Friday, 8 May 2026
above article banner area

Discourse of Social Change

Discourse of Social Change

 

Psikologi  sosial  memiliki  kedekatan  dengan  ilmu-ilmu  sosial  yang lainya. Oleh karena itu dalam memahami perubahan sosial kita bisa mengambil beberapa pengertian ada pada ilmu sosial lainya. Diskursus tentang perubahan sosial  sangat  problematik.  Kata  Sosial  berasal  dari  kata  sosius  (latin)  yang berarti teman. Dalam keseharian kata sosial mengacu pada kehidupan bersama. Artinya  kata  sosial,  bermakna  pada  pada  suatu  kehidupan  bersama  yang

dijalani oleh dua orang atau lebih.31

 

Kehidupan antar dua orang atau lebih ini bisa meliputi kehidupan dalam keluarga,   hingga   dalam   hubungan   dengan   masyarakat   dan   bernegara. Perubahan  sosial  bisa  meliputi  perubahan  sikap,  perilaku,  pola  hubungan interaksi suami-istri, bisa juga pola hubungan kekerabatan atau pola hubungan antar keluarga pada suatu komunitas tertentu.32

Dalam  kenyataanya  proses  perubahan  sosial  selalu  digunakan  untuk

 

mengacu  pada  perubahan  yang  jauh  lebih  besar  dari  sekedar  pola  interaksi antar dua individu atau lebih. Seperti perubahan politik, dari sistem monarki

absolut menuju demokrasi parlementarian, perubahan ekonomi dari masyarakat

 

30  Cavallaro, David. Critical and Cultural Thematik Variation. (The Athlone Prees, London

& New Brunwick,  Nj, 2001)  p. 155-156.  Buku ini memberikan  penjelasan  secara filosofi  terkait tentang perkembangan  identitas.  Bagaimana  identitas dibentuk pada masa paradigma  rasionalisme yang ditandai dengan munculnya  Descartes dengan “Cogito ergo sum” hingga Postmodern  “tubuh tanpa organ” miliknya Giles Deluse dan Felix Guatari. Baca hal 155-192.

31 Gerungan. Psikologi Sosial cet. XV (Jakarta: PT Revika Aditama, 2002) hal. 168.

32   Lihat  dalam  Warsito,  Pergeseran  Sosial  Budaya  Masyaraat  Samin.  (Tesis  Magister

Universitas Muhamadiyah Malang. 2001) hal. 8.

 

 

 

 

agraris  menuju  masyarakat  industri,  perubahan  rasionalitas  dari  teosentris menuju pada antroposentris.  Perubahan besar ini seringkali dimaknai sebagai transformasi  masyarakat  tradisional  menuju  masyarakat  modern.  Pemilahan antara tradisional dan modern ini sekedar hanya ingin menjelaskan  perbedan

sistem regulasi antara masyarakat yang satu dengan masyarakat yang lain.33

 

Pemilahan yang seperti inilah yang akan memberikan gambaran tentang keberadaan masyarakat kota dan desa. Dalam kerangka yang lebih general, masyarakat desa tidak pernah lepas dari sebuah perubahan. Seperti yang diungkapkan   oleh   Aguste   Comte,   masyarakat   dengan   sendirinya   akan mengalami kemajuan. Perkembangan masyarakat itu secara evolutif menuju ke arah   pencerahan   yaitu   masyarakat   positivistik.   Dalam   kerangka   inilah sebenarnya masyarakat tidak pernah mengalami perubahan yang surut kebelakang.

Arus  perubahan  sosial  dalam  kerangka  Comte  bermula  dari Struktur pemerintahan                          kemudian     berangsur-angsur     menuju     wilayah     kultural. Pemerintah  memiliki pengertian tidak hanya penguasa, akan tetapi juga para aparatus   pemerintah.   Dalam   bahasa   Louis   Althusser   (1984)   apparatus

pemerintah ini disebut sebagai aparatus idiologi.34

 

Dengan demikian jelas bahwa perubahan sosial lebih mengacu pada perubahan  interaksi  antar agen-agen  sosial  yang  bisa dilihat  dari perubahan

mikro, yaitu hubungan antar pribadi yang bisa berlaku dan terjadi pada konteks

 

33   Hefner,  Robert.  Islam  Pasar  Keadilan  Artikulasi  Lokal,  Kapitalisme  Dan  Demokrasi, (Yogyakarta: LKiS, 2000) hal. 15-18.

34  Althusser  memberikan  penjelasan  tentang teori strukturasi  yang digagas oleh Marx, Dia

juga  memberikan   gambaran  tentang  bagaimana   pola  produksi  itu  di  sebarkan  lewat  struktur ekonomi.  Dalam bukunya,  Althusser  memberikan  penjelasan  bahwa perubahan  sosial bisa terjadi dengan  mengubah  pola  relasi  produksi.  Lihat    Althusser,  Luois,  Esay  On  Idiologi.  1984.  Terj, Tentang Idiologi Marxisme  Strukturalis,  Psikoanalisis,  Cultural  Studies. (Yogyakarta:  Jalalasutra,

2005) Hal. 4 – 25.

 

 

 

 

lingkungan   yang   lebih   luas   yang   melibatkan   interaksi   antar   individu. Sedangkan perubahan masyarakat lebih mengacu pada perubahan sistemik dan struktural. Perubahan masyarakat bisa kita gambarkan seperti bangunan yang memiliki kerangka penyangga dan susunan ruangan yang kompleks. Susunan masyarakat bukan dilihat sebagai akumulasi atau penjumlahan individu belaka, tetapi juga  dipandang  sebagai  hasil  relasi  dari institusi  nonpersonal.  Seperti relasi antara sistem politik, ekonomi, sosial, budaya dan lain sebagainya.

Perubahan-perubahan yang terjadi dalam masyarakat bisa bersifat progresif  maupun regresif, cepat atau lambat tegantung  bagaimana  kekuatan lokal menanggapi arus informasi dan globalisasi. Semakin masyarakat mampu untuk taat dan patuh terhadap norma dan aturan yang sudah ditetapkan oleh masyarakat  lokal,  maka  akan  semakin  lambat  proses  perubahanya.  Dalam rangka menghadapi perubahan, masyarakat cenderung untuk pro aktiv dan juga

bisa dengan resistensi degan cara negosiasi dan strategi.35

 

Perubahan sosial biasanya terjadi dalam struktur fungsional masyarakat. Oleh karena itu, perubahan sosial seringkali diartikan sebagai perubahan yang bersifat fundamental yang terjadi pada sistem sosial, struktur sosial, dan organisasi  sosial.  Dalam mengamati  perubahan sosial, ekonomi  dan budaya, para teoritis sosiologi menggunakan label dan kategori masyarakat lama yang

telah runtuh menjadi masyaraat baru yang terbentuk.

 

 

 

 

 

35   Pola  resistensi  ini  mengambil   dari  bahasanya  James  Scott  dalam  penelitianya   yang dilakukan  di Malasia  tentang  perlawanan  petani  terhadap  revolusi  hijau di asia tenggara.  Dalam esainya  itu  Scott  menggambarkan   tentang  pola  relasi  perlawanan  yang  dilakukan  dengan  cara sembunyi-sembunyi,  negosiasi   strategi,  dan  taktik.  Lihat  Scott,  James,  Senjata  Orang-Orang Kalah (Jakarta:  Obor, 2000)  hal. 157-165.  lihat juga esainya  Dick Hebdigd  dalam Barker,  Criss,

2000, Cultural Studies Teori and Practic, terj. Kreasi Wacana (Jakarta: Kreasi Wacana, 2004) Hal.

359.

 

 

 

 

Emile Durheim mengamatinya dengan melalui solidaritas mekanik dan organik, sedangkan Sorokin mengamatinya dengan perubahan struktur masyarakatnya,  sementara  Aguste  comte,  mengujinya  dengan  melihat  tiga tahapan  masyarakat  Eropa,  yaitu  tahap  teologis,  metafisik  dan  positifistik. Seperti  yang  diidealkan  Comte,  masyarakat  lain  akan  dengan  sendirinya menuju masyarakat positivistik seperti masyarakat yang berkembang di Eropa

saat itu.36

 

Perubahan sosial bisa terjadi secara internal dan eksternal. Dalam pandangan  Nurudin  Dkk37.  faktor  yang mendorong  perubahan  sosial  adalah sebagai berikut ;

a.  Terjadinya kontak dengan kebudayaan lain.

 

b. Makin   meningkatnya   tingkat   pendidikan   warga   masyarakat   sehingga mampu menyerap berbagai itervensi perubahan.

c.  Semakin  meningkatnya  penghargaan  yang diberikan  terhadap hasil karya pihak lain sehingga berupaya melepaskan diri dari keterbelakangan.

d. Makin  meningkatnya  aspek  toleransi  terhadap  pebuatan-perbuatan  yang dinilai menyimpang dari nilai-nilai dan norma yang berlaku. Hal ini merupakan indikasi adanya keinginan masyarakat untuk tidak mengikat norma-norma   dan   nilai-nilai   sosial   yang   mereka   nilai   tidak   mampu beradaptasi terhadap perkembangan yang terjadi.

e.  Adanya  stratifikasi  sosial  yang bersifat  terbuka  sehingga  memungkinkan

 

terjadinya interaksi sosial dan budaya satu dengan yang lainya.

 

 

 

 

36 Campbel, Tom, Tujuh Teori Sosial (Jakarta: Pustaka Filsafat, 1997) Hal. 54-80.

37     Nurudin    Dkk.   Agama   Tradisional:    Potret   Kearifan    Hidup   Masyarakat    Samin danTengger (Fisip UMM dan LKiS, 2003) Hal. 71-72.

 

 

 

 

f.  Adanya jumlah penduduk yang heterogen sehingga memungkinkan terjadi interaksi sosial dan budaya satu dengan yang lainya.

g. Adaya  ketidakpuasan  warga  masyarakat  terhadap  kondisi  atau  bidang- bidang tertentu dalam masyarakat yang dinilai menghambat perkembangan dan pembangunan masyarakat.

h. Makin meningkatnya intervensi teknologi informasi melalui media film dan televisi.

i.  Semakin    lancarnya    transportasi    dan    media    lainya    sehingga    bisa memperlacar perdagangan dan akan mempercepat arus perubahan.

Share
below article banner

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *