Tuesday, 21 April 2026
above article banner area

Program Peningkatan Sumber Daya Manusia

Program Peningkatan Sumber Daya Manusia

Perubahan teknologi  yang semakin lama kian berkembang mengharuskan perusahaan memiliki sumber daya manusia dapat dilakukan dengan berbagai cara dan satu yang paling dominan  adalah faktor training.  Diketahui bahwa “Sebelum seorang pegawai baru dilatih  dalam organisasi  untuk suatu jabatan tertentu, ia harus disambut dengan baik sebagai seorang anggota baru dari organisasi tersebut  maka dari itu induksi merupakan bagian integral daripada proses latihan”.[1])

Sasaran daripada peningkatan  kualitas sumber daya manusia selain  seorang pegawai baru perlu juga diberikan pada “pekerja-pekerja yang agak sudah berusia yang sejak dahulu melakukan pekerjaan-pekerjaan rutin yang kini tidak  diperlukan lagi, harus dilatih untuk jabatan-jabatan yang masih berada dalam batas kapasitas mereka”.[2])

2.1.1    Program pelatihan Sumber Daya Manusia

Tujuan dari organisasi yang berbeda-beda mengharuskan adanya penyesuaian antara karyawan sebagai tenaga kerja dengan perusahaan atau instansi yang bersangkutan.  Program pelatihan dan pengembangan meliputi berbagai kegiatan yang menginformasikan pada pegawai atau tenaga kerja tentang kebijakan dari prosedur, mendidik mereka dalam keahlian pekerjaan dan mengembangkannya untuk kemajuan pada masa yang akan datang.

Dalam buku “Manajemen” oleh Gibson, Donelly  dan Ivancevich dikemukan bahwa “Pelatihan merupakan proses terus menerus untuk membantu pegawai  melaksanakan  tugas dengan baik sejak hari pertama mereka mulai  bekerja.  Pelatihan dirancang untuk meningkatkan keahlian seseorang  melakukan pekerjaannya sekarang.  baik pelatihan di tempat kerja atau di sebuah sarana pelatihan khusus, dimana harus diawasi  oleh pakar proses pendidikan”.[3])

Keefektifan  program  latihan sangat  dibutuhkan agar dapat mencapai  sejumlah sasaran  yang ingin dicapai  perusahaan.  Maka dari itu Gibson menge-mukakan bahwa :

 

  1. Harus didasarkan  atas kebutuhan oraganisasi  atau pribadi.
  2. Tujuan pelatihan harus menjelaskan  masalah-masalah yang akan dipecahkan.
  3. Seluruh pelatihan harus didasarkan atas teori-teori belajar yang dapat diandalkan”.[4])

Namun dalam buku manajemen  oleh Stoner,  Freeman, dan Gilbert dijelaskan bahwa “Melatih karyawan yang berpengalaman dapat  menimbulkan masalah, maka dari itu diperlukan empat  prosedur  untuk  menentukan kebutuhan pelatihan individual  dalam organisasi atau sub unit sebagai berikut :

  1. Penilaian Prestasi Kerja

Hasil kerja setiap orang dibandingkan  terhadap  standar prestasi  kerja atau tujuan yang ditentukan baginya.

  1. Analisis Persyaratan Pekerjaan

Ketrampilan atau pengetahuan yang ditentukan dalam uraian pekerjaan  secara memadai diperiksa dan karyawan tanpa ketrampilan atau pengetahuan  yang diperlukan menjadi calon program latihan.

  1. Analisis Organisasi

Keefektifan organisasi dan keberhasilan mencapai sasarannya dianalisis untuk  menentukan dimana terdapat perbedaan.

  1. Survei Karyawan 

Manager maupun bukan  manager diminta untuk menguraikan masalah yang mereka alami dalam pekerjaan dan tindakan apa yang mereka percaya diperlukan untuk mengatasinya”.[5]) 

 

Dari beberapa definisi mengenai arti pelatihan yang dikemukakan oleh beberapa ahli diatas,  dapat disimpulkan bahwa pelatihan sangat diperlukan oleh seorang karyawan dalam menunjang karirnya yang ditekuni selama bekerja dan juga dapat meningkatkan  pengetahuan dan ketrampilan serta disiplin yang diperlukan untuk melaksanakan  tugas-tugas  tertentu sehingga dapat  dicapai efisiensi dan efektivitas  kerja yang optimal yang dapat menentukan tingkat produktifitas kerja.

Sistem pelatihan yang baik dapat memberikan manfaat  bagi perusahaan  maupun karyawan yang bersangkutan.  Menurut Heidjrachman Ranupandojo dan Suad Husnan, tujuan pelatihan adalah untuk :

1.  Meningkatkan produktifitas

2.  Memperbaiki  moral

3.  Mengurangi beban pengawasan

4.  Mengurangi Kemungkinan terjadinya kecelakaan”.[6])



[1]) M. Moekijat, Managemen Kepegawaian, Cetakan ke-7, Bandung, 1989, hal 82.

[2]) Winardi, Personnel Managemen, Cetakan ke-3, 1977, hal 59.

 

[3]) Gibson, Donelly, Ivancevich, Managemen, Edisi Ke-9, Jilid ke-2, Erlangga, 1997, hal 103

[4]) Gibson, Donelly, Ivancevich, Op cit, hal 106

  

[5]) Stoner, Freeman, Gilbert, Manajemen, Edisi Bahasa Indonesia, Jilid II, PT Prehalindo, 1996, hal 83.

        [6]) Heidjrachman Ranupandojo, Suad Husnan , Op cit, Halaman 82

Share
below article banner

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *