Sunday, 31 May 2026
above article banner area

Catatan Perjalanan ke Russia (1)

Sebagaimana saya tulis  pada artikel sebelumnya, pada 1-6 Desember 2010 saya berada di Russia untuk menghadiri Konferensi Internasional tentang Teologi Islam bersama Rektor UIN Malang, Sekjen, Dirjen Bimas Islam, dan Kepala Biro Hukum dan Kerjasama Internasional Kementerian Agama RI. Ini merupakan kunjungan saya yang pertama  ke Russia. Rasa ingin tahu saya tentang Russia sudah mulai muncul sejak pesawat Singapore Airlines yang membawa kami meninggalkan bandara Soekarno-Hatta pada pukul 19.20 WIB dengan waktu penerbangan selama 12 jam dan mendarat di bandara internasional Domodedovo, Moskow sekitar pukul 08.45 waktu setempat. Itulah pertama kali dalam hidup saya menginjakkan kaki di tanah sebuah negara mantan raksasa dunia secara militer yang di saat Uni Soviet masih utuh merupakan musuh bebuyutan Amerika Serikat dan sekutunya. Dulu masyarakat dunia mengenal istilah peran dingin (cold war) untuk menggambarkan betapa Barat yang dipelopori Amerika Serikat berhadap-hadapan dengan Uni Soviet dengan saling mengintip, menghardik, dan memperluas pengaruhnya ke negara-negara anggota masing-masing. Dunia seolah di ambang perang secara fisik, karena masing-masing pihak berlomba mengenai kecanggihan senjata militer. Gambaran sebagai negara adidaya militer masih sangat terasa saat ini dengan melihat banyaknya tank-tank raksasa yang dijadikan museum.

Kami dijemput oleh beberapa staf KBRI dan diberitahu bahwa suhu udara saat itu mencapai  minus 16 derajat Celcius. Karena itu, begitu keluar dari bandara kami harus segera masuk mobil yang sudah siap. Bagi orang yang biasa hidup di daerah tropis seperti Indonesia, suhu udara hingga mencapai minus 16 derajat merupakan persoalan tersendiri. Ternyata benar bahwa ketika keluar dari bandara menuju mobil KBRI yang hanya berjarak beberapa meter saja kami merasa sangat kedinginan luar biasa hingga menggigil. Salju mulai turun dan merupakan pemandangan tersendiri bagi kami yang hidup di negara tropis. Dari bandara, kami langsung menuju ke tempat konferensi di hotel Golden Ring, Moskow karena waktu sudah sangat mepet sehingga tidak sempat ke hotel yang sudah disiapkan. Dalam perjalanan kurang lebih tiga puluh menit menuju hotel tempat konferensi, saya merasakan kota Moskow yang menduduki kota terbesar ke tujuh di dunia dengan jumlah penduduk 10.562.099 juta jiwa itu memang didesain dengan sangat matang dan melalui perhitungan jauh ke depan. Buktinya sarana publik seperti gedung-gedung pemerintahan, stasiun kereta api, bandar udara dibangun dengan ukuran sangat besar. Malah jalan-jalan utama lebarnya hingga mencapai 90 meter dengan sembilan jalur kendaraan mobil, sehingga tidak menimbulkan kemacetan seperti di kota-kota besar lainnya. Menurut informasi teman KBRI jalan-jalan di Moskow bisa sangat lebar karena ketika Russia masih menjadi bagian dari Uni Soviet menggunakan sistem politik sosialisme komunisme semua aset milik pemerintah, sehingga dengan mudah bagi pemerintah memanfaatkannya untuk kepentingan umum. Dalam sistem sosialis komunis hak atau kepemilikan pribadi dibatasi. Semua keperluan masyarakat diatur oleh negara. Jam sudah menunjukkan pukul 10.00 waktu setempat ketika kami tiba di hotel. Kami disambut oleh panitia konferensi dan dibawa masuk ruang sidang. Konferensi sudah berlangsung dan seorang pembicara dari Syiria sedang membacakan makalahnya di podium. Secara berurutan pembicara dari negara-negara lain juga mennyampaikan makalahnya. Secara umum mereka menyampaikan kegelisahan mengenai peran umat Islam di dunia baik di bidang ekonomi, politik, dan ilmu pengetahuan yang tertinggal jauh dari umat yang beragama lain. Semua sepakat bahwa harus diadakan reformulasi mengenai pendidikan Islam secara mendasar sehingga mampu mengikuti perkembangan jaman. Pada sesi itu pula, mewakili pemerintah Indonesia Sekretaris Jenderal Kementerian Agama RI, Bahrul Hayat, Ph.D., menyampaikan pandangannya mengenai posisi agama dan umat Islam di Indonesia. Pada sesi siang tiba giliran Rektor UIN Malang juga menyampaikan pokok-pokok pikirannya dari sisi pengalaman mengembangkan pendidikan Islam, khususnya di tingkat pendidikan tinggi. Pada pukul 12.30 waktu setempat, konferensi berhenti untuk sholat dan makan siang. Pada saat makan siang di sebuah ruang hotel, kami bertemu dengan para delegasi lain dari berbagai negara. Masing-masing menyampaikan pandangan dan pengalamannya tentang pendidikan Islam di negara masing-masing.  Menariknya, semua delegasi mengenal Indonesia dengan baik, dan berharap Indonesia bisa menjadi kiblat pendidikan Islam yang mampu mengembalikan kejayaan Islam. Sebab, Indonesia merupakan negara dengan jumlah penduduk muslim terbesar di dunia, sehingga wajar jika banyak harapan ditumpukan pada Indonesia. Tepat pukul 13.30 konferensi dimulai lagi. Masing-masing delegasi memaparkan pokok-pokok pikirannya sekitar 10 menit dan berlangsung hingga pukul 17.00. Sebelum menuju hotel tempat menginap, seluruh delegasi diundang panitia untuk makan. Karena sangat lapar, dengan lahap saya makan menu yang disediakan, yang semuanya ala Russia. Tetapi semua dijamin halal. Usai makan, kami mengunjungi Pusat Kebudayaan Islam Russia. Kami dilayani oleh dua orang staf yang menjelaskan tentang ide, dan perkembangan pusat kebudayaan tersebut. semua penjelasan disampaikan dalam bahasa Russia. Untung kami dipandu oleh staf KBRI, Mas Enjay Diana, yang sangat fasih berbahasa Russia. Usai kunjugan tersebut, kami menuju hotel Belgrad yang tidak jauh dari tempat konferensi. Karena sangat capek setelah dua hari perjalanan tanpa istirahat, setelah masuk hotel kami langsung tidur dan besuknya pukul 05.00 kami harus sudah siap berangkat ke Kazan, ibukota Tatarstan untuk berkunjung ke Islamic University of Russia. Tatarsan adalah salah satu negara bagian dengan Kazan sebagai ibu kotanya. Lebih dari 50 % penduduk Tatarstan beragama Islam. Banyak masjid dibangun di daerah ini. Seperti juga di Moskow, di Kazan sarana-sarana  umum pada umumnya juga berukuran besar dan lebar. Tujuan utama kami ke Kazan adalah untuk mengunjungi Universitas Islam Russia dan memberikan kuliah umum di depan mahasiswa. Secara bergantian, Sekjen Kemenag, Rektor UIN Malang, dan Dirjen Bimas Islam memberikan orasi ilmiah. Tampak sekali antusiasme para mahasiswa untuk mengetahui Islam lebih mendalam. Usai acara di Universitas islam Russia tersebut kami menjalankan sholat jum’at di masjid Kul Sharif yang tidak jauh dari lokasi Universitas. Masjid berukuran besar itu penuh diisi jama’ah, sehingga kami tidak merasakan sedang berada di sebuah negara tempat komunisme dunia berasal. Khotbahnya cukup panjang dan disampaikan dalam bahasa Russia. Secara umum dari ayat-ayat yang dibaca, khotbahnya berisi konsep dasar Islam sebagai agama rahmatan lil alamin dan pentingya umat islam di seluruh dunia saling membantu dan kerjasama di berbagai bidang kehidupan. Melihat wajah dan perawakan kami yang berbeda dengan jama’ah pada umumnya, beberapa jama’ah menyapa kami dan langsung menanyakan apakah kami dari dari Indonesia. Rupanya nama Indonesia sangat mereka kenal, sebagai negara dengan jumlah penduduk muslim terbesar di dunia. Ketika saya bertanya kepada salah seorang staf KBRI ternyata benar bahwa sejak Uni Soviet runtuh negara-negara bekas Uni Soviet semakin terbuka sebagaimana masyarakat dunia lainnya. Interaksi dengan negara lain di bidang perdagangan, sosial budaya, dan politik semakin terbuka, tidak seperti di jaman Uni Soviet yang tertutup. Setelah melaksanakan sholat jum’at, kami melihat Kremlin Kazan. Saya sempat terkejut ketika diberitahu staf KBRI bahwa kita akan menuju Kremlin Kazan. Sebab, setahu saya Kremlin berada di Moskow. Ternyata ‘kremlin’ dalam bahasa Russia artinya ‘benteng’. Jadi di Russia ada banyak ‘kremlin’, termasuk yang di Moskow yang dikenal sebagai Lapangan Merah Kremlin, tempat Presiden dan Perdana Menteri Russia menjalankan roda pemerintahan. Setelah melihat-lihat Kremlin Kazan, kami menuju Kantor Majelis Muslim Republik Tatarstan, semacam MUI di Indonesia,  untuk menemui Ketua Majelis. Sayang sang Ketua sedang sakit dan dirawat di rumah sakit sehingga kami ditemui wakilnya dan salah seorang staf. Pertemuan di Majelis Muslim tersebut cukup lama dan diskusi mulai perkembangan Islam di Tatarstan dan Russia pada umumnya, peran Majelis dalam  kehidupan masyarakat Tatarstan, pendidikan, sarana ibadah, hingga peran pemerintah Federal Russia terhadap keberadaan muslim di Tatarstan. Yang menarik adalah pemerintah Russia memberikan dorongan dan dukungan terhadap perkembangan Islam, termasuk pendidikan Islam dan lembaga-lembaga keagamaan Islam. Perlu diketahui saat ini di seluruh Russia terdapat tujuh Universitas Islam, walau semuanya masih berstatus swasta dan memperoleh pendanaan dari para donatur. Ini berbalik seratus derajat dengan kondisi di jaman Uni Soviet dulu di mana kehidupan agama diberangus dan tempat-tempat ibadah dihancurkan, sehingga masyarakat menjalankan syariat agama dengan cara sembunyi-sembunyi. Karena itu, di negara-negara bagian yang berbasis Islam, seperti Tatarstan, Chehnya, Kaukasus Islam tumbuh dan diperkirakan dalam waktu 25 tahun yang akan datang jumlah umat islam  di Russia bisa mencapai 50% dari keseluruhan jumlah penduduk. Ini disebabkan warga non-muslim mengalami angka pertumbuhan nol, tetapi masyarakat muslim tumbuh secara normal. Menurut informasi penyebab utama angka pertumbuhan penduduk nol adalah banyaknya kematian di kalangan masyarakat usia produktif karena narkoba dan para tenaga profesional tidak mau mempunyai anak, alias single parents, karena beaya hidup yang sangat tinggi dan beranak dianggap menghambat karier. Karena dalam Islam penggunaan narkoba dilarang dan karenanya harus dihindari dan anak adalah amanah, maka masyarakat muslim dari sisi populasi terus berkembang. Beralihnya haluan pemerintah Russia tidak lepas dari jumlah umat Islam di Russia saat ini yang sudah mencapai angka 23 juta, (kurang lebih 5,5 %), dan merupakan jumlah kedua setelah Kristen Ortodoks yang mencapai 71,8%, serta pergolakan di negara-negara bagian yang mayoritas penduduknya beragama Islam. Mereka tidak bisa diredam lewat tekanan militer, tetapi melalui pendekatan diplomasi dengan cara dirangkul dan diajak berperanserta dalam pembangunan negara. Tampaknya strategi ini cukup berhasil. Islam dan masyarakat muslim telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Russia secara keseluruhan. Tidak mengherankan beberapa pejabat tinggi negara yang beragama Islam sudah mulai tampil di arena politk Russia (bersambung)!.

Penulis : Prof DR. H. Mudjia Rahardjo

Pembantu Rektor I Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

Share
below article banner

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *