Saturday, 18 April 2026
above article banner area

Antrian Panjang TKW di Bandara Soekarno-Hatta

Pada 1- 6 Desember 2020, saya bersama Sekjen, Dirjen Bimas Islam, Kepala Biro Kerjasama Kementerian Agama, dan Rektor UIN Malang berangkat ke Moskow, Russia, untuk menghadiri Konferensi Internasonal tentang Teologi Islam yang diselenggarakan oleh Universitas Islam Russia dengan rute penerbangan Surabaya-Jakarta-Singapura-Moskow. Ketika check in di pemberangkatan internasional di bandara Soekarono-Hatta, saya menyaksikan antrian panjang Tenaga Kerja Wanita (TKW) yang dipandu oleh  seorang petugas (mungkin dari PJTKI) untuk mengisi  dokumen keimigrasian. Saya tidak tahu ke mana TKW itu akan pergi. Tetapi dari pakaian yang dikenakan, semua berjilbab, saya yakin para TKW itu akan diperkerjakan ke negara-negara Timur Tengah. Sambil mengisi dokumen, mereka bersenda gurau dengan teman-temannya dan umumnya tampak ceria. Tampak ada optimisme bahwa dengan bekerja di luar negeri mereka akan mampu memperbaiki kehidupan. Tetapi saya melihat ada beberapa di antara mereka yang terdiam sambil matanya menerawang jauh. Mungkin yang kelompok ini berpikir bagaimana keadaan di tempat kerja nanti, keluarga yang ditinggalkan, apa pekerjaannya, bagaimana majikannya dan sebagainya.

