Pelaksanaan Strategi Belajar Mengajar
- Tahap-tahap pengelolaan dan pelaksanaan proses belajar mengajar
Tahap-tahap pengelolaan dan Pelaksanaan proses belajar mengajar dapat diperinci sebagai berikut:
1) Perencanaan, meliputi:
1) Menetapkan apa yang mau dilakukan, kapan dan bagaimana cara melakukannya.
2) Membatasi sasaran dan menetapkan pelaksanaan kerja untuk mencapai hasil yang maksimal melalui proses penentuan target.
3) Mengembangkan alternative-alternatif.
4) Mengumpulkan dan menganalisis informasi.
5) Mempersiapkan dan mengkomunikasikan rencana-rencana dan keputusan-keputusan.
2) Pengorganisasian
1) Menyediakan fasilitas, perlengkapan dan tenaga kerja yang diperlukan untuk penyusunan kerangka yang efisien dalam melaksanakan rencana-rencana melalui suatu proses penetapan kerja yang diperlukan untuk menyelesaikannya.
2) Pengelompokan komponen kerja ke dalam struktur organisasi secara teratur.
3) Membentuk struktur wewenang dan mekanisme koordinasi.
4) Merumuskan dan menetapkan metode dan prosedur.
5) Memilih, mengadakan pelatihan dan pendidikan tenaga kerja serta mencari sumber-sumber lain yang diperlukan.
3) Pengarahan.
1) Menyusun kerangka waktu dan biaya secara terperinci.
2) Memprakarsai dan menampilkan kepemimpinan dalam melaksanakan rencana dan pengambilan keputusan.
3) Mengeluarkan instruksi-instruksi yang spesifik.
4) Membimbing, memotivasi dan melakukan supervise.
4) Pengawasan.
1) Mengevaluasi pelaksanaan kegiatan dibandingkan dengan rencana.
2) Melaporkan penyimpangan untuk tindakan koreksi dan merumuskan tindakan koreksi, menyusun standar-standar dan saran-saran.
3) Menilai pekerjaan dan melakukan tindakan koreksi terhadap penyimpangan-penyimpangan.[1]
- Pendekatan dalam Pengajaran Pendidikan Agama Islam
Pendekatan dalam mengajar secara umum ada dua. Masing masing pendekata ini dilakukan untuk melancarkan dalam proses belajar mengajar. Kedua pendekata tersebut antara lain;[2]
1) Pendekatan Inquiri atau Pendekatan Personal
Pandangan ini bertolak dari pandangan bahwa siswa sebagai subjek dan objek dalam belajar, mempunyai kemampuan dasar untuk berkembang secara optimal sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya. Dalam hal ini proses pembelajarn harus dipandang sebagai stimulus yang dapat menarik siswa dalam belajar. Dalam hal ini juga guru harus lebih menekankan pada peran sebagai pembimbing dan pengajar, serta sebagai fasilitator belajar dan ciri utama pada pendekatan ini adalah guru mempunyai tugas untuk memilih masalah yang perlu dilontarkan kepada kelas untuk dipecahkan. Pendekatan ini dapat ditempuh dengan syarat sebagai berikut
- Guru harus terampil dalam memilih persoalan yang relevan, kususnya yang terkait dengan akhlaq
- Guru harus terampil dalam menumbuhkan dalam motivasi belajar pada siswa terhadap pendidikan akhlaq
- Adanya fasilitas dan sumber belajar yang cukup
- Adanya kebebasan siswa untuk berpendapat dan berkarya
- Adanya parsitipasi siswa dalm kegiatan belajar
- Guru tidak banyak campur tangan dalam kegiatan siswa
Tahapan tahapan yang ditempuh dalam pendekatan ini;
- 1. Perumusan masalah untuk dipecahkan siswa
- 2. Menetapkan jawaban sementara atau hipotesis
- 3. Siswa mencari data fakta atau informasi untuk menjawap semua pertanyaan
- 4. Menarik kesimpulan dan generalisasi
- 5. Mengaplikasikan kesimpulan dalam situasi yang baru
Biasanya kegiatan dilaksanakan pada setiap tatap muka atau setiap pertemuan, baik dikelas maupun diluar kelas.
2) Pendekatan Tingkah laku ( behavioral)
Penekanan pada pendekatan ini terlihat pada pada teori tingkah laku, sebagai aplikasi dari teori belajar behavioristik. Dalam pendekatan ini langkah guru dalam mengajar adalah sebagai berikut;
- Guru menyajikan stimulus belajar pada siswa
- Mengamati tingkah laku siswa terhadap stimulus yang diberikan
- Menyediakan atau memberikan latihan latihan pada siswa
- Memperkuat respon siswa yang dipandang paling kuat terhadap stimulus yang diberikan.
Tahapan intruksional ini mengacu pada tujuan intruksional, yaitu rumusan pearnyatan mengenai keamamuan atau tingkah laku yang diharapkan dimiliki atau dikuasai oleh siswa.
Dalam proses pembelajaran, untuk mengimplementasikan rencana yang sudah disusun dalam kegiatan nyata agar tujuan yang diinginkan dapat tercapai secara optimal maka dibutuhkan metode serta upaya-upaya untuk mengimplementasikan program yang sudah direncanakan, dalam hal ini metode dalam rangkaian system pembelajaran memegang peranan yang sangat penting. Keberhasilan implementasi strategi pembelajaran sangat tergantung pada cara guru menggunakan metode pembelajaran, karena suatu strategi pembelajaran hanya mungkin dapat diimplementasikan melalui penggunaan metode pembelajaran. Ada banyak metode yang dapat diaplikasikan dalam proses pembelajaran, adapun untuk pemilihannya dapat diambil atau disesuaikan dengan pertimbangan- pertimbangan pemilihan strategi yang tepat.
Disisi lain pendekatan yang dapat ditempuh dalam pendidikan agama Islam antara lain dengan:
- Pendekatan Filsafat Islam
Pendekatan ini menekankan pada keyakinan, bahwa Islam adalah wahyu Allah yang maha Kuasa, sehingga kita tidak perlu meragukan dan yakin bahwa segala isi wahyu tersebut mengandung kebenaran yang multlak, mengandung nilai-nilai yang baik dan benar dalam membimbing manusia di dunia dan akherat, dengan demikian kita tidak hanya tunduk saja kepada perintah-Nya, akan tetapi kita harus dapat menggunakan firman-firmanNya sebagai penyuluh atau penerang yang mampu memberikan petunjuk bagi pemecahan masalah hidup kita yang kita hadapi.
- Pendekatan Sosiologis
Pendidikan Islam sebagai pengendali atau pengarah perilaku manusia terhadap tuntutan perubahan social, dimana iman dan taqwa menjadi landasan dalam penerapan atau pengamalannya dalam masyarakat.
Melalui proses pendidikan Islam diharapkan dapat tertanam perilaku hidup bersama sehingga tercapai cara-cara hidup yang membawa kesejahteraan dunia akherat sesuai yang dikehendaki Allah.
- Pendekatan Pedagogis
Pendidikan Islam merupakan kegiatan yang merupakan interaksi antara pendidik dan pesrta didik dalam rangka usaha pembentukan manusia yang berakhlak mulai, yang didalamnya terjadi kegiatan komunikasi dan interaksi antar manusia yang saling mempengaruhi. Oleh karena itu dalam membentuk akhlak mulia dengan wujud perubahan tingkah laku, maka pendidikan Islam harus menggunakan tingkah laku, yaitu cara pandang peristiwa pendidikan Islam yang menekankan perubahan perilaku sebagai hasil interaksi antara pendidik dan peserta didik.
- Pendekatan Sistem
Cara pandang pendidikan Islam berdasarkan system dapat digambarkan sebagai proses belajar mengajar yang dipengaruhi masyarakat Islam untuk menghasilkan lulusan yang mampu berperan dalam hidupnya untuk memperngaruhi dan mengembangkan kehidupan orang Islam dalam lingkup kehidupan bangsa Indonesia.[3]
Berikut beberapa upaya dalam mengembangkan pendidikan agama Islam sebagai bentuk pengimplementasian program yang sudah ada.
1) Penciptaan Suasana Religius
Penciptaan suasana religius di sekolah merupakan bagian dari pengembangan informal, dalam arti yang diprogram adalah lingkungannya, sarananya, atau iklimnya. Dan penciptaan suasana religius ini memiliki landasan yang kuat, setidak-tidaknya dapat dipahami dari landasan filosofis bangsa Indonesia, yaitu Pancasila.[4] Seperti halnya dalam pengembangan pendidikan agama Islam, adanya nilai-nilai keimanan telah dijadikan sebagai salah satu prinsip pertama dan utama dalam mengembangkan kurikulum. Dalam artian keimanan, budi pekerti luhur, dan nilai-nilai budaya.
2) Pendekatan Atau Interaksi Sosial
Aspek lain yang perlu diketahui dalam mengembangkan pendidikan agama Islam adalah dengan melalui pendekatan interaksi social. Pendekatan interaksi sosial adalah suatu pendekatan pembelajaran dimana hubungan sosial antara siswa yang satu dengan yang lain sangat diperhatikan, dalam hal ini dapat dikatakan interaksi sosial sangatlah menekankan pada praktek sosial siswa. Pendekatan ini pada hakekatnya bertolak pada pemikiran pentingnya hubungan pribadi, dalam hal ini sebagai perkembangan akhlaq terhadap sesama, melalui interaksi sosial dengan teman, baik satu angkatan atau teman sebaya maupun teman beda angkatan.[5]
Langkah langkah yang ditempuh guru pada pendekatan ini adalah:
- Guru melemparkan masalah kepada siswa dalam bentuk sosial
- Siswa menelusuri masalah tersebut dengan bimbingan guru
- Siswa diberikan tugas untuk mnganalisis permasalahan tersebut yang sesuai dengan situasi siswa
- Dalam memecahkan permasalahan tersebut siswa diminta untuk mndiskusikannya
- Siswa memuat hasil diskuasi
- Pembahasan kembali terhadap permasalahan tersebut secara bersama sama
3) Pelestarian Nilai-Nilai Islami
Strategi pendidikan Islam mengandung pengertian rangkaian perilaku pendidik yang tersusun secara terencana dan sistematis untuk menginformasikan, mentransformasikan dan menginternalisasikan nilai-nilai Islami agar dapat membentuk kepribadian muslim seutuhnya.
Rangkaian perilaku yang terencana dan sistematis ini merupakan alur pemikiran ilmiah, yaitu tata cara berfikir yangmenghubungkan cara berfikir induktif dan cara berfikir deduktif dalam rangkan menerapkan prinsip, fakta dan konsep yang relevan dengan tujuan pendidikan Islam.
Sebagaimana difahami bahwa agama Islam adalah suatu ajaran atau petunjuk hidup yang baik dan benar dari Allah SWT untuk manusia yang disampaikan Rosulullah SAW.
Agama Islam mengandung beberapa komponen yang merupakan satu kesatuan yang utuh. Hal ini berarti bahwa sebagai suatu system, maka Islam mempunyai tiga komponen utama yaitu; isi, proses dan tujuan. Dalam hubungannya dengan pendidikan Islam, maka untuk dapat memahami isi, proses dan tujuan pendidikan Islam ini diperlukan rancangan tata pikir yang sistematis dalam mempelajari Al-Qur’an dan hadits.[6] Dengan demikian adanya Firman-firman Allah yang diturunkan dimaksudkan agar manusia mampu mempelajari maksud, isi dan tujuan penurunan firman tersebut dengan menggunakan akal dan pikiran, yang kemudian manusia berupaya mengamalkan dalam kehidupan sehari-hari
4) Pembentukan Kepribadian Siswa.
Untuk lebih mengembangkan potensi akademik dalam kegiatan pendidikan tidak terlepas pula adanya upaya membentuk kepribadian siswa. Sebagaimana dituntut dalam tujuan pendidikan nasional, siswa bukan hanya diutamakan dalam peningkatan intelektual semata (pengembangan logika) namun juga perlu mengembangkan etika, estetika dan praktika.
Khusus pengembangan etika, jalan yang dilalui adalah dengan pembentukan kepribadian siswa. Beberapa upaya yang dapat dilakukan adalah:
- Mengintensifkan pelaksanaan pelajaran agama.
- Melaksanakan berbagai upacara.
- Mengutamakan kesamaptaan, dan
- Melaksanakan pendidikan budi pekerti dalam kehidupan sehari-hari.[7]
5) Pembelajaran Alam Sekitar
Dalam strategi alam sekitar ini ada beberapa prinsip yang ada didalmnya, diantaranya adalah sebagai berikut
- Guru dapat memperagakan langsung ilmu yang diberikan, contohnya masalah Akhlaq.
- Dalam strategi ini anak didik dituntut untuk selaku aktif dan bekerja, tidak hanya dduduk dan menulis serta mendengar saja
- Strategi ini memungkinkan adanya pengajaran totalitas
- Model ini memberikan kepada siswa bahan yang apersepsi intelektual yang kukuh dan tidak verbalitas
- Peangajaran ini memberikan apersepsi emosional yang tinggi
Dalam pengajaran alam sekitar ini anak dibawa untuk tetap bisa mengetahui barang atau teori sekaligus prakteknya secara langsung, pengajaran dalam hal ini tidak selalu mengaju pada pengajaran selanjutnya atau materi yang telah ada akan tetapi jauh lebih meluas pada materi yang lain yang bersifat umum.[8]
6) Pembelajaran Pusat Perhatian
Dalam model pembelajaran ini penekanannya pada maxsimalanya penggunana sekolah sebagai pusat dari pada pendidikan anak. Dalam hal ini sekolah sebagai laboratorium guna mengadakan penyelidikan demi kebaikan sistem pendidikan dan pengajaran. Dalam pendekatanm ini terdapat poin penting yang menjadi ciri kusus
- Sekolah berhubungan nlangsung dengan alam sekitarnya
- Pendidikan dan pembelajaran didasarkan atas perkembangan anak.
- Sekolah kerja
- Pendidikan yang fungsional dan praktis
- Pendidikan bersifat kesosialan dan kesusilaan
- Kerjasama antar rumah dan sekolahan
- Ko edukasi
- Mempergunakan alat baru dalam pendidikan oleh siswa sendiri
7) Pembelajaran Sekolah Kerja
Dalam pembelajaran model ini sekolah berkewajiban menyiapkan dan mencetak warga negara yang baik, sesuai dengan aturan yang ada. Dalam prakteknya seorang guru terjun langsung bekerja, membimbing, mengarahkan dan memberi dorongan kepada anak didik secara langsung.
8) Pembelajaran Individual
Dalam model ini secara umum penngajaran ditekankan pada peran individu individu secara terpisa dalam artian pemberian tugas, seorang anak diberikan tugas untuk dikerjakan sendiri meskipun tiap anak diberikan tugas yang sama atau sejalan. Biasanya bentuk ini berupa modul, independent study, dan lain sebagainya
9) Pembelajaran Klasikal
Dalam model pembelajaran ini, pada umumnya pemberian materi ajaran oleh guru kepada siswa berupa materi secara bersama, sesuai dengan tingkatan kelas kelas yng ada, biasanya diberikan dengan berceramah didepan kelas. Dalam model ini mencerminkan kemampuan guru secara penuh dalam menguasai kelas, hal ini disebabkan keefesienan dalam pembelajaran ini, secara bersama sama
10) Kontruktivis Dalam Mengajar
Dalam hal ini ditekan kan prinsip bahwa pembelajaran diutamakan diluar kelas atau diluar sekolah, dimana pengetahuan yang diperoleh siswa banyak didapat dari luar sekolah atau di lingkungan sekitar. Dalam hal ini pengarahan dilakukan oleh guru secara langsung akan tetapi setiap sesuatu yang menambah pengetahuan siswa adalah guru dalam arti yang luas.[9]
[1] Drs. H. Abu Ahmadi, Drs. Joko Tri Prasetya, Op. Cit., hal 33
[2] Muhibbin Syah. Op. Cit., hlm 116
[3] Tim Dosen IAIN Sunan Ampel, Dasar-dasar Kependidikan Islam (Surabaya: Abditama, 1996), hlm 151
[4] Muhaimin,M.A, Op., Cit, hlm 56
[5] Syaiful Sagala. Op. Cit., hlm179
[6] Tim Dosen IAIN Sunan Ampel, Op. Cit., hlm. 130
[7] Nursisto, Peningkatan Prestasi Belajar Sekolah Menengah ( : Insan Cendekia, 2002), hlm 122
[8] Ibid, hlm 180
[9] Ibid, hlm 188
Arabiyatuna Arabiyatuna
