Wednesday, 24 July 2024
above article banner area

HAJI DAN UMROH

HAJI DAN UMROH

Bagas Sulih Pandu Widyaswara

210151610894

Fakultas Ilmu Pendidikan Univeritas Negeri Malang

panduwidyaswara@gmail.com

 

 

 

PEMBAHASAN

 

Islam merupakan agama yang membenarkan ajaran agama sebelumnya dan juga sangat memandang penting akhlak kepribadian. Islam memiliki tujuan mendidik, mencerdaskan, membina, dan membentuk akhlak manusia menjadi yang lebih baik. Dengan beribadah kepada Allah SWT maka tujuan tersebut bisa tercapai. Dalam Islam ibadah banyak macamnya mulai dari sholat, mengaji, berdzikir, sampai haji dan umroh.

Haji merupakan rukun Islam kelima setelah sahadat, sholat, zakat, dan puasa. Dalam pelaksanaannya, haji dapat dilakukan apabila sudah mampu, maksudnya jika sudah memiliki niat dan uang yang cukup untuk berangkat ke Baitullah dan juga memiliki bekal untuk keluarga dirumah. Dan ibadah haji dapat dilakukan kapan saja asalkan bukan pada bulan zulhijah. Sama seperti haji, umrah pun juga dapat dilakukan kapan  saja kecuali di bulan zulhijah. Umrah juga merupakan ibadah yang baik dilakukan karena memerlukan pengorbanan untuk melaksanakannya, mulai dari tenaga, pikiran, dan harta. Melaksanakan ibadah haji adalah kewajiban atau keharusan bagi umat yang memiliki akal, pikiran, dan juga memiliki kemampuan.

Pengertian haji secara etimologis berasal dari qashdu (maksud, niat, menyengaja), sedangkan kata umrah berarti ziarah. Secara terminologis, haji adalah ialah bermaksud (menyengaja) menuju Baitullah dengan cara dan waktu yang telah ditentukan. Dari pengertian tersebut dapat dipahami bahwa haji dan umrah adalah untuk melakukan kewajiban ziarah ke Baitullah karena Allah (QS. Al-Baqarah [2]: 196).

Haji adalah kegiatan menuju suatu tempat yang suci secara berulang-ulang, dalalm Islam haji yang dimaksud adalah datang ke Baitullah. Meskipun hampir sama dengan umroh tapi keduanya memiliki berbagai perbedaan  mulai dari waktu pelaksanaan, durasi perjalanan, biaya yang dikeluarkan, sampai gelar yang didapatkan.

Ibadah haji di samping napak tilas Nabi Ibrahim as. sekaligus sebagai tamu Allah akan terikat dengan protokoler . Tamu-tamu yang hadir diminta untuk memakai pakaian ihram, thawaf, sa’i, wukuf di Arafah, menyembelih kurban, melempar jumrah dan lain-lain.

Ibadah umrah memang sekilas sangat mirip dengan ibadah haji, namun tetap saja umrah bukan ibadah haji. Kalau dirinci lebih jauh, umrah adalah haji kecil, dimana sebagian ritual haji dikerjakan di dalam ibadah umrah. Sehingga boleh dikatakan bahwa ibadah umrah adalah ibadah haji yang dikurangi

Untuk membedakan haji dan umroh bisa dilihat dari waktu pelaksanaannya, umroh dapat dilaksanakan kapan saja bahkan setahun bisa dilakukan beberapa kali. Sedangkan haji hanya dilakukan dalam musim haji saja atau setahun sekali.

Lama perjalanan juga dapat membedakan keduanya, umroh hanya memerlukan waktu sekitar 9 sampai 15 hari saja. Berbeda dengan haji yang memakan waktu cukup lama yaitu sekitar 1 bulan.

Biaya yang dikeluarkan untuk beribadah pun berbeda jumlahnya, ibadah haji memerlukan biaya yang lebih besar ketimbang umroh. Selisih tersebut bisa mencapai 2 sampai 3 kali lipat dari biaya umroh. Pada 2021 biaya haji reguler mengalami kenaikan mencapai 44,3 juta rupiah, bagi yang menunggu 11-39 tahun. Sedangkan biaya haji plus pada tahun 2021 mencapai 156 juta – 180 juta rupiah, bagi yang menunggu 5 – 7 tahun.

Gelar jika telah melaksanakan kedua ibadah tersebut juga berbeda, kalau sudah melakukan ibadah haji maka akan diberi gelar haji bagi laki-laki, dan gelar hajjah untuk perempuan. Sedangkan jika telah melaksanakan ibadah umroh tidak ada gelarnya.

