Saturday, 18 April 2026
above article banner area

Penggunaan jenis-jenis NAPZA

 

Penggunaan jenis-jenis NAPZA

 

Aksi zat NAPZA terhadap otak (NIDA, 1998;  Fadem, 1994; O’Brien, 1994), diuraikan di bawah ini :

a.         Alkohol : zat yang terdapat dalam alkohol yaitu ethanol berpengaruh terhadap membran sel saraf, menghambat pertukara ion mengurangi eksitasi atau gugahan elektrik, sehingga menghambat sistem saraf pusat. Pada dosis rendah atau dua gelas dapat menyebabkan gangguan koordinasi dan berpikir. Pada bukan alkoholik jika konsentrasi alkohol dalam darah 0,40%-0,50%, dapat menyebabkan koma.  Alkohol mengganggu kemampuan sel untuk menyerap oksigen dan glukosa sehingga menyebabkan sel saraf mengalami malfungsi dan mati.  Akibatnya otak lambat laun mengalami kemunduran atau atropi pada alkoholik kronis.

b.         Golongan  opioid  :  morfin,  heroin,  methadone,  dan  codein:  menyebabkan euphoria yaitu perasaan nyaman, senang, dan bahagia yang sangat; menenangkan; mengurangi rasa sakit sehingga untuk analgesik; dan menekan sistem pernafasan.

 

 

 

 

 

 

 

 

1.

Heorin jika dipakai bersama dengan morfin maka akan semakin cepat zat

 

 

menembus blood-brain barrier sehingga mempercepat aksi dan euphoria.

 

 

Methadone merupakan sisntesis dari opioid yang berfungsi untuk menekan

 

 

efek withdrawl akibat penghentian pemakaian heroin, menurunkan euphoria.

 

 

Dapat menyebabkan toleransi dan ketergantungan secara fisik.

 

2.

 

Morfin  mengaktifkan  reseptor  opioid  di  ventral  tegmental  area,  necleus

 

 

 

accumbens, dan cerebral cortex sehingga menyebabkan sirkuit kenikmatan

 

 

 

dan perasaan menyenanglan, inilah terjadinya euphoria yang didikuti oleh

 

 

 

ketenangan.

 

c.

 

 

Golongan sedative : barbiturat, benzodiazepin : menyebabkan mengantuk dan

 

menurunkan ketajaman mental dan kesiagaan.

 

1. Barbiturat : dipakai sebagai obat tidur, untuk menenangkan, dan sebagai anastetik, beraksi pada sistem saraf pusat dengan cara memperlambat dan menurunkan  aktivitas  saraf  dalam  mengontrol  emosi,  pernafasan,  kerja jantung dan beberapa fungsi tubuh. Barbiturat menyebabkan tertekannya sistem  pernafasan  sehingga  sering  dipakai  untuk  alat  bunuh  diri.  Dalam jangka waktu satu hingga dua jam akan mencapai otak melalui pembuluh darah dan efeknya dirasa selama 24 hingga 48 jam.

2. Benzodiazepin : dipakai sebagai tranquilizers, sedatif, perileks otot, dan anastetik. Juga untuk mengatasi withdrawl akibat penghentian alkohol, menurunkan ketegangan dan kecemasan, menekan sistem saraf pusat dalam penagturan emosi dan sistem limbik.

 

 

 

 

 

 

 

d.         Amphetamin  :  adalah  termasuk  kelompok  stimulants,  misalnya  kokain, methamphetamin. Efeknya adalah meningkatkan aktivitas otak dan sumsum tulang belakang, mempercepat detak jantung dan aliran darah, serta mempengaruhi metabolisme.

1.   Amphetamin     beraksi     cepat,     menyebabkan     euphoria,     meningkatkan performance, meningkatkan ambang batas rasa sakit, menurunkan nafsu makan, dan meningkatkan libido seksual.

2.   Zat kimia metamphetamine hampir sama dengan neurotransmitter dopamine dan norepinephrine yang mempengaruhi kerja otak area nucleus accumbens, prefrontal cortex, striatum, dan otak yang mengurusi gerakan. Konsentrasi tinggi dari dopamin menyebabkan euphoria dan perasaan nikmat.

3.   Kokain : Kokain terutama mempengaruhi cortex prefrontal dan amygdala yang mengurusi memori dan belajar. Amygdala berhubungan dengan emosi yaitu aspek dari memori. Kokain menyebabkan euphoria yang intens dan diikuti oleh depresi akut, menyebabkan agresif, dan hiperseksual, gangguan judgement atau menilai.

e.         Marijuana : mengandung tetrahydrocannabinol (THC) yang menyebabkan euphoria,   relaks,   tertidur   sesaat   setelah   menggunakan   selama   beberapa   jam. Marijuana mengubah penyampaian pesan ke otak sehingga mempengaruhi sensasi persepsi, dan koordinasi. Pada dosis rendah menyebabkan gangguan memori dan aktivitas   motorik   yang   kompleks,   memperlambat   waktu   reaksi   dan   sensasi, menaikkan nafsu makan dan seksual. Pada dosis tinggi menyebabkan delusi, halusinasi,   paranoia,   kecemasan,   dan   menurunkan   fungsi   seksual.   Marijuana

 

 

mengaktifkan reseptor kanabiod di hippocampus sehingga mempengaruhi memori karena  THC  merusak  sel-sel  reseptor  kanabioid  di  hippocampus.  Hippocampus adalah bagian di otak yang bertanggung jawab terhadap memori.

f.          Halusinogen    :    LSD,   mescaline,    marijuana,    THC,   MDMA   (ecstasy). Halusinogen adalah zat yang bekerja pada sistem saraf pusat dan menyebabkan perubahan mood dan persepsi, yang bervariasi dari ilusi sensori hingga halusinasi, segera setelah diadministrasi ke dalam tubuh. Zat ini dapat meniru reaksi psikotik misalnya hilangnya kontak dengan realitas, halusinasi, mania, dan  schizophrenia, sehingga halusinogen sering disebut psychotomimetic drugs. Menyebabkan flashback yaitu seperti merasakan kembali halusinasi setelah satu bulan penggunaan terakhir. Pada penggunaan jangka panjang dapat menyebabkan kerusakan fungsi kognitif.

1.   Lysergic acid diethylamide (LSD) beraksi pada sistem saraf pusat terutama mengaktifkan reseptor serotonergik, sehingga serotonin diproduksi melebihi normal.  Akibatnya  adalah  emosi  menjadi  labil,  memperlambat  persepsi, delusi dan halusinasi visual. Efek LSD berlangsung selama 8-12 jam.

2. MDMA (ecstasy) strukturnya sama dengan amphetamin, menyebabkan serotonin diproduksi lebih banyak. MDMA merusak dan mengganggu saraf yang bersisi serotonin, menyebabkan halusinasi, kebingungan, depresi, gangguan tidur,  ketergantungan, kecemasan, dan paranoia.

3.   Phencyclidine  piperidine  (PCP).  Digunakan  dengan  cara  dihisap  seperti rokok atau marijuana. Menyebabkan fantasi dan euphoria, halusinasi visual dan pendengaran, mengubah body image, disorientasi waktu dan tempat. Penggunaan lebih dari 20 mg menyebabkan konvulsi, koma, dan kematian.

 

Efek PCP berlangsung berhari-hari dan dapat dideteksi dalam darah setelah satu minggu digunakan. Penggunaan jangka panjang menyebabkan hilangnya memori, perasaan lesu, dan menurunkan rentang perhatian.

Pengguna NAPZA   biasanya berusaha mendapatkan efek NAPZA secepat dan sehebat mungkin. Berbagai cara dilakukan sehingga mereka akan mengganti suatu jenis NAPZA, menambah dosis, atau mencampur zat NAPZA hingga diperoleh efek yang diinginkan. Penggunaan banyak jenis NAPZA maksudnya adalah penggunaan zat NAPZA satu atau lebih jenis NAPZA yang  dipakai secara berganti atau dicampur sehingga di dalam tubuhnya terdapat banyak jenis zat NAPZA yang beraksi dalam sistem saraf.

Resiko yang serius dan tidak terprediksi adalah adanya interaksi antara dua atau lebih jenis NAPZA. Bila dua jenis NAPZA saling berinteraksi, akan menyebabkan  efek  samping  yang  dapat  membahayakan  penggunanya.   Menurut Anief (2002), Laboratorium Farmakologi Fakultas Kedoketran Unsri (1994), dan Levy (1984),    penggunaan obat campuran atau bersama-sama dapat menimbulkan efek : (a) adisi, terjadi bila campuran obat atau obat-obat yang diberikan bersama- sama  menimbulkan  efek  yang  merupakan  jumlah  dari  efek  masing-masing  obat secara terpisah; (b)                            sinergis, terjadi bila campuran obat menimbulkan efek yang yang lebih besar dari jumlah efek masing-masing obat secara terpisah; (c) potensiasi, terjadi bila campuran obat menimbulkan efek yang lebih besar dari jumlah efek masing-masing obat secara terpisah; (d) antagonis, terjadi bila campuran obat menimbulkan efek yang berlawanan, efek suatu obat mengurangi efek obat yang lain;  (e)  inetraksi  obat,  yaitu  suatu  fenomena  yang  terjadi  bila  eefek  suatu  obat

 

 

dimodifikasi oleh obat lain yang tidak sama atau berbeda efeknya dan diberikan sebelum atau bersama-sama.

Pemberian suatu obat atau jenis NAPZA (misal jenis A) dapat mengubah efek obat lain atau jenis NAPZA lain (misal jenis B). Cara mengubah efek obat adalah dengan : (1) mengubah efek jenis B tanpa mempengaruhi konsentrasi di cairan jaringan, disebut interaksi farmakodinamik, atau (2) mengubah konsentrasi jenis B yang mencapai tempat kerja, disebut interaksi farmakokinetik.

Inetraksi farmakodinamik dapat terjadi dengan berbagai cara dan dapat mengakibatkan berkurang atau bertambahnya efek jenis B dengan adanya jenis A. Interaksi farmakokinetik terjadi pada fase-fase suatu jenis obat atau napza diproses secara  kinetik,      yaitu            fase                   absorpsi,       distribusi,              metabolisme,       dan    ekskresi (Laboratorium Farmakologi Fakultas Kedokteran Unsri , 1994).

Menurut Levy (1984), interaksi zat   terjadi melalui tiga cara : (1) bloking, yaitu suatu obat A menutup (mengeblock) efek menguntungkan dari obat B, (2) meningkatkan efek samping. Masing-maisng obat memiliki efek samping, misalnya jika aspirin diberikan bersama-sama dengan alkohol maka efeknya adalah ketagihan karena  spirin  meningkatkan  aliran  darah,  dan      (3)  sinergi,  yaitu  bila  dua  obat memiliki efek yang sama maka akan menghasilkan efek yang berlipat ganda. Obat satu ditambah satu belum tentu menjadi dua, tetapi dapat menyebabkan kefatalan. Misalnya menggunakan vallium dan obat antidepresi yang sama-sama menyebabkan ketenangan, namun  jika digunakan bersama akan menyebabkan kematian.

 

Share
below article banner

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *