteks sosialnya. Hal ini penting dilakukan untuk mengetahui posisi siapa kita dan siapa mereka, siapa diri (self) dan siapa yang lain (others). Dalam perkembanganya, identitas sosial banyak memberikan pemahaman tentang pembentukan diri sosial yang positif. Pembentukan diri sosial ini, sosial memiliki peranan yang sangat penting. Konsep diri individu memperoleh eksistensinya jika dia sudah melebur dalam identitas kelompok. Bahkan secara dominan konsep diri dibentuk berdasarkan pada identitas kelompok. Dalam bahasanya Hogg dan Abraham (1998), identitas ditentukan oleh pengetahuan
individu tentang kategori sosial dan kelompok sosial.1
Teori Identitas memberikan pemahamanya pada ide yang universal tentang diri dan sosialnya. Identitas diri adalah gabungan dari aspek eksternal individu yang membentuk identitas diri. Aspek eksternal itu adalah relasi individu dengan struktur sosial yang mengelilinginya. Burke (2002) memandang bahwa, ketika kondisi eksternal dan internal ini bergabung, maka
dinamisasi identitas seseorang akan terjadi.2
Teori identitas dikonseptualisasikan pada diri sebagai identitas diri yang kolektif. Sebagaimana digambarkan oleh Stryker dan Burke (2000) berikut:
Identity theory, in both variants, conceptualizes the self as a collection of identities. The identities each consist of a complex of role-
1 Burke, Peter, Stets, Jan, Identity Theory and Social Identity Theory. (Washington State
University, 1998) p. 3.
2 Jasso, Guillermina, Identity, Social Identity, Comparison, And Status: Four Theories With a Common Core. (New York University 2002) P. 3-4.
related phenomena, including expectations, performance, competence, enactment, behavior, and meanings. The identities are situated in networks of relationships among actors, for example, father and daughter, or teacher and student. Each identity generates some of what is variously called self-evaluation, self-esteem, self-worth, self-efficacy,
and so on.3
Identitas sosial terbentuk oleh internal kelompok dan eksternal. Identitas dibangun berdasarkan asumsi yang ada pada kelompok.4 Biasanya kelompok sosial membangun identitasnya secara positif. Pembentukan identitas sosial dilakukan untuk melakukan kategorisasi antara siapa saya dan mereka. Dengan demikian, maka munculah kontestasi kelompok untuk membandingkan aspek positif kelompoknya dengan yang lain. Aspek positif ini adalah prototype dari internal kelompok.5
Identitas sosial merupakan kategori kelompok sosial. Nasionalisme,
etnik atau ras, ataupun politik afiliasi merupakan bentuk-bentuk dari identitas sosial. Sebuah definisi tentang karakteristik kelompok bisa disebut sebagai identitas sosial. Setiap kelompok akan menggambarkan karakter anggota kelompok yang spesifik.6
Identitas sosial bisa diartikan sebagai perasaan, pikiran dan seni yang
dimiliki oleh kelompok, institusi, ataupun budaya. Identitas sosial memberikan kelonggaran pada kognisi individu untuk berperan serta dalam membentuk
3 Jasso, Guillermina, Ibid, p. 4.
4 Orang dapat mengidentifikasi arti kelompok berdasarkan pada budaya, bahasa, negara, ras, umur, jenis kelamin, organisasi, kota, desa, dan lain sebagainya. Kelompok sosial biasanya
memiliki pikiran dan perasaan yang sama, mereka menginginkan tujuan yang sama. Dalam keseharianya, kelompok sosial memiliki tipologi untuk membuat struktur sosial sesuai dengan kesepakatan kelompoknya. Lebih lanjut baca Postmes, T Baray, G. Haslam, S A Morton, T & Swaab, R. (in press). The Dynamics of Personal and Social Identity Formation. In T. Postmes & J. Jetten (Eds.), Individuality and The Group: Advances in social identity. (London: Sage Publications, 2004) p. 5-6.
5 Hogg, Michael A. The Social Identity Pespective: Intergroup Relation, Self-conception,
and Small Group. Small Group Research, Vol. 35 No. 3, June 2004. (Sage Publication, 2004) p.
252.
6 Michener, Andrew and Delamater, John. Social Psychology Fourth Edition. (USA: Harcourt Brace College Publishers, 1999) p. 81.
aturan sosial. Identitas sosial juga memberikan penjelasan pada hubungan intergrup. Dalam hubungan intergrup seringkali terjadi konflik. Bisa dikatakan bahwa identitas sosial memiliki kecenderungan untuk melihat konflik yang terjadi dalam masyarakat. Konflik biasanya terjadi antara internal grup/sosial dengan struktur diluar grup. Struktur eksternal ini bisa berupa kekuasaan, stratifikasi sosial, sumber daya manusia dan lain sebagainya.7
Identitas sosial secara umum dipandang sebagai analisa tentang hubungan-hubungan intergroup antar kategori sosial dalam sekala besar. Selain itu identitas sosial juga dimakanai sebagai proses pembentukan konsepsi kognitif kelompok sosial dan anggota kelompok. Lebih sederhananya, identitas sosial merupakan kesadaran diri yang secara khusus diberikan kepada hubungan antar kelompok dan hubungan antar individu dalam kelompok. Pembentukan kognitif sosial banyak dipengaruhi oleh peretemuan antar anggota individu dalam kelompok, orientasi peran individu dan partisipasi
individu dalam kelompok sosial.8
Identitas sosial berbeda dengan identitas diri dan kelompok sosial. Identitas diri lebih memeberikan pemahaman tentang atribusi diri sebagai kepribadian. Identitas ini dimiliki oleh setiap individu dan tidak dimiliki secara komunal. Berbeda halnya dengan identitas sosial, kepribadian dan identitas dimaknai secara komunal oleh kelompok sosial. Kadangkala kelompok sosial
juga masih membawa identitas dirinya dalam kelompok.9
7 Amado M Padilla, William Perez, Acculturation, Social Identity, and Social Cognition: A New Perspective, Stanford University Hispanic Journal of Behavioral Sciences, Vol. 25 No. 1, February 2003. (Sage Publications 2003) p. 42-43.
8 Hogg, Michael Op. cit. p. 246.
9 Turner, Hogg, Oakes, Reicher, and Wetherell (1987) memberikan penjelasan bahwa grup atau kelompok, identitas diri dan identitas sosial adalah kategori yang dibentuk berdasarkan pada
Sedangkan kelompok sosial adalah gabungan dari dua orang atau lebih. Biasanya mereka memiliki pemahaman tentang pandangan hidup, atribut dan definisi yang sama untuk mendefinisikan siapa mereka. Selain itu, kelompok sosial biasanya membentuk karakter yang berbeda dengan kelompok yang lain. Hal ini dilakukan dikarenakan ada keinginan kelompok untuk berbeda dengan kelompok yang lain.
Brewer, Hogg dan Abraham (1991) (dalam Peter Burk) membagi identitas sosial menjadi 4 tipe yaitu:
Pertama, Identitas yang berdasarkan pada perseorangan. Yang lebih ditekankan pada tipe ini adalah bagaiamana sifat diri dari bagaian kelompok diinternalisasikan oleh anggota individu sebagai bagian dari konsep diri. Sehingga tampak individu melakukannya dalam kehidupan sehari-hari.
Kedua, identitas sosial berdasarkan korelasi (relation social identity). Tipe ini memberikan pemahaman bahwa individu menggunakan identitas kelompok pada saat-saat tertentu. Saat dimana individu berhubungan khusus dengan orang-orang yang berada di luar kelompoknya. Hubungan relasional ini biasanya sering dilakukan dalam hubungan antara kelompok.
Ketiga, identitas sosial berdasarkan kelompok. Artinya, perilaku individu dalam berhubungan dengan kelompoknya. Pada kondisi seperti ini, individu harus menggunakan identitas sosial untuk bisa bergabung dengan kelompok sosial laimya.
Keempat, identitas kolektif, Identitas ini memiliki makna yang lebih praksis. Identitas sosial tidak hanya menjadi sebuah pengetahuan bersama untuk mendefinisikan identitas diri dan kelompok. Identitas sosial merupakan sebuah proses aksi sosial. Identitas kolektif kadang kala digunakan untuk melakukan resistensi ketika kelompok mereka
dipresentasikan oleh kelompok lain.10
Sedangkan Deaux (1992) dalam Burke, mencoba untuk menghubungkan antara identitas personal dengan identitas sosial. Dia
menjelaskan bahwa dalam cerita roman, identitas sosial merupakan konsensus
situasi yang pragmatis. Kategorisasi ini adalah suka-suka. Ketiga terminologi ini sampai sekarang masih dalam perdebatan. Hogg dan Turner tidak memberikan garis secara tegas diantara ketiganya. Lebih lanjut baca Amado M Padilla, William Perez, Op. cit. p. 43.
10 Burke, Peter, Stets, Jan, Identity Theory and Social Identity Theory. (Washington State
University, 1998) p. 17-19.
personal yang sangat mendasar. Biasanya identitas ini akan diekspresikan pada garis normatif yang lama. Aspek lain yang akan diekspresikan adalah perasaan dan nilai yang ada pada seseorang. Dengan membangun pola seperti ini, Deaux hendak memberikan indikasi bahwa, beberapa bagian dari identitas personal akan melebur pada identitas sosial dalam lingkup kecil. Cara untuk berkreasi secara unik juga akan diekspresikan dalam kelompok. Selain itu indentitas personal juga akan memberikan rangsangan kepada individu lain untuk merepresentasikan identitasnya di dalam kelompok sosial. Dengan demikian, bisa kita lihat bahwa beberapa identitas personal mencakup semua keberadaan
kelompok.11
Dalam pandangan Hogg12 (2004) proses identitas sosial melelui tiga tahap yaitu social categorization, prototype, dan depersonalization. Untuk memahami apa yang dimaksud oleh Hoog di atas mari kita bahas satu persatu.