Orang-orang yang wajib menjalankan haji dan Umroh itu hanyalah yang memenuhi syarat-syarat yaitu: Islam (beragama Islam merupa-kan syarat mutlak bagi orang yang akan melaksanakan ibadah haji dan umrah. Karena itu orang-orang kafir tidak mempunyai kewa-jiban haji dan umrah. Demikian pula orang yang murtad), berakal (yaitu wajib bagi orang yang bisa membedakan yang mana kebaikan dan yang mana keburukan), baligh (bagi laki-laki yaitu sudah pernah berimpi basah atau umur lebih 15 tahun dan bagi perempuan sudah keluar darah haid.

Anak kecil tidak wajib haji dan umrah. Sebagaimana dikatakan oleh nabi Muhammad s.a.w. “Kalam dibebaskan dari mencatat atas anak kecil sampai ia menjadi baligh, orang tidur sampai ia bangun, dan orang yang gila sampai ia sembuh”), merdeka (yaitu tidak menjadi budak orang lain.

Budak tidak wajib melakukan ibadah haji karena ia bertugas melakukan kewajiban yang dibebankan oleh tuannya. Padahal menunaikan ibadah haji memerlukan waktu. D isamping itu budak itu termasuk orang yang tidak mampu dari segi biaya, waktu dan lain-lain), mampu atau kuasa (artinya yaitu mampu dalam perjalanan, mampu harta, dan mampu badan atau sehat jasmani dan rohani)

Rukun haji adalah kegiatan-kegiatan yang apabila tidak dikerjakan, maka hajinya dianggap batal. Berbeda dengan wajib Haji, wajib Haji adalah suatu perbuatan yang perlu dikerjakan, namun wajib Haji ini tidak menentukan sah nya suatu ibadah haji, apabila wajib haji tidak dikerjakan maka wajib digantinya dengan dam (denda). Rukun haji ada enam, yaitu:

  1. Ihram (Berniat)

Ihram adalah berniat mengerjakan Haji atau Umrah bahkan keduanya sekaligus, Ihram wajib dimulai miqatnya, baik miqat zamani maupun miqat makani. Sunnah sebelum memulai ihram diantarnya adalah mandi, menggunakan wewangian pada tubuh dan rambut, mencukur kumis dan memotong kuku. Untuk pakaian ihram bagi laki-laki dan perempuan berbeda, untuk laki-laki berupa pakaian yang tidak dijahit dan tidak bertutup kepala, sedangkan perempuan seperti halnya shalat (tertutup semua kecuali muka dan telapak tangan).

  1. Wukuf di arafah

Waktu wukuf adalah tanggal 9 dzulhijjah pada waktu dzuhur, setiap seorang yang Haji wajib baginya untuk berada di padang Arafah pada waktu tersebut. Wukuf adalah rukun penting dalam Haji, jika wukuf tidak dilaksanakan dengan alasan apapun, maka Hajinya dinyatakan tidak sah dan harus diulang pada waktu berikutnya. Pada waktu wukuf disunnah-kan untuk memperbanyak istighfar, zikir, dan doa untuk kepentingan diri sendiri maupun orang banyak, dengan mengangkat kedua tangan dan menghadap kiblat.

  1. Tawaf ifadah

Tawaf ifadah adalah mengelilingi Kabah sebanyak 7 kali dengan syarat: suci dari hadas dan najis baik badan maupun pakaian, menutup aurat, kakbah berada di sebelah kiri orang yang mengelilinginya, memulai tawaf dari arah hajar aswad (batu hitam) yang terletak di salah satu pojok di luar Kabah. Macam-macam tawaf itu sendiri ada lima macam yaitu tawaf qudum, ifadah, sunah, nazar, wada.

  1. Sa’i

Sa’i adalah lari-lari kecil atau jalan cepat antara Safa dan Marwa. Sai dilakukan dengan syarat dimulai dari bukit safa dan diakhiri di bukit marwa, dilakukan sebanyak 7 kali, melakukan sa’i setelah tawaf qudum.

  1. Tahalul

Tahalul adalah mencukur atau menggunting rambut sedikitnya tiga helai. Pihak yang menga-takan bercukur sebagai rukun haji, beralasan karena tidak dapat diganti dengan penyem-belihan.

  1. Tertib

Maksudnya semua rukun haji harus dilakukan berurutan.

 

Ibadah haji adalah safar ruhani menuju Allah. Sebagai tamu-tamu Allah harus menjaga adab-adab batiniyah. Imam al-Ghazali menyebutkan ada beberapa etika dalam berhaji, di antaranya adalah:

  1. Berhaji dengan harta yang halal.
  2. Tidak boros dalam membelanjakan hartanya untuk makan dan minum.
  3. Meninggalkan segala macam akhlak yang tercela.
  4. Memperbanyak berjalan.
  5. Berpakaian sederhana.
  6. Bersabar ketika menerima musibah. (Rakhmat, 1999.6. hal. 180).

Setelah memenuhi adab dan etika haji, sebagai tamu Allah perlu mengetahui makna dari prosesi haji. Makna prosesi haji demikian indah dan sangat dalam maknanya, sebagaimana nasehat Imam Junaid, seorang sufi terkenal dari Baqhad. Suatu hari, datanglah seorang laki-laki ke hadapan Imam Junaid al-Bagdadi, “Dari manakah anda?” tanya Junaid kepadanya. “Aku baru saja melakukan ibadah haji.” Jawabnya. “Ketika pertama kali melangkahkan kaki meninggalkan rumahmu, apakah engkau juga telah meninggalkan semua dosamu?” “Tidak,” jawab sang lelaki. “Berarti engkau “tidak mengadakan perjalanan.

Pada hakikatnya ibadah haji merupakan suatu tindak mujahadah (upaya jiwa yang sungguh-sungguh) untuk memeperoleh kesadaran musyahadah (penyaksian). Yakni proses kegigihan seorang hamba mengunjungi Baitullah sebagai sarana dan upaya bertemu (liqa’) dengan Tuhan. Mujahadah sebagai sarana penghubung seorang hamba untuk bertemu dengan Tuhan. Berpakaian ihram, thawaf, sa’i dan melempar jumrah adalah sebagai sarana yang mengantarkan seorang hamba menuju Tuhannya. Sedangkan musyahadah sebagai titik orientasi dari segala prosesi tersebut, yakni tercapainya kondisi percintaan (hubb) antara hamba dengan Sang Khalik. Ketika musyahadah tercapai, maka yang terlihat di segala penjuru yang ada adalah “wajah” Tuhan. Dalam perspektif sufi kekuatan ke-aku-an akan lebur dalam ke-Maha-hadir-an Tuhan. Simbol-simbol tidak lagi menjadi penting dan puji-pujian manusia tidak lagi bermakna.

Maka tujuan esensial haji bukanlah mengunjungi Ka’bah, tetapi memperoleh musyahadah sebagaimana yang dikatakan oleh para sufi. Dalam pandangan kaum sufi, boleh jadi ada yang melihat ka’bah, wukuf, sa’i dan sebagainya namun tidak mencapai makna haji. Yang sama Tuhan di Makkah, bagaikan berkunjung ke rumah yang tidak berpenghuni. Dan yang tidak berkunjung ke rumah Tuhan, tetapi merasakan kehadiran-Nya, maka Tuhan telah mengunjungi rumahnya.

Menunaikan ibadah haji tidak cukup dicapai hanya dengan pergi ke Makkah. Namun aksi-aksi yang memberikan makna dan manfaat praktis bagi kehidupan umat manusia jauh lebih penting. Jika ada orang yang berkali-kali menunaikan ibadah haji ke Makkah, tetapi dalam dirinya tidak terjadi proses transformasi nilai-nilai religius artinya ia belum menunaikan panggilan Tuhan. Proses mujahadahnya ke Mekkah belum memberikan bekas sedikitpun dalam perilaku kehidupannya.

Di sinilah perlu digaris bawahi bahwa keberhasilan ibadah haji bukan dilihat dari berapa kalinya seseorang menunaikannya dan bukan pula simbol atau gelar haji atau hajjah yang disandangnya, namun ditentukan oleh kesadaran musyahadahnya kepada Tuhan. Karena musyahadah inilah yang akan membentuk visi kemanusiaan, keadilan dan solidaritas sosial. Dengan melakukan ibadah haji mestinya mampu membersihkan dari unsur-unsur duniawi dan membangunnya di atas batin yang tulus. Haji yang demikianlah yang pantas mendapat gelar haji yang mabrur, haji yang berhasil melakukan musyahadah dengan Tuhan dan mampu memberikan kebaikaan (birr), menaburkan kedamaian di muka bumi. Maka pantaslah surga sebagai balasannya.

Share
below article banner

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *