Teori Fungsionalisme Memaknai Perubahan
Pada praktiknya pemahaman tentang fungsionalisme struktural memiliki pengaruh yang signifikan pada perkembangan psikologi sosial. Dalam perkembanganya, teori Fungsionalisme struktural miliknya Marx Weber diadopsi dan direkontruksi oleh Talcolt Parson. Parson menggunakan teori ini untuk menjelaskan fenomena sosial. Teori ini beranggapan bahwa, peradaban manusia tak ubahnya seperti organisme manusia yang memiliki berbagai bagian yang saling berhubungan satu sama lainya. Masyarakat menurut Talcolt Parson juga memiliki kelembagaan yang saling terkait dan tergantung satu sama lainya. Setiap lembaga dalam masyarakat melaksanakan tugas
tertentu untuk stabilitas dan perubahan.38
Parson merumuskan istilah “fungsi pokok” (fungsional Imperatif).
Istilah ini digunakan untuk menggambarkan empat macam tugas utama yang
38 Munawir, Imam, Modernisasi di Indonesia dalam Jurnal Salam Edisi 1, tahun 1. 1997. hal. 35.
harus diakukan agar masyarakat tidak “mati”. Kita kenal dengan sebutan AGIL
(Adaptation to enveronment, Goal attainment, Inetegration, and Latency).39
Lembaga ekonomi melakukan fungsi adaptasi lingkungan, pemerintah bertugas untuk pencapaian tugas umum, lembaga hukum dan agama melakukan fungsi integrasi, sedangkan keluarga dan lembaga pendidikan berfungsi untuk usaha pembaharuan.40
Analogi dengan tubuh akan mendorong dan menggiring Parson
merumuskan Homesstatic equilibrum (keseimbangan dinamis stasioner). Artinya, masyarakat selalu mengalami perubahan akan tetapi secara evolutif dan teratur. Perubahan sosial yang terjadi pada suatu lembaga akan berakibat pada lembaga lain untuk mencapai keseimbangan baru.
Teori Fungsionalisme Tacolt Parson ini dalam pandangan Warsito (2001) bersifat konservatif, karena Parson beranggapan bahwa masyarakat selalu berada pada posisi yang harmonis, stabil, seimbang dan bersifat mapan. Sistem yang mapan seperti ini hanya dapat diperoleh dengan cara mengontrol laju informasi yang masuk kedalam masyarakat. Teori ini akan sulit untuk
mengatasi arus globalisasi dan kapitalisme lanjut.41
Menurut Parson, masyarakat tradisional biasanya memiliki kewajiban- kewajiban kekeluargaan, komunitas dan kesukuan, sementara masyarakat modern lebih bersifat individualistik. Masyarakat tradisional memandang penting status warisan dan bawaan (ascription), sebaliknya masyarakat modern
lebih memperhatikan prestasi (achivement). Masyarakat tradisional belum
39 Ritzer, George and Goodman Douglas, Teori Sosiologi Modern. (Jakarta: Prenada, 2004)
hal. 121.
40 Ibid. hal. 127-128.
41 Warsito, Op. cit. hal. 11.
merumuskan fungsi-fungsi kelembagaanya secara jelas (fungtionally diffused) sehingga mengakibatkan pola kerja yang tidak efisien, sebaliknya masyarakat modern telah merumuskan secara jelas tugas masing-masing kelembagaan.42
Parson dengan Mark Weber berbeda. Struktur sosial dalam perspektif
Weber, didefinisikan dalam istilah-istilah yang bersifat probabilistik dan bukan sebagai suatu kenyataan emipirik, akan tetapi terlepas dari individu-individu. Hubungan sosial seluruhnya dan secara ekslusif terjadi karena adanya probabilitas. Suatu kelas ekonomi menunjuk pada suatu kategori orang-orang yang memiliki kesempatan hidup yang sama seperti ditentukan oleh sumber- sumber ekonomi yang dapat dipasarkan.
Suatu keteraturan yang absah didasarkan pada kemungkinan bahwa seperangkat hubungan sosial akan diarahkan ke suatu kepercayaan akan validitas keteraturan itu. Realitas akhir yang menjadi dasar satuan-satuan sosial yang lebih adalah tindakan sosial individu dengan arti-arti subyektifnya. Karena orientasi subyektif individu mencakup kesadaran (tepat atau tidak) akan tindakan yang mungkin dan reaksi-reaksi yang mungkin dari orang lain, maka probabilitas-probabilitas ini mempunyai pengaruh terhadap tindakan sosial, baik sebagai sesuatu yang bersifat memaksa maupaun sebagai satu alat untuk mempermudah satu jenis tindakan daripada yang lainnya.
Arabiyatuna Arabiyatuna
