Kegiatan apa saja, baik pada skala pribadi, organisasi, atau negara pasti menggunakan anggaran. Tanpa ketersediaan anggaran, maka kegiatan tidak akan bisa dilaksanakan. Oleh karena itu, anggaran dianggap sangat penting. Bahkan, besar kecilnya jumlah anggaran dijadikan ukuran kemajuan atau besar kecilnya program kegiatan yang akan dilaksanakan.
Pandangan seperti itu, menjadikan anggaran sebagai sesuatu yang selalu diperebutkan. Berbagai cara dilakukan orang, organisasi atau instansi pemerintah, agar anggaran setiap tahunnya selalu naik. Tidak boleh ada kesalahan sedikitpun hingga anggaran menjadi turun. Jika itu terjadi, maka kegiatan akan berkurang. Demikian pula semangat kerja, prestise lembaga, dan lain-lain akan menurun oleh karena anggarannya merosotnya. Besar kecilnya anggaran juga seringkali dijadikan tolok ukur kemajuan organisasi atau lembaga pemerintah. Berpikir tentang anggaran memang penting, apalagi bagi lembaga yang diharapkan menjadi semakin maju. Akan tetapi jika hal itu dilakukan secara berlebihan, maka juga tidak akan selalu menguntungkan semua aspeknya. Besarnya anggaran menuntut tanggung jawab yang semakin berat. Pemegang anggaran harus bisa mempertanggung jawabkan amanah itu. Pada kenyataannya, tidak semua orang memiliki kemampuan untuk mengelola sejumlah anggaran yang melebihi batas kesanggupannya. Banyaknya orang tersangkut korupsi, manipulasi, dan kemudian dipenjara adalah oleh karena kesalahan dalam mengelola anggaran. Korupsi selalu terkait dengan penyimpangan uang. Maka artinya, tidak semua pejabat mampu mengelola dan menjaga anggaran yang dipercayakan kepadanya. Banyak orang, ——–entah alasan apa, menyimpangkan anggaran untuk kegiatan yang bukan semestinya. Kasus terakhir yang menimpa seorang politikus, bernama Nazaruddin hingga akhirnya menjadi buron, adalah karena kesalahan dalam mengelola anggaran. Akibatnya, banyak orang dekatnya, terancam menjadi tertuduh dan bahkan bisa meningkat, menjadi tersangka. Anggaran memang perlu, tetapi sekaligus juga membahayakan. Selain itu, akhir-akhir ini tidak sedikit pejabat, mulai dari kepala desa, camat, bupati, wali kota, gubernur, anggota DPRD, DPR, mantan menteri, direktur bank, jaksa, hakim, BUMN, dan lain-lain menjadi tersangka dan masuk penjara, adalah disebabkan oleh penyimpangan anggaran. Oleh karena itu, anggaran menjadi sesuatu yang membahayakan keselamatan siapa saja, termasuk para pejabat pemerintah. Padahal siapapun yang terkena kasus penyimpangan anggaran dan kemudian dijebloskan ke penjara, maka harkat dan martabatnya menjadi jatuh serendah-rendahnya. Kepercayaan terhadap orang yang telah dipenjara oleh sebab korupsi akan hilang. Seseorang yang dikenal sebagai koruptor, dan apalagi telah dipenjara akan memiliki citra diri yang buruk. Sama-sama dipenjara, tetapi kalau kasusnya adalah politik, yaitu mempertahankan ideology misalnya, maka yang bersangkutan masih akan dihormati orang. Oleh karena itu, salah satu alternative cara untuk mengatasi agar tidak terjadi kasus-kasus yang memalukan, ——para pejabat masuk penjara, maka diperlukan reorientasi kepemimpinan. Pemimpin hendaknya tidak terlalu berpikir tentang anggaran, sekalipun itu adalah perlu, dan menentukan. Organisasi dan bahkan pemerintah sehari-hari, mestinya diarahkan, tidak saja berpikir tentang anggaran, dana, atau uang, melainkan seharusnya lebih banyak berpikir dan bicara tentang cita-cita, idealisme, dan atau gambaran masa depan yang lebih mulia. Terkait dengan itu, saya pernah mendapatkan nasehat dari seorang yang saya anggap arif, mengatakan bahwa, jangan terlalu banyak berpikir tentang uang, harta, dan apalagi makanan. Sebab tatkala seseorang berpikir tentang itu, maka martabatnya akan sama dengan anggaran, uang dan atau harta itu. Bahkan, ——–masih kata seorang arif tersebut, seseorang yang selalu berpikir tentang harta, maka martabatnya akan sama dengan harta, uang, atau makanan yang telah membusuk, menjadi kotoran. Orang arif tersebut memandang bahwa, sebatas memikirkan saja tentang harta sudah dianggap rendah. Pemimpin yang berorientasi pada gaji, imbalan, dan fasilitas, pada kenyataannya memang benar, sebagaimana disebut oleh seorang arif tersebut, martabatnya menjadi hilang dan rakyat yang dipimpin juga tidak akan menghormatinya. Pemimpin tersebut akan dikritik, diprotes dan juga diolok-olok sepanjang waktu. Oleh karena itu, berpikir anggaran adalah penting, tetapi jika forsinya terlalu banyak, justru akan menurunkan harkan dan martabatnya. Pemimpin harus lebih banyak berbicara tentang hal-hal yang lebih mulia atau adhiluhung. Jika akhir-akhir ini, pembicaraan tentang Pancasila saja melemah, maka bisa jadi, hal itu disebabkan oleh karena, kebanyakan pemimpin terlalu sibuk berbicara tentang anggaran, uang dan fasilitas. Mungkin, mereka berpandangan bahwa, semakin banyak anggaran maka persoalan bangsa akan terselesaikan. Padahal kenyataannya tidak selalu demikian. Semakin banyak anggaran, jika tidak diikuti oleh sikap amanah, maka akan semakin banyak orang tenggelam dan menyimpang, sehingga akhirnya masuk ke penjara. Kecukupan anggaran adalah penting, tetapi pikiran dan jiwa siapapun tidak boleh terbelenggu oleh anggaran. Wallahu a’lam.
Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo
Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang
Arabiyatuna Arabiyatuna
