Program Peningkatan Sumber Daya Manusia
Perubahan teknologi yang semakin lama kian berkembang mengharuskan perusahaan memiliki sumber daya manusia dapat dilakukan dengan berbagai cara dan satu yang paling dominan adalah faktor training. Diketahui bahwa “Sebelum seorang pegawai baru dilatih dalam organisasi untuk suatu jabatan tertentu, ia harus disambut dengan baik sebagai seorang anggota baru dari organisasi tersebut maka dari itu induksi merupakan bagian integral daripada proses latihan”.[1])
Sasaran daripada peningkatan kualitas sumber daya manusia selain seorang pegawai baru perlu juga diberikan pada “pekerja-pekerja yang agak sudah berusia yang sejak dahulu melakukan pekerjaan-pekerjaan rutin yang kini tidak diperlukan lagi, harus dilatih untuk jabatan-jabatan yang masih berada dalam batas kapasitas mereka”.[2])
2.1.1 Program pelatihan Sumber Daya Manusia
Tujuan dari organisasi yang berbeda-beda mengharuskan adanya penyesuaian antara karyawan sebagai tenaga kerja dengan perusahaan atau instansi yang bersangkutan. Program pelatihan dan pengembangan meliputi berbagai kegiatan yang menginformasikan pada pegawai atau tenaga kerja tentang kebijakan dari prosedur, mendidik mereka dalam keahlian pekerjaan dan mengembangkannya untuk kemajuan pada masa yang akan datang.
Dalam buku “Manajemen” oleh Gibson, Donelly dan Ivancevich dikemukan bahwa “Pelatihan merupakan proses terus menerus untuk membantu pegawai melaksanakan tugas dengan baik sejak hari pertama mereka mulai bekerja. Pelatihan dirancang untuk meningkatkan keahlian seseorang melakukan pekerjaannya sekarang. baik pelatihan di tempat kerja atau di sebuah sarana pelatihan khusus, dimana harus diawasi oleh pakar proses pendidikan”.[3])
Keefektifan program latihan sangat dibutuhkan agar dapat mencapai sejumlah sasaran yang ingin dicapai perusahaan. Maka dari itu Gibson menge-mukakan bahwa :
- Harus didasarkan atas kebutuhan oraganisasi atau pribadi.
- Tujuan pelatihan harus menjelaskan masalah-masalah yang akan dipecahkan.
- Seluruh pelatihan harus didasarkan atas teori-teori belajar yang dapat diandalkan”.[4])
Namun dalam buku manajemen oleh Stoner, Freeman, dan Gilbert dijelaskan bahwa “Melatih karyawan yang berpengalaman dapat menimbulkan masalah, maka dari itu diperlukan empat prosedur untuk menentukan kebutuhan pelatihan individual dalam organisasi atau sub unit sebagai berikut :
- Penilaian Prestasi Kerja
Hasil kerja setiap orang dibandingkan terhadap standar prestasi kerja atau tujuan yang ditentukan baginya.
- Analisis Persyaratan Pekerjaan
Ketrampilan atau pengetahuan yang ditentukan dalam uraian pekerjaan secara memadai diperiksa dan karyawan tanpa ketrampilan atau pengetahuan yang diperlukan menjadi calon program latihan.
- Analisis Organisasi
Keefektifan organisasi dan keberhasilan mencapai sasarannya dianalisis untuk menentukan dimana terdapat perbedaan.
- Survei Karyawan
Manager maupun bukan manager diminta untuk menguraikan masalah yang mereka alami dalam pekerjaan dan tindakan apa yang mereka percaya diperlukan untuk mengatasinya”.[5])
Dari beberapa definisi mengenai arti pelatihan yang dikemukakan oleh beberapa ahli diatas, dapat disimpulkan bahwa pelatihan sangat diperlukan oleh seorang karyawan dalam menunjang karirnya yang ditekuni selama bekerja dan juga dapat meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan serta disiplin yang diperlukan untuk melaksanakan tugas-tugas tertentu sehingga dapat dicapai efisiensi dan efektivitas kerja yang optimal yang dapat menentukan tingkat produktifitas kerja.
Sistem pelatihan yang baik dapat memberikan manfaat bagi perusahaan maupun karyawan yang bersangkutan. Menurut Heidjrachman Ranupandojo dan Suad Husnan, tujuan pelatihan adalah untuk :
1. Meningkatkan produktifitas
2. Memperbaiki moral
3. Mengurangi beban pengawasan
4. Mengurangi Kemungkinan terjadinya kecelakaan”.[6])
Arabiyatuna Arabiyatuna