Yang saya pikirkan ketika melihat pemandangan tersebut ialah kendati berita tentang kekerasan terhadap TKW kita yang bekerja di Saudi Arabia begitu ramai di tanah air akhir-akhir ini menyusul penyiksaan Sumiati, TKW asal NTB yang mengalami penyiksaan majikannya, minat menjadi TKW di Timur Tengah tidak menurun. Tampaknya, tidak ada pengaruh antara derasnya berita pemberitaan media tentang kekerasan TKW dengan minat menjadi TKW. Apa maknanya? Bekerja untuk mencari nafkah merupakan kebutuhan dasar manusia yang sangat vital. Karena itu, apa dan bagaimana pun rintangannya, para pencari kerja itu seolah tidak menggubris berbagai kisah memilukan yang menimpa rekan-rekan mereka selama ini. Sebab, tidak sedikit pula kisah suskes para TKW yang berhasil memperbaiki nasib mereka dan keluarganya. Sebut saja Ani, adalah kisah salah sukses seorang TKW di sebuah desa kecil di wilayah Kabupaten Ponorogo. Keluarga Ani tinggal di sebuah desa yang sangat  gersang, dikelilingi bukit  gunung yang gundul karena setiap pohon yang mulai tumbuh ditebang warga untuk berbagai keperluan. Uraian berikut adalah hasil obrolan saya dengan salah seorang warga desa tetangga  Ani di sebuah kesempatan. Berbekal ijazah SMA, Ani nekad mencari penghidupan ke Hongkong melalui jasa salah seorang pegawai sebuah PJTKI. Ani sebenarnya sempat bermimpi bisa kuliah sebagaimana teman-teman seusianya yang beruntung, karena memiliki keluarga yang sanggup  membiayai kuliah. Tetapi jangankan kuliah, lulus hingga SMA saja bagi Ani sudah untung. Itu pun dilaluinya dengan susah payah. Setelah keinginan untuk kuliah tidak mungkin terpenuhi, Ani menyampaikan keinginannya kepada semua anggota  keluarganya untuk bekerja dengan menjadi TKW. Mendengar keinginan Ani semua anggota keluarganya bagaikan tersambar petir. Semua menolak. Sebagaimana warga desa pada umumnya yang masih kolot, keluarga Ani tampaknya masih memegang filsafat Jawa ‘mangan gak mangan asal ngupul’. Artinya, walau sama-sama gak makan asal semua bisa berkumpul. Ani menerobos tradisi semacam itu. Kendati semua anggota keluarganya melarang karena di desa itu belum pernah ada seorang yang bekerja di luar negeri, tekad Ani sangat kuat. Ani tidak sanggup hidup di desa kelahirannya, karena memang tidak ada pekerjaan. Orangtuanya yang hanya bekerja sebagai buruh tani, dengan sawah di kanan kiri rumahnya yang hanya beberapa meter luasnya membuat Ani pesimis bisa memiliki kehidupan yang lebih baik di desanya. Selain kedua orangtuanya miskin, kondisi geografis desanya memang tidak menjanjikan. Daerah itu memiliki curah hujan sangat sedikit, sehingga gersang. Akibatnya, penghasilan dari bertani tidak bisa diharapkan. Kehidupan warga hanya ditopang dengan hasil memelihara ternak kambing dan sapi dan mencari kayu bakar di hutan. Dengan berat hati Ani meninggalkan desa kelahirannya. Selama tiga tahun Ani bekerja di luar negeri sebagai pembantu rumah tangga. Dia bekerja dengan tekun dan mampu memuaskan majikannya. Ani bersyukur karena memperoleh majikan yang baik. Dia diperlakukan dengan baik dan memperoleh  gaji sesuai yang dijanjikan. Ani bekerja selama tiga tahun di keluarga tersebut. Selama tiga tahun juga Ani  belum sekalipun pulang kampung. Uang hasil bekerjanya dikumpulkan untuk bekal kehidupan kelak. Ani hemat dan dapat mengatur irama kehidupan dengan tidak ikut-ikutan berhura-hura sebagaimana beberapa TKW lainnya. Setelah kontrak selama tiga tahun habis, Ani pulang dengan membawa uang hasil bekerjanya. Uang itu dipakai memperbaiki rumah orangtuanya, membeli beberapa perabot dan sawah warga yang dijual. Berita sukses Ani sebagai TKW segera menyebar ke warga desa yang lain. Banyak warga sekitar ingin meniru jejak suksesnya. Dalam waktu tidak lama Ani pergi lagi menjadi TKW dan memperoleh kontrak dengan majikan yang baru. Kisah Ani bagaikan sebuah legenda sukses yang mengilhami semangat warga lain untuk menjadi TKW sebagaimana antrian panjang yang saya saksikan di bandara Soekarno-Hatta tersebut. Persoalannya adalah apa semua TKW bisa seperti Ani yang sukses itu? Keberhasilan Ani tidak bisa dilepaskan dari semangat kuat untuk bekerja dengan baik, perusahaan yang mengirimkannya, majikan yang baik, dan tentu nasib baik. Mata rantai dari kegagalan TKW umumnya bertumpu pada tindak kekerasan oleh majikan, gaji  yang  tidak dibayar sesuai kontrak, pelecehan seksual, dan tindak kriminal. Namun demikian, jika diperhatikan ada benang merah yang bisa ditarik, yakni kelemahan manajemen atau pengelolaan ketenagakerjaan kita. Sebagai negara pengirim TKW dan TKI terbesar di dunia sudah sangat mendesak bagi Indonesia untuk memiliki sistem pengelolaan pengiriman tenaga kerja yang handal, yang meliputi kompetensi dasar TKW/TKI, perlindungan hak dan kewajiban, sistem pembayaran gaji, perlindungan keselamatan fisik dan psikis, kredibiltas perusahaan pengirim, kerjasama secara intensif dengan kantor-kentor perwakilan RI di tempat TKW/TKI bekerja untuk memantau dan melindungi mereka. Berat memang. Tetapi  ini harus dilakukan oleh pemerintah  jika memang berkomitmen kuat memberikan pelayanan yang baik kepada seluruh warganya, termasuk TKW/TKI. Mereka tidak memerlukan gelar dan pujian sebagai ‘pahlawan devisa’. Dalam penerbangan Jakarta-Singapura-Moskow saya menulis artikel ini sekaligus merenung kalau-kalau para TKW yang saya saksikan itu tidak bisa mengikuti jejak Ani sebagai TKW sukses. Sebagai warga bangsa, saya sungguh tidak ingin ada warga negera kita yang memperoleh perlakukan tidak manusiawi di negeri orang. TKW/TKI adalah  warga negara dan manusia yang sama dengan kita yang kebetulan tidak menjadi TKW/TKI. Mereka memiliki perasaan sebagaimana kita. Mereka memerlukan perhatian, dan penghormatan sebagaimana anak bangsa yang lain. Menjadi TKW bukan kehilangan  martabat dan kehormatan. Di era yang semakin mengglobal ini bekerja di negeri orang merupakan hal biasa. Yang menjadi tidak biasa adalah ketika hak-hak para TKW diambil oleh lembaga-lembaga yang mengirimnya.

Penulis : Prof DR. H. Mudjia Rahardjo

Pembantu Rektor I Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

Share
below article banner

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *