Penggunaan NAPZA dalam jangka waktu lama
Penggunaan NAPZA dalam jangka waktu lama menyebabkan zat NAPZA yang masuk ke dalam tubuh lebih banyak dan terjadi akumulasi obat sehingga zat NAPZA tertimbun dalam penyimpanan tubuh di hati, lapisan lemak, dan otot, padahal NAPZA jenis tertentu menyebabkan pengguna tidak ada hasrat untuk makan dan kebutuhan akan energi diperoleh dari tempat penyimpanan. Energi untuk kerja otak diperoleh dari simpanan yang ada di tempat penyimpanan. Apabila bahan yang disimpan adalah NAPZA maka yang akan beredar ke otak adalah juga NAPZA yang justru akan merusak sel saraf otak.
Berapa banyak suatu obat dapat menghasilkan efek tertentu bagi seseorang, misalnya berapa banyak obat aspirin yang harus diminum sehingga sakit kepala seseorang dapat sembuh? Berbicara mengenai jumlah obat yang harus diminum oleh sesorang adalah berbicara tentang dosis. Jika dosis ini sama jumlahnya bagi semua orang, maka masalah akan menjadi gampang. Yang terjadi adalah pada masing- masing orang memiliki ambang batas dosis yang berbeda-beda.
Agar suatu obat dapat berefek terapeutik, maka seorang ahli medis akan menghitung dosis efektif yang disesuaikan dengan berat badan, jenis kelamin, tingkat kesehatan, metabolisme, dan faktor yang lain. Dosis yang efektif adalah dosis yang dirujuk oleh dokter dapat menyebabkan efek terhadap populasi, misalnya “Effective Dose 50 (ED50)” adalah dosis itu efektif bagi 50 persen dari populasi. Adanya variasi mengenai dosis efektif, menjadi alasan mengapa seseorang tidak diijinkan menggunakan dosis yang efektif bagi orang lain. Oleh karena suatu dosis akan efektif bagi seseorang tetapi tidak bagi orang lain.
Sebaliknya terdapat dosis yang menyebabkan kefatalan bagi seseorang karena dosis yang dipakai adalah menyebabkan kematian atau kefatalan. Obat menyebabkan kefatalan karena suatu obat biasanya memiliki sejumlah efek samping tergantung pada berapa banyak obat yang dikonsumsi. Obat dalam dosis kecil dapat menimbulkan efek terapeutik namun jika dosis ditambah maka dapat menimbulkan efek samping yang membahayakan (Levy, 1984). Efek samping adalah efek suatu obat yang tidak diinginkan untuk tujuan terapi dengan dosis yang dianjurkan. Idealnya adalah obat bekerja dengan cepat, secara selektif dan untuk kurun waktu tertentu (Anief, 2002).
Penggunaan NAPZA secara ilegal tanpa ada pengertian mengenai dosis efektif dapat menyebabkan kefatalan karena pengguna NAPZA sering tidak menghitung dosis. Pengguna menggunakan dosis dengan istilah “paket”. Satu “paket” memiliki dosis yang bervariasi. Fatalitas dapat terjadi karena zat dapat mempengaruhi organ vital dan sistem saraf pusat. Over dosis NAPZA jenis hipnotik misalnya pil tidur atau NAPZA jenis depresan misalnya alkohol, dapat menyebabkan kematian. Psikoatif misalnya heroin, LSD, amfetamin dan lain-lain, adalah jenis NAPZA yang memiliki efek samping merugikan (Levy, 1984).
Pengulangan atau perpanjangan penggunaan NAPZA dapat menyebabkan efek yang tidak diharapkan, misalnya : (a) reaksi hipersensitif, yaitu reaksi alergik merupakan respon abnormal terhadap obat atau zat dimana seseorang sebelumnya telah kontak dengan obat atau zat NAPZA sehingga muncul suatu antibodi; (b) kumulasi, yaitu suatu fenomena pengumpulan zat dalam badan sebagai hasil pengulangan penggunaan NAPZA sehingga zat yang diekskresikan lebih lambat
dibanding dengan absorpsinya. Efek kumulasi ini dapat menyebabkan efek toksik; (c) toleransi, yaitu fenomena berkurangnya respon terhadap dosis yang sama dari napza. Toleransi yang terjadi berupa toleransi sekunder yaitu toleransi yang timbul setelah suatu obat digunakan untuk beberapa waktu, seseorang dapat menjadi kurang peka terhadap obat tersebut; (d) takhifilaksis, yaitu fenomena berkurangnya kecepatan respon terhadap aksi obat pada penggunaan pengulangan obat dalam dosis yang sama. Respon mula-mula tidak dapat diperoleh meskipun dosisnya diperbesar; (e) adiksi, merupakan gejala ketergantungan fisik dan psikis terhadap suatu obat. Adiksi biasanya terjadi pada penggunaan narkotik, kokain, dan ganja. Penggunaan jenis NAPZA ini menimbulkan efek euforia (rasa nyaman) yang kuat, segala kecemasan hilang dan memperbesar kemampuan akan berprestasi mental (Anief,
2002).
Jadi kaitan penggunaan NAPZA dalam jangka waktu lama terhadap kinerja kogitif adalah NAPZA mempengaruhi kerja sistem saraf. Dimana zat NAPZA menghambat ambilan kembali norepinefrin, serotonin, dan dopamin kembali ke terminal presinaps. Neurotransmitter tersebut berperan penting bagi eksitasi sel saraf pada pengiriman impuls. Jika jumlah neurotransmit tersebut membanjiri celah sinaps maka saraf pascasinaps tidak dapat dieksitasi, karena neurotransmitter mengeblok reseptor di saraf pascasinaps. Akibatnya aktivitas memberi perhatian, keadaan siaga atau jaga, dan operasi informasi tidak berjalan lancar. Kinerja kognitif membutuhkan perhatian, keadaan siaga, dan neurotransmitter untuk pengiriman informasi antar sel saraf.
Arabiyatuna Arabiyatuna