Kategorisasi sosial berdampak pada definisi diri, perilaku dan persepsi pada prototype yang menjelaskan dan menentukan perilaku. Ketika ketidak- menentuan identitas ini terjadi, maka konsepsi tentang diri dan sosialnya juga tidak jelas. Prototype juga bisa menjadi sebuah momok bagi kelompok sosial. Dengan memberikan prototype yang berlebihan kepada kelompoknya, maka penilaian yang dilakukan kepada kelompok lain adalah jelek. Stereotype akan
muncul pada kondisi seperti ini. Pada dasarnya stereotype muncul dari kognisi
11 Burke, Peter, Stets, Jan, Op. cit. p. 16-17.
12 Michael A. The Social Identity Perspective: Intergroup Relation, Self-Conception and Small Group. Journal Small Group Research, Vol. 35. No. 3, June 2004, (Sage Publication, 2004) p. 254.
individu dalam sebuah kelompok. Stereotype juga bisa muncul dari kelompok satu terhadap kelompok lain yang berada di luar dirinya.13
Secara kognitif, orang akan merepresentasikan kelompok-kelompoknya dalam bentuk prototype–prototype. Selain itu, atribut-atribut yang menggambarkan kesamaan dan hubungan struktur dalam kelompok. Hal ini dilakukan untuk membedakan dan menentukan keanggotaan kelompok.14
Prototype adalah kontruksi sosial yang terbentuk secara kognitif yang
disesuaikan dengan pemaksimalan perbedaan yang dimiliki oleh kelompok dengan kelompok lainya. Hal ini dilakukan untuk menonjolkan keunggulan kelompoknya. Kepentingan dari kelompok untuk membentuk prototype adalah untuk merepresentasikan kelompoknya di wilayah sosial yang lebih luas. Biasanya prototype itu berdiri sendiri. Dia tidak semata-mata ditopang atau didapat dari adanya perbandingan antar kelompok sosial. Dengan demikian proses yang terjadi dalam kelompok sosial tidak mungkin keluar dari kelompok ini. Perlu diketahui bahwa prototype itu senantiasa berkembang dari waktu
kewaktu.15
Prototype juga bisa dianggap sebagai representasi kognitif dari norma kelompok. Dimana norma kelompok tersebut dibentuk atas regulasi sosial yang hanya dibatasi oleh anggota kelompok. Hal yang paling penting dalam hal ini adalah penjelasan perilaku dan penegasan posisi bahwa dia adalah kelompok sosial tertentu. Norma sosial merupakan seperangkat aturan yang dibuat atas kesepakatan anggota kelompoknya. Norma sosial menjadi landasan dalam
berfikir dan bergerak kelompok. Dengan demikian norma sosial tidak menjadi
13 Burke, Peter, Stets, Jan, Op. cit. p. 8.
14 Hogg, Michael A. Op. cit. p. 248.
15 Hogg, Michael A. Op. cit. p. 253.
penjelasan atas keadaan sosial. Norma sosial ini mengatur tentang bagaimana individu dalam kelompok harus bersikap dan berperilaku.16 Norma sosial ini oleh John D Lamatter digambarkan sebagai struktur sosial yang membentuk ketertiban kelompok.17
Depersonalisasi adalah proses dimana individu menginternalisasi bahwa orang lain adalah bagian dari dirinya. Orang lain dapat masuk dalam kelompoknya seperti individu berada dalam kelompoknya. Dengan kata lain, kekuatan identifikasi adalah fungsi dari kesepakatan bahwa kelompok
terinternalisasi dalam individu.18
Identitas Sosial tidak datang dengan sendirinya. Dalam pembentukan identitas ada proses-proses motivasi. Hogg, memberikan penjelasan bahwa dalam proses pembentukan identitas, individu memiliki dua motivasi.
1. Self enhancemen (peningkatan diri).
Self enhacemen ini oleh individu dimanfaatkan untuk memajukan atau menjaga status kelompok mereka terhadap kelompok yang lain yang berada di luar dirinya. Selain itu juga berfungsi untuk mengevalusi identitas kolektif. Dalam konteks kelompok yang lebih menonjol, self dalam pemahaman Hogg dapat dimaknai sebagai collective self atau identitas sosial.
2. Uncertainty reduction (reduksi yang tidak menentu)
Uncertainty reduction dilakukan untuk mengetahui posisi kondisi sosial dimana dia berada. Tanpa motivasi ini, individu tidak akan tahu dirinya
sendiri, apa yang harus dilakukan, dan bagaimana mereka harus
16 Ibid. p. 262.
17 Michener, Andrew dan Delamater, Op. cit. p. 336-337.
18 Hogg, Michael A. Op. cit. p. 254.
melakukanya. Sekaligus berfungsi untuk pembentukan prototype identitas sosial.19
Arabiyatuna Arabiyatuna
