Saturday, 18 April 2026
above article banner area

Penggunaan NAPZA dalam jangka waktu lama

Penggunaan NAPZA dalam jangka waktu lama

 

Penggunaan NAPZA dalam jangka waktu lama menyebabkan zat NAPZA yang masuk  ke dalam tubuh lebih banyak dan terjadi akumulasi obat sehingga zat NAPZA  tertimbun  dalam  penyimpanan  tubuh  di  hati,  lapisan  lemak,  dan  otot, padahal NAPZA jenis tertentu menyebabkan pengguna tidak ada hasrat untuk makan dan kebutuhan akan energi  diperoleh dari tempat penyimpanan. Energi untuk kerja otak diperoleh dari simpanan yang ada di tempat penyimpanan. Apabila bahan yang disimpan adalah NAPZA maka yang akan beredar ke otak adalah juga NAPZA yang justru akan merusak sel saraf  otak.

Berapa banyak suatu obat dapat  menghasilkan efek tertentu bagi seseorang, misalnya berapa banyak obat aspirin yang harus diminum sehingga sakit kepala seseorang dapat sembuh? Berbicara mengenai jumlah obat yang harus diminum oleh sesorang adalah berbicara tentang dosis. Jika dosis ini sama jumlahnya bagi semua orang, maka masalah akan menjadi gampang. Yang terjadi adalah pada masing- masing orang memiliki ambang batas dosis yang berbeda-beda.

Agar suatu obat dapat berefek terapeutik, maka seorang ahli medis akan menghitung dosis efektif yang disesuaikan dengan berat badan, jenis kelamin, tingkat kesehatan, metabolisme, dan faktor yang lain. Dosis yang efektif adalah dosis yang dirujuk oleh dokter dapat menyebabkan efek terhadap populasi, misalnya “Effective Dose 50 (ED50)” adalah dosis itu efektif bagi 50 persen dari populasi. Adanya variasi mengenai dosis efektif, menjadi alasan mengapa seseorang tidak diijinkan menggunakan dosis yang efektif bagi orang lain. Oleh karena suatu dosis akan efektif bagi seseorang tetapi tidak bagi orang lain.

 

 

 

 

 

 

 

Sebaliknya terdapat dosis yang menyebabkan kefatalan bagi seseorang karena dosis yang dipakai adalah menyebabkan kematian atau kefatalan. Obat menyebabkan kefatalan karena suatu obat biasanya memiliki sejumlah efek samping tergantung pada  berapa  banyak  obat  yang  dikonsumsi.         Obat  dalam  dosis  kecil  dapat menimbulkan efek terapeutik namun jika dosis ditambah maka dapat menimbulkan efek samping yang membahayakan (Levy, 1984). Efek samping adalah efek suatu obat  yang  tidak  diinginkan  untuk  tujuan  terapi  dengan  dosis  yang  dianjurkan. Idealnya adalah obat bekerja dengan cepat, secara selektif dan untuk kurun waktu tertentu (Anief, 2002).

Penggunaan  NAPZA  secara  ilegal  tanpa  ada  pengertian     mengenai  dosis efektif dapat menyebabkan kefatalan karena pengguna NAPZA sering tidak menghitung  dosis.  Pengguna  menggunakan  dosis  dengan  istilah  “paket”.  Satu “paket” memiliki dosis yang bervariasi. Fatalitas dapat terjadi karena zat dapat mempengaruhi organ vital dan sistem saraf pusat. Over dosis NAPZA jenis hipnotik misalnya pil tidur atau NAPZA jenis depresan misalnya alkohol, dapat menyebabkan kematian.            Psikoatif misalnya heroin, LSD, amfetamin dan lain-lain, adalah jenis NAPZA yang memiliki efek samping merugikan (Levy, 1984).

Pengulangan  atau  perpanjangan  penggunaan  NAPZA  dapat  menyebabkan efek yang tidak diharapkan, misalnya : (a) reaksi hipersensitif, yaitu reaksi alergik merupakan respon abnormal terhadap obat atau zat dimana seseorang sebelumnya telah kontak dengan obat atau zat NAPZA sehingga muncul suatu antibodi; (b) kumulasi, yaitu suatu fenomena pengumpulan zat dalam badan sebagai hasil pengulangan  penggunaan  NAPZA  sehingga  zat  yang  diekskresikan  lebih  lambat

 

 

 

 

 

 

 

dibanding dengan absorpsinya. Efek kumulasi ini dapat menyebabkan efek toksik; (c) toleransi, yaitu fenomena berkurangnya respon terhadap dosis yang sama dari napza. Toleransi yang terjadi berupa toleransi sekunder yaitu toleransi yang timbul setelah suatu obat digunakan untuk beberapa waktu, seseorang dapat menjadi kurang peka   terhadap   obat   tersebut;   (d)   takhifilaksis,   yaitu   fenomena   berkurangnya kecepatan respon terhadap aksi obat pada penggunaan pengulangan obat dalam dosis yang sama. Respon mula-mula tidak dapat diperoleh meskipun dosisnya diperbesar; (e) adiksi, merupakan gejala ketergantungan fisik dan psikis terhadap suatu obat. Adiksi biasanya terjadi pada penggunaan narkotik, kokain, dan ganja. Penggunaan jenis NAPZA ini menimbulkan efek euforia (rasa nyaman) yang kuat, segala kecemasan hilang dan memperbesar kemampuan akan berprestasi mental                                   (Anief,

2002).

 

Jadi kaitan penggunaan NAPZA dalam jangka waktu lama terhadap kinerja kogitif adalah NAPZA mempengaruhi kerja sistem saraf. Dimana zat NAPZA menghambat ambilan kembali norepinefrin, serotonin, dan dopamin kembali ke terminal presinaps. Neurotransmitter tersebut berperan penting bagi eksitasi sel saraf pada pengiriman impuls. Jika jumlah neurotransmit tersebut membanjiri celah sinaps maka saraf pascasinaps tidak dapat dieksitasi, karena neurotransmitter mengeblok reseptor di saraf pascasinaps. Akibatnya aktivitas memberi perhatian, keadaan siaga atau jaga, dan operasi informasi tidak berjalan lancar. Kinerja kognitif membutuhkan perhatian, keadaan siaga, dan neurotransmitter untuk pengiriman informasi antar sel saraf.

Share
below article banner

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *