Pemahaman – penalaran – Kemampuan membuat konsep menjadi dasar pada aktivitas menalar. Menurut Merrifield (dalam Guion, 1965) terdapat empat faktor penting yang terlibat pada problem solving, yaitu pemahaman verbal dan melihat konsep, berpikir divergen (orisinal) serta kepekaan adanya problem atau kemampuan mengevaluasi. Jadi kemampuan memahami dan melihat struktur dari masalah adalah faktor yang penting untuk problem solving. Kemampuan verbal dapat menunjukkan perkembangan bahasa dan kemampuan memahami hubungan antar konsep pada sesesorang (Cronach, 1963).
Pemahaman merupakan suatu proses mental yang membutuhkan kemampuan mnegenal dan menyimpan arti suatu kata, menguraikan kalimat, mnegenal ide-ide penting, mengorganisasikan ide-ide, dan menggabungkan ide-ide dengan pengetahuan yang sudah ada. Pemahaman ditandai oleh adanya konstruksi. Yaitu ada interaksi pada ide-ide yang membentuk skema. Bacaan yang terdapat dalam pemahaman mengandung tujuan, rencana, dan konsep (Small, 1990).
Menurut Vigotsky (Small, 1990) perkembangan bahasa merupakan aspek penting bagi perkembangan kognitif. Pemahaman terhadap suatu masalah menjadi syarat untuk dapat membuat keputusan, karena pemahaman mengandung pengertian adanya informasi yang dimiliki dimana informasi tersebut dapat dipakai untuk membuat keputusan, termasuk adanya informasi mengenai untung rugi dari pengambilan suatu keputusan (Kahneman dalam Eysenck & Keane, 2000).
Penalaran berperan pada saat manusia berpikir tentang suatu masalah dan mencari pemecahan masalah. Ketika memikirkan suatu rangkaian peristiwa maka
pikiran diorganisasikan . Pengorganisasian ini melibatkan berbagai kemampuan kognitif lainnya antara lain ingatan. Cara mengorganisasikan pikiran ini disebut menalar. Beberapa aktivitas yang melibatkan penalaran adalah membuat keputusaan, membuat argumentasi, dan menarik kesimpulan (Atkinson, 1996).
Penalaran merupakan bagian dari konsep yang dipakai untuk tujuan analisa. Menurut Stenberg (dalam Solso, 1997), penalaran ditandai oleh usaha mengkombinasikan informasi lama untuk membentuk pengetahuan baru. Informasi lama mungkin berasal dari luar (buku, film, koran) dan dari dalam (bahan-bahan ingatan) atau kombinasi keduanya. Selanjutnya penalaran dipakai untuk memecahkan masalah.
Penalaran dipakai oleh seseorang untuk membentuk dan mengevaluasi ide- idenya yang disesuaikan dengan kebenaran keyakinannya. Menalar berguna untuk memproduksi dan mengevaluasi argumen-argumen, merangkai data, menguji hipotesa dan membuat kesimpulan. Seseorang yang memiliki kemampuan menalar yang baik sering dikatakan bahwa ia memiliki logika berpikir yang baik. Menalar adalah aktivitas manusia mentransfer informasi untuk diperoleh suatu kesimpulan (Halonen & Santrock, 1999).
Flanagan (1953) telah mengembangkan alat ukur yang bertujuan mengukur kemampuan pemahaman yang menggambarkan potensi seseorang. Adanya gambaran potensi tersebut berguna untuk meramalkan kesuksesan seseorang dalam kehidupannya terutama dalam pekerjaan. Alat ukur tersebut berupa suatu baterei tes yang terdiri atas 14 tes, yang mana masing-masing tes disusun dalam satu booklet sendiri-sendiri. Tes yang mengukur kemampuan pemahaman seseorang terdapat pada
tes 8, yaitu Judgemen and Comprehension. Tes ini mengukur kemampuan membaca dengan disertai pemahaman, menalar secara logis, dan menggunakan penilaian yang baik pada situasi praktis. Tes terdiri atas enam paragraf materi bacaan sebagai stimulus, pada masing-masing paragraf terdapat empat pertanyaan untuk dijawab (Guion, 1965). Para teorikus berpendapat bahwa untuk dapat memahami bacaan prosesnya diawali oleh adanya persepsi terhadap kata-kata yang tertulis, kemudian persepsi ini akan mengarahkan kepada pengertian terhadap arti kalimat atau bacaan. Pemahaman terhadap teks bacaan dipengaruhi oleh luasnya pengetahuan yang dimiliki, sedangkan pengetahuan sendiri dapat dipandang sebagai organisasi terhadap sekumpulan informasi. Informasi baru dapat bergabung atau memperkuat informasi lama yang telah ada. Seseorang dengan kemampuan spesialis akan memiliki pengatahuan yang lebih baik daripada yang bukan spesialis (Solso, 1988).
Penalaran abstrak merupakan kemampuan menalar terhadap materi non verbal. Problem dipaparkan dalam bentuk diagram dimana untuk memahaminya dibutuhkan persepsi mengenai operasi prinsip dari perubahan diagram. Seseorang harus dapat menemukan prinsip operasi atau logika terjadinya perubahan gambar (Bennet dkk, 1952). Untuk penyelesaian tugas-tugas penalaran abstrak, dibutuhkan kemampuan menalar abstrak, logika, dan aplikasi dari pengetahuan yang telah ada atau schemata (Braine & O’Brien dalam Eysenck & Keane, 2000). Penalaran abstrak berguna untuk berbagai tujuan di sekolah dan pekerjaan. Pemahaman terhadap masalah atau situasi adalah tidak berdasarkan situasi yang kongkrit tetapi berupa problem-problem abstrak, misalnya berupa soal puzzle, operasi mesin kalkulator, dan
pola abstrak. Pada soal seperti ini dibutuhkan belajar dan mengaplikasikan pola abstrak (Cronbach, 1963).
Salah satu alat pengukur penalaran abstrak adalah Differentian Aptitute Test (Bennet dkk, 1952) yang dikembangkan untuk mengukur kemampuan pada anak laki-laki dan perempuan untuk kepentingan bimbingan di sekolah dan pekerjaan. Tes ini dapat menggambarkan logika mental dan kemampuan khusus yang berbdea-beda pada individu. Penalaran abstrak pada DAT berada pada tes Abstract Reasoning yang menukur kemampuan penalaran abstrak. Penalaran abstrak ini dapat dipergunakan pada orang yang kemampuan bahasanya kurang, karena stimulus yang dipakai berupa gambar yang disusun secara seri.
Arabiyatuna Arabiyatuna
