Faktor manusia sebagai unsur tenaga kerja adalah faktor yang cukup dominan dari unsur-unsur lainnya, karena betapapun lengkapnya sarana dan terpenuhinya modal usaha tanpa adanya tenaga kerja semua tidak akan berjalan, dalam hal ini tenaga kerja dapat dikatakan sebagai kunci keberhasilan organisasi (perusahaan) dan merupakan kekayaan atau asset yang harus dikembangkan, dihargai dan bukan sekedar dieksploitasi, sehingga keberadaannya harus tetap dipelihara agar dapat memberi kontribusi yang besar terhadap keberhasilan organisasi.
PT Matrix Primatama merupakan perusahaan yang bergerak dalam bidang jasa pelaksana konstruksi tidaklah mungkin akan berhasil dalam mencapai tujuan perusahaan tanpa adanya tenaga kerja yang menjalankan dan menyelesaikan usaha pelayanan jasa tersebut. Tentunya tenaga kerja yang memiliki skill dan keahlian dibidang pelayanan jasa pelaksana konstruksi bangunan.
A.Dale Timpe (1989) dalam Sedarmayanti (2001 :70) mengungkapkan tentang ciri umum pegawai yang produktif adalah sebagai berikut :
- Cerdas dan dapat belajar dengan cepat.
- Kompeten secara professional/teknis selalu memperdalam pengetahuan dalam bidangnya.
- Kreatif dan inovatif, memperlihatkan kecerdikan dan keanekaragaman.
- Memahami pekerjaan.
- Belajar dengan “cerdik”, menggunakan logika, mengorganisasikan pekerjaan dengan efesien, tidak mudah macet dalam pekerjaan. Selalu mempertahankan kinerja rancangan, mutu, kehandalan, pemeliharaan keamanan, mudah dibuat, produktivitas, biaya dan jadwal.
- Selalu mencari perbaikan, tetapi tahu kapan harus berhenti menyempurnakan.
- Dianggap bernilai oleh pengawasnya
- Memilki catatan prestasi yang berhasil.
- Selalu meningkatkan diri.
D.H. Bush (1991) dalam Iman Soeharto ( 1999 :43) “Kualitas tenaga kerja dapat dilihat dari waktu yang digunakan dalam pelaksanaan proyek tepat dengan tujuan awal dan rencana awal dalam pelaksanaan proyek. Karena waktu atau jadwal merupakan salah satu sasaran utama proyek, keterlambatan akan mengakibatkan berbagai bentuk kerugian, misalnya penambahan biaya, denda dari nilai kontrak, kredibilitas perusahaan mejadi jelek, kehilangan kesempatan produk memasuki pasaran, dan lain-lain. Pengelolaan waktu mempunyai tujuan utama agar proyek diselesaikan sesuai atau lebih cepat dari rencana dengan memperhatikan batasan biaya, mutu dan lingkup proyek”.
Adapun proses pengelolaan waktu proyek antara lain :
1. Identifikasi kegiatan
Proses pengelolaan waktu diawali dengan mengidentifikasi kegiatan proyek agar komponen lingkup proyek yang telah ditentukan dapat terlaksana sesuai dengan jadwal. Output dari proses ini adalah daftar kegiatan dan time schedule
2. Penyusunan urutan kegiatan
Setelah diuraikan menjadi komponen, lingkup proyek disusun kembali menjadi urutan kegiatan sesuai dengan logika ketergantungan. Output proses ini adalah jaringan kerja
3. Perkiran kurun waktu
Setelah adanya jaringan kerja maka ditentukan perkiraan kurun waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan kegiatan yang bersangkutan
4. Penyusunan jadwal
Jaringan kerja yang telah diberi kurun waktu kemudian secara keseluruhan dianalisis dan dihitung kurun waktu penyelesaian proyek dan milestone yang merupakan titik penting dari sudut jadwal proyek
5. pengendalian waktu dan jadwal
Pengendalian waktu meliputi kegiatan yang berkaitan dengan pemantauan dan pengoreksian agar “progres” pekerjaan proyek sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan. Output dari proses ini adalah revisi jadwal induk (time schedule), milestone dan jadwal pekerjaan dilapangan.
Arabiyatuna Arabiyatuna
