Pola Asuh Demokratis
Diana Baumrind (dalam Conger, 1977; Hetheringthon, 1999, Lippe dan Skoe, 1998 dan Santrock, 1999) mengatakan bahwa pola asuh orangtua yang demokratis adalah orangtua yang memperlakukan remaja dengan memberikan kebebasan namun masih tetap diikuti dengan kontrol dari orangtua. Orangtua yang demokratis tidak bersifat mengekang dan membatasi, melainkan bersikap hangat dan penuh pengertian terhadap kebeutuhan-kebutuhan remaja, disisi lain ada proses memberi – menerima, yaitu komunikasi dua arah antara anak dan orangtua. Orangtua umumnya menginginkan remaja agar dapat berperilaku yang matang dan bertangung jawab. Remaja yang berada pada lingkungan pola asuh orangtua yang demokratis memiliki perkembangan harga diri, kemampuan beradaptasi yang baik, kompetensi interpersonal, kontrol diri yang bersifat internal, populer di dalam peer nya serta kecenderungan yang rendah terlibat perilaku anti sosial. Disiplin yang berasal dari pola asuh ini memberi kesempatan pada remaja untuk menjelajah lingkungannya dalam upaya memperoleh kompetensi interpersonal.
Di atas telah disebutkan bahwa pola asuh orangtua demokratis adalah mendukung tercapainya perkembangan emosi, kognisi dan perkembangan sosial yang sehat bagi remaja. Steinberg (2002) menyatakan bahwa ada tiga alasan mengapa pola asuh demokratis mendukung perkembangan yang sehat bagi remaja. Pertama, orangtua yang demokratis memberikan keseimbangan yang tepat antara pembatasan dan otonomi, memberikan kesempatan bagi remaja untuk mengembangkan kesadaran diri ketika orangtua mereka menyediakan
standar atau nilai-nilai yang diyakini, mengarahkan pada pentingnya perkembangan individualitas. Orangtua yang demokratis lebih memberikan kebebasan kepada remaja tahap demi tahap sampai mereka mencapai kedewasaan, yang mana hal tersebut membantu anak untuk mengembangkan kesadaran diri dan ke arah identitas ego. Model pengasuhan ini mempromosikan perkembangan kompetensi bagi remaja dan menjauhkan mereka dari kejadian-kejadian yang secara potensial berefek negatif pada remaja, seperti stres. Kedua, orangtua demokratis memberikan kesempatan kepada remaja untuk berbicara dan orangtua melibatkan remaja tersebut dalam diskusi. Model orangtua seperti ini mempromosikan perkembangan intelektual bagi remaja. Aturan-aturan di dalam keluarga, keputusan dan harapan yang diinginkan orangtua terhadap anak dijelaskan, cara ini sangat membantu anak dalam memahami sistem sosial dan hubungan sosial. Pemahaman ini justru sangat berperan penting dalam perkembangan kemampuan penalaran dan role taking. Ketiga, pola asuh demokratis didasarkan pada hubungan yang hangat antara orangtua dan anak, keadaan ini sangat membantu remaja dalam menemukan identitas egonya. Orangtua yang bersikap hangat sehingga remaja merasa dekat dan bersikap terbuka kepada orangtuanya. Adanya aturan dan nilai-nilai yang ditanamkan oleh orangtua kepada remaja sejak dini, sehingga dapat menghindarkan remaja tersebut untuk terlibat perilaku anti sosial.
Berdasarkan penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa ciri-ciri yang dimiliki oleh orangtua yang memiliki pola asuh demokratis adalah bersikap hangat kepada remaja, adanya jalinan komunikasi dua arah, yaitu antara
orangtua dan remaja, orangtua mendukung perkembangan individualitas remaja, adanya aturan dan kebebasan yang diberikan kepada remaja namun masih dalam kontrol orangtua.
Arabiyatuna Arabiyatuna
